Selamat datang di Minangkabau
Alkisah tersebutlah Sang Iskandar Zulkarnain yang perkasa
Yang memerintah di tiga benua, raja dari semua raja
Zulkarnain beroleh tiga orang putra
Si sulung bernama Maharaja Alif, Maharaja Dipang yang kedua
Dan si bungsu Maharaja Diraja
Ketiganya berkelana menjelajah semesta
Karena mahkota yang jatuh ke laut
Dibelit ular bidai dalam kelam kabut
Hanya Ceti Bilang Pandai yang tiada kalut
Bermacam cara ada diturut
Namun mahkota tak kunjung terebut
Tipu muslihat pun mulai disebut
Dengan Cermin Terus yang terang benderang
Denting perkakas kerja seribu tukang
Emas, perak, tembaga dituang
Intan, permata, baiduri dikarang
Jadilah mahkota baru pengganti yang hilang
Namun sayang seribu sayang
Meminta tumbal seribu orang
Agar tiada ricuh di hari belakang
Maharaja Diraja mendusin dari lena
Tergucang jiwa melihat mahkota
Tergerak tangan mengangkat ke kepala
Mahkota terpasang, dua saudara terjaga
Maharaja Alif pitam
Maharaja Dipang berwajah kelam
Jung ditetak patah tiga
Satu kembali ke puncak benua
Satu terus ke negeri Cina
Maharaja Diraja berlayar ke Swarnadwipa
Di Minangkabau dia bertahta
(Dari berbagai sumber)
Di jagad raya ini ada dua jenis manusia pandai. Yang pertama adalah mereka yang dianugerahi bakat luar biasa dan yang kedua adalah mereka yang menempa diri melalui latihan mahaberat. Aku adalah gabungan dari keduanya. Namaku Nila Alang Babega, keturunan langsung Sang Nila Utama atau yang lebih dikenal dengan gelar Sang Sapurba.
Duduklah baik-baik sementara aku menceritakan kisahku.
____________________________________________________________________________
Aku meneguk habis sisa nira manis dalam gelas bambu. Ini bagian dari kemewahan yang kudapat sejak menjadi pengawal usaha dagang Rangkayo Bakaluang Ameh. Sepekan yang lalu, ketika sedang melintas di bagian pasar tempat para saudagar membariskan kereta dagang mereka, aku mememergoki beberapa pencuri sedang mengambil barang dalam salah satu kereta dagangnya. Awalnya aku tidak tahu kalau mereka itu adalah pencuri. Tindak tanduk mereka sama sekali tidak mengesankan bahwa keenam orang itu sedang berusaha mengangkangi barang milik orang lain dengan cara tidak patut. Langkahku terhenti ketika terdengar suara parau makian dari dalam kereta yang membuat para pencuri terlonjak dan kabur! Seorang lelaki setengah umur meloncat keluar kereta, sedikit terhuyung seperti orang yang tetiba terbangun dari tidur. Kurasa dia memang sedang tidur saat keretanya dicongkel.
"Mana mereka?!", sentaknya ke arahku.
Aku menunjuk ke enam arah berbeda, Lelaki itu tampak ragu mau mengejar ke arah mana.
"Tolong aku tangkap mereka!", teriaknya sambil lalri ke arah pasar yang penuh sesak. Entah apa yang dipikirkannya sehingga dia menarik kesimpulan akan lebih mudah menemukan seorang pencuri dalam lautan manusia.
Aku tidak sedang terburu-buru, ditambah rasa kasihan dan sedikit terhibur karena kepanikan lelaki itu, kuputuskan untuk membantunya. Masalah mudah, amat sangat mudah sebenarnya. Karena sudah lazim buat para pencuri untuk berkumpul kembali setelah selesai beraksi, maka tinggal kuikuti salah seorang yang lari ke arah perahu-perahu ditambatkan. Ah, aku lupa menyebutkan bahwa aku sekarang ada di negeri Pariaman. Tadi menjelang matahari terbit aku menginjakkan kaki di pantainya, diantar oleh kakak lelakiku yang saat ini tentunya sudah sampai kembali di rumah kami. DIa menyuruhku menemui dua orang dan memberikan bantuan pada kedua orang itu. Permasalahannya, aku sama sekali belum pernah keluar dari pulau tempat aku lahir dan besar, konon lagi bertemu dengan orang ini.
Pencuri yang kuikuti menyelinap ke belakang bangunan setengah rubuh tempat nelayan meletakkan beberapa dayung dan jala rusak. Dia tampak gelisah, berkali kali dia mengintip ke arah pasar. Seperti yang kuduga, satu persatu teman-temannya muncul dan bergabung. Kecuali satu orang, kuat dugaanku dia adalah yang dikejar oleh si lelaki pemilik kereta.
"Itu Cogaik!", seru salah seorang sambil menunjuk ke depan.
Si pencuri yang bernama Cogaik tampak sedang mengendap-endap di balik beberapa bendi, menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu lari seperti kucing dibawakan lidi menuju ke markas kumpulannya. Mendadak aku merasa iba saat kulihat si pemilik kereta lari ke arah lain. Para pencuri ini berhasil mengakali orang malang itu.
Keenam orang itu belum sempat menyambut Cogaik saat aku muncul di hadapan mereka, Cogaik yang kelihatan sudah mau putus napasnya sehabis berlari mungkin mengira dia pingsan karena kehabisan nafas. Yang sebenarnya adalah dia pingsan setelah kutepuk tengkuknya.
"Kalian semua ikut denganku."
Lima pencuri lainnya mungkin tidak paham kenapa mereka semua pingsan. Mereka kumasukkan ke dalam jala lalu kuseret di sepanjang jalan berbatu kasar menuju kereta si saudagar malam, Pulas sekali mereka dalam pingsannya sampai tidak merasakan tajamnya ujung bebatuan. Tidak kupedulikan tatapan bingung orang-orang sepanjang jalan menuju kereta. Di dekat kereta kulihat sudah ada lima orang lelaki sedang mengelilingi si pemilik kereta. Tampaknya mereka sedang membicarakan pencurian yang baru saja dialami salah seorang kawannya. Percakapan mereka terhenti saat melihatku mendekat sambil menyeret jala berisi manusia.
"Ini pencuri yang kau cari", ujarku sambil melemparkan jala ke hadapan si saudagar. Dia kaget sampai meloncat mundur, nyaris menabrak kereta. "Mereka belum sempat berbagi hasil ketika kutangkap. Aku juga belum menggeledah mereka, jadi apapun yang mereka curi tentunya masih ada di badan."
Keenam saudagar itu masih berdiam diri, tampak antara terkejut dan bingung. "Mereka berenam, kalian juga berenam. Kalau nanti mereka bisa lari, jumlah kalian cukup untuk mengejar. Sebenarnya mereka punya tempat sembunyi di dekat perahu-perahu sana. Orang-orang pandir ini kalau pun bisa lari tentu akan kembali lagi ke tempat itu."
Enam saudagar itu tertawa, mungkin mendengar aku menyebut kata pandir. Aku baru melangkah ketika salah seorang memanggil. Orang ini potongannya lebih cocok jadi petarung ketimbang saudagar. Tubuhnya tegap, langkahnya mantap. Dia menghormat sebelum bicara, cara menghormat seorang petarung.
"Pertama kami ucapkan terima kasih atas bantuan sanak menangkap para pencuri ini. Entah apa jadinya kalau harta induk semang kami berhasil dilarikan mereka."
Ternyata begitu rupanya. Keenam orang ini bukan saudagar seperti dugaanku semula, melainkan semacam pembantu .
"Saya hanya kebetulan melintas. Kalau bukan saya, tentu ada orang lain yang akan membantu."
"Sanak ini hendak kemanakah?"
Tugasku adalah rahasia. Lagipula aku tidak berkewajiban menjelaskan apa pun pada mereka.
"Saya tidak punya tujuan tetap..."
Aku baru sadar itu adalah jawaban yang kurang bijak ketika pembantu yang paling tua mendadak berkata, "Kalau begitu ikutlah dengan kami! Rangkayo tentunya akan senang mempekerjakanmu."
Rekan-rekannya terkejut dan menatap si tua dengan pandangan kurang yakin. Si Tua berusaha meyakinkan si tegap dengan tatapannya.
"Bujang, kau tentu bisa melihat makan tangan anak ini."
Kurang ajar, aku dianggap anak-anak.
"Tenanglah, Tuo. Belum tentu sanak ini mau ikut dengan kita", kata si tegap yang bernama Bujang. "Maafkan kami, sanak. Biarlah saya bantu meluruskan. Kami ini adalah pengawal usaha dagang Rangkayo Bakaluang Ameh dari Bungus. Kalau saya tak salah menilai, sanak tentulah orang baru di Pariaman ini."
"Benar", jawabku. "Saya dari pulau Siguntur".
Aku tahu mereka belum pernah mendengar nama pulau tempat tinggalku. Di dunia ini hanya beberapa orang saja yang tahu keberadaan pulau Siguntur. Keenam orang pengawal ini cukup tahu sopan santun untuk tidak bertanya lebih jauh mengenai tempat asalku.
"Nama saya Bujang Kirai. Ini adalah Tuo Balam, dia yang mengepalai rombongan kami. Yang itu Sapar Cimuak", tunjuknya ke arah pengawal yang tadi ketiduran dalam kereta. "Dia itu Busra Kalek, di sampingnya Madi Gapuak dan yang paling ujung namanya Tiar Sunguik."
Ciri khas orang Minang adalah menyematkan julukan setelah nama karena nama banyak yang sama. Hal ini memudahkan untuk mengingat dan mengenali seseorang.
"Jadi bagaimana, mau kau ikut?", sambar Tuo Balam.
Aku diberi bekal oleh kakakku untuk melaksanakan tugasku. Aku tahu siapa yang kucari, masalahnya aku tidak tahu cara sampai ke tempatnya. Aku bisa saja berputar-putar mengelilingi negeri ini selama beberapa bulan sebelum sampai ke hadapan dua orang itu, Bekalku saat ini hanya cukup untuk tiga pekan, empat kalau aku berhemat. Jelas tidak mungkin aku pulang ke pulau untuk minta tambahan bekal. Kalau aku bergabung dengan orang-orang ini, itu berarti ada jaminan perbekalan jangka panjang. Sisi buruknya, aku mungkin akan semakin lama menuntaskan tugasku.
Tapi mungkin juga tidak. Saudagar menjual barang dagangan mereka ke seluruh pelosok negeri. Ada kemungkinan Rangkayo Bakaluang Ameh juga berjualan ke negeri tempat dua orang itu tinggal. Semoga saja.
"Apakah kalian tidak mau tahu namaku?"
Bujang Kirai menyeringai. "Mari kita berkenalan sambil minum air tebu."
Rombongan itu ternyata sudah empat hari ada di Pariaman. Mereka genapkan sepekan karena menunggu satu kapal yang akan masuk dari seberang. Setelah kejadian itu, tidak ada lagi yang berani mendekati kereta-kereta dagang Rangkayo Bakaluang Ameh. Seluruhnya ada empat kereta besar-besar yang kini hampir penuh muatan, Keesokan harinya seluruh kereta sudah sarat dengan muatan. Tuo Balam menyampaikan bahwa besok pagi kami akan bertolak kembali ke Bungus.
Malamnya kami para pengawal duduk minum nira manis di langkan penginapan. Tiba-tiba Tuo Balam muncul di tangga dari lantai dua. Ada sehelai surat di tangannya, air muka orang tua itu kelihatan jengkel. Langkah kakinya menghentak-hentak saat turun, untung tidak ada orang lain di sana selain kami.
“Ada apa?”, tanya Bujang Kirai.
“Kita diperintahkan berputar balik menuju Parak Karambia”, jawab Tuo Balam sambil menarik kursi. “Rangkayo Tuan memerintahkan kita menjemput Rangkayo Gadih disana.”
Rangkayo Gadih adalah sebutan untuk putri hartawan atau bangsawan. Lima orang pengawal lain terkekeh saat mendengar berita ini. Aku tidak paham kenapa mereka terkekeh jadi yang kulakukan adalah meminta segelas nira manis lagi. Tuo Balam memesan segelas untuk dirinya lalu menyerahkan surat itu kepada Bujang Kirai.
“Apakah hanya perasaanku saja atau memang kalian tidak suka menuju Parak Karambia?", tanyaku sekadar untuk ikut bergabung dalam pembicaraan.
Semua menatapku seolah aku ini orang paling pandir di alam semesta.
“Anak baru", kata Busra Kalek. "Pasang telinga baik-baik dan perhatikan..."
"Mungkin yang kau maksud adalah dengarkan, karena di tempatku telinga untuk mendengar, mata untuk memerhatikan", ujarku sopan.
Madi Gapuak terbahak, perutnya bergetar seperti gempa bumi kecil.
"Jangan sok pintar!", tukas Busra Kalek.
"Tapi kalau orang Bungus biasa melihat dengan telinga, silakan saja."
Makin keras tawa Madi Gapuak, sampai-sampai aku berpikir penginapan ini bisa bergoyang kalau dia tertawa sedikit lebih keras lagi. Para pengawal yang lain berusaha menyembunyikan tawa mereka dengan meminum nira manis.
"Kami sama seperti yang lain", kata Bujang Kirai sambil mengembalikan surat kepada Tuo Balam. “Dengar, kau belum sepekan ikut dengan kami. Kuminta kau mau sedikit bersabar kalau ada sedikit kejadian yang... agak tidak menyenangkan dalam pekerjaan kita."
Aku hanya mengangkat bahu. "Sejauh ini pekerjaan kita cukup menyenangkan."
"Kau tunggulah sampai besok", ujar Busra Kalek, berusaha terdengar seram. Tapi dia malah terdengar seperti sedang menahan buang air.
Tuo Balam meneguk sedikit isi gelasnya lalu melipat surat itu dan menyimpannya di balik baju. “Aku lebih memilih disuruh mengantar muatan ke Sungaingiang ketimbang mengantar jemput Rangkayo Gadih. Dia itu masalah. Semua yang kita lakukan selalu salah di matanya. Terakhir aku menjemputnya, dia menjerit-jerit karena jalanan terlalu berbatu. Kubilang, bukan aku yang mengurus pembuatan jalan. Itu urusannya Datuk Indomo.”
“Akibatnya Tuo Balam disemprot sepanjang perjalanan”, kata Sapar Cimuak. “Dari Padang Panjang ke Bungus bukan jarak yang dekat. Kalaulah kata-kata Rangkayo Gadih itu jarum, barangkali sudah tak berbentuk Tuo Balam kita ini saat sampai di rumah.”
Kami tertawa sedangkan Tuo Balam memberengut.
“Apa kata Rangkayo Tuan?”, tanyaku.
“Kami tidak mengadu. Sudah biasa”, kata Tiar Sunguik muram.
“Kurasa sebenarnya Rangkayo Gadih cuma jengkel”, ujar Madi Gapuak. “Makanya dia mudah sekali marah.”
"Aku juga bisa jengkel kalau berkereta di jalan buruk sehari semalam", ujarku.
Para pengawal serentak menatapku lekat-lekat sehingga aku merasa agak tidak enak.
“Apa ada yang salah dengan kata-kataku?”
Bujang Kirai menghela nafas panjang. "Beri tahu dia, Tuo. Supaya dia tidak balas memaki kalau dimaki oleh Rangkayo Gadih."
Tuo Balam meneguk minumannya lalu menatapku lekat-lekat.
"Beberapa bulan yang lalu Rangkayo Carano Perak datang berkunjung ke rumah Rangkayo Tuan. Mereka berdua adalah kawan akrab sejak muda, sama-sama saudagar dan keduanya sama-sama berhasil. Rangkayo Carano Perak membawa serta keluarganya, termasuk putranya, Rangkayo Kijang Mudo. Anak muda bonggeng…”
“Bercerita saja lah, Tuo, tidak perlu kau tambahi dengan pendapat pribadi.”
“Aku sedang bercerita”, tukas Tuo Balam. “Dan Kijang Mudo memang bonggeng! Sangat wajar kalau Rangkayo Gadih menolaknya. Tapi si pandir ini…”
Serentak kami semua tertawa. Sejak pertama kali mendengar aku menyebutkan kata pandir, mereka semua menggunakannya dalam berbagai kesempatan dan selalu tertawa kalau mendengar ada yang mengucapkannya.
“Si pandir ini”, lanjut Tuo Balam. “dia tidak peduli. Sekarang dia membuka usaha ukiran kayu di Bungus dan setiap hari selalu ada kotak berukir, bingkai cermin atau hiasan dinding yang dikirimkannya ke rumah Rangkayo Tuan. Benar-benar pandir.”
Kami tertawa lagi.
“Dia juga datang setiap hari”, sambung Sapar Cimuak. “Tidak peduli meski kami sudah muak melihatnya.”
“Kalian tahu”, kataku sungguh-sungguh. “Gila masih bisa disembuhkan, tapi pandir… jangan harap. Itu aib sejak lahir.”
Mereka terpingkal-pingkal mendengar kata-kataku.
“Dengar, buyung”, kata Tuo Balam terengah-engah. “Kalau nanti Rangkayo Gadih memaki-maki dirimu, jangan kau balas. Kasihanilah dia, setiap hari harus menahan perasaan.”
“Ah, si pandir ini akan ternganga saat melihat Rangkayo Gadih”, kata Busra Kalek.
“Kenapa aku akan ternganga?”
“Karena Rangkayo Gadih sangat cantik.”
“Begini”, sambung Bujang Kirai sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. “Dia bayang-bayangnya Puti Bungsu.”
“Berarti dia hitam”, kataku ringan. “Suruh dia bernyanyi kalau sedang berada diantara kita agar tidak tertabrak olehku.”
Busra Kalek mencibir sedang yang lain tertawa. Kalek memang berarti hitam, legam.
“Tunggu sampai kau bertemu dengannya”, kata si hitam. "Kau akan menganga terkagum-kagum."
Perjalanan memakan waktu hampir sehari penuh dari Pariaman ke Parak Karambia. Busra Kalek yang sebelumnya satu kereta dengan Madi Gapuak pindah ke kereta Rangkayo Gadih, menjadi saisnya. Aku berkereta bersama Tiar Sunguik. Rangkayo Gadih mengerutkan kening saat melihatku.
"Siapa dia?", tanyanyapada Tuo Balam, nadanya agak ketus.
"Anak baru", jawab Tuo Balam datar. "Saya dan Bujang merasa dia cocok bekerja pada Rangkayo Tuan."
Rangkayo Gadih hanya mendengus lalu naik ke atas keretanya. Tidak ada yang istimewa pada gadis itu. Dia memang cantik tapi aku punya seorang kakak perempuan yang jauh lebih cantik daripada dia. Kurasa teman-temanku heran melihat sikapku yang biasa-biasa saja.
“Cantik bukan”, bisik Madi Gapuak.
“Aku tidak menganga, kalau itu yang kau maksudkan.”
“Itu cuma lagakmu. Aku tahu di dalam hati kau berdebar-debar.”
“Aku tidak berdebar-debar.”
“Jangan pura-pura…”
Tiba-tiba Tuo Balam berteriak memanggil namaku.
“Kenapa semua orang suka sekali berteriak-teriak dekat telingaku?”, tukas Rangkayo Gadih dari dalam keretanya.
Perlu kuberitahu kalau nama Rangkayo Gadih adalah Nilam Cayo. Tapi tentu saja tidak ada yang memanggilnya langsung dengan nama. Itu tidak sopan.
“Maaf, Rangkayo. Sudah kau naikkan semua, buyung?”, tanya Tuo Balam padaku.
Selain sebagai pengawal, kami juga tukang bongkar muat kalau Tuo Balam tidak membawa tukang angkat. Tidak ada masalah karena upah kami akan dilebihkan.
“Sudah, Tuo.”
“Baik, kita berangkat sekarang.”
Tuo Balam dan Bujang Kirai meloncat ke kereta terdepan, lalu berturut-turut Sapar Cimuak, Busra Kalek, Madi Gapuak dan Tiar Sunguik. Untuk alasan yang jelas, kereta Rangkayo Gadih berada di tengah rombongan.
Kami mulai bergerak dengan perlahan meninggalkan dusun Parak Karambia. Sore sudah lewat, tampak orang-orang mulai meninggalkan sawah dan ladang mereka. Setelah kami melewati keramaian, Bujang Kirai memberi isyarat untuk menambah kecepatan. Kereta-kereta berderak lebih laju tapi tidak terlalu kencang agar Rangkayo Gadih tidak menjerit meningkahi derak roda kereta.
“Sebenarnya sudah terlalu sore untuk berangkat pulang”, kata Tiar Sunguik tiba-tiba. "Seharusnya kita bermalam dan berangkat besok pagi. Itu jauh lebih aman."
“Bukan aku yang memutuskan.”
“Semoga saja tidak ada masalah.”
“Bukannya kita sedang membawa masalah?”
Tiar Sunguik tersenyum masam. Dia memang tidak banyak bicara dan aku sebenarnya lebih suka menjadi pendengar. Jadi kami berdua lebih banyak diam, hanya sesekali mengatakan sesuatu yang tidak penting.
Kata Tiar Sunguik, Parak Karambia berada di kenegerian Sicincin. Di dusun ini tinggal seorang perempuan yang mahir menenun, tempat Rangkayo Gadih datang setiap enam bulan dan tinggal selama beberapa pekan untuk belajar dari perempuan itu. Aku selalu bermasalah dengan arah (salah satu alasan kenapa kakakku tidak menjelaskan lebih lanjut dimana aku bisa menemukan orang yang kucari) sehingga buatku semua tempat sama jauhnya. Tiar Sunguik yang segera paham kelemahanku ini tidak mau lagi menyia-nyiakan nafasnya berusaha menjelaskan sesuatu yang sulit untuk kumengerti. Lagipula kami hanya mengikuti kereta di depan. Tidak banyak yang dilihat sepanjang jalan, hanya barisan pepohonan dan sesekali bentangan sawah. Senja mulai berganti malam ketika kami memasuki sebuah dusun kecil yang lengang. Jalan tanah terbentang panjang di depan kami dan sudah mulai sepi dari orang. Tuo Balam mengangkat bendera kuning pertanda rombongan harus berhenti.
“Ada apa?”, tanyaku.
"Ini dusun Sikabu", jawab Tiar Sunguik pelan, nyaris berupa bisikan. "Selepas dusun ini ada satu tempat yang tidak seharusnya dilewati malam hari. Tempat itu tidak ada namanya, orang-orang hanya menyebutnya kelok Sikabu."
Wajah kawan baruku ini terlihat sangat tegang. Tuo Balam turun dari keretanya dan berjalan ke kereta Rangkayo Gadih . Aku bisa mendengar dengan jelas kalau Tuo Balam berusaha membujuk putri induk semangnya agar rombongan boleh bermalam di dusun itu. Seperti yang bisa ditebak, Rangkayo Gadih menolak dan tetap memerintahkan meneruskan perjalanan. Rupanya gadis ini suka menyiksa anak semang ayahnya kalau hatinya sedang jengkel.
“Kalian diupah untuk mengawal dan itu yang harus kalian lakukan”, tukas Rangkayo Gadih pedas. “Lagipula sekarang ini masih terlalu sore untuk berhenti. Tanah masih terang, langit masih biru, kuda pun masih segar. Atau kalian takut disamun orang di tengah jalan?”
Tuo Balam menggumamkan serapah pelan yang membuatku geli mendengarnya. Setengah enggan dia kembali ke kereta terdepan lalu memberi isyarat agar rombongan bergerak lagi. Roda kereta kembali berderak maju perlahan.
“Karambia…”, desis Tiar Sunguik.
Karambia artinya kelapa. Kalau diterjemahkan bisa berarti orang yang isi kepalanya seperti kelapa. Kosong dan berair. Sepanjang pengetahuanku Tiar Sunguik tidak pernah memaki. Kalau sekarang dia mengucapkan kata itu artinya dia juga jengkel. Atau was-was. Atau keduanya.
“Ada apa?”, ulangku. “Sepertinya kalian tegang sekali.”
Dia menatapku beberapa saat sebelum menjawab. “Alang, kau baru ikut kami beberapa hari jadi kurasa kau belum tahu macam mana beratnya kerja sebagai pengawal muatan dagang. Aku tidak mengatakan yang kau lakukan kemarin dulu itu mudah, tetapi seringkali kita akan berhadapan dengan sesuatu yang membuat kita hanya bisa pasrah.
“Kau tahu saat ini Rangkayo Gadih ada bersama kita. Keselamatannya adalah hal yang harus kita utamakan. Kita petarung pantang mundur dari gelanggang, tapi kali ini kita mungkin harus melakukannya demi keselamatan Rangkayo Gadih...”
“Kau ini bicara tidak jelas. Ada apa sebenarnya?”
Tiar Sunguik menghela nafas berat. “Kau tahu tempat macam apa itu kelok Sikabu?”
"Apakah kau pandir? Aku baru sepekan ada di negeri ini."
Dia seperti kelihatan antara mau tertawa atau jengkel.
“Singkatnya begini, kelok Sikabu adalah sarang penyamun”, ujar Tiar Sunguik. “Aku masih berani lewat di tempat itu siang hari tapi lewat disana malam hari sama saja dengan mengantar nyawa.”
Jadi itu masalahnya. “Sudah berapa lama mereka bersarang disana?”
“Sudah lama sekali. Tidak ada yang bisa mengusir mereka karena Parewa Mambang, kepala penyamun-penyamun itu, memiliki ilmu halimun dan pasukan mambang.”
“Termasuk pasukan Pagaruyung yang katanya tak terkalahkan?”
“Pernah sekali Tuan Mudo Cinduamato menyerbu kemari tapi tak seorang pun ditemui. Mereka semua hilang tanpa bekas. Penyamun-penyamun ini bukan manusia biasa. Mereka hantu.”
Aku tertawa mendengarnya.
"Aku tidak main-main", ujarnya marah, tapi sambil berbisik. Sulit kubedakan apakah dia ngeri pada pasukan hantu atau pada anak induk semangnya.
Jalanan semakin menyempit lalu digantikan oleh alur bekas roda kereta diatas rumput. Aku merasakan suasana semakin tegang ketika kami mulai memasuki hutan. Berkali-kali Bujang Kirai dan Tuo Balam melambatkan kereta kalau mereka melihat ada yang mencurigakan. Memang sudah kurasakan kehadiran hawa gaib yang pekat di tempat itu, tapi bukan karena kehadiran mambang. Semakin jauh ke dalam hutan pepohonan semakin rapat dan hawa gaib itu semakin nyata. Lalu sekarang kurasakan hawa membunuh yang berasal dari berbagai sudut tempat. Tiar Sunguik ternyata bersungguh-sungguh, jadi aku juga menyiagakan seluruh indraku. Siapapun orangnya yang sedang main-main dengan hawa gaib ini, jelas dia sudah salah memilih waktu dan sasaran.
Kami tepat berada di hamparan sempit yang dikelilingi pepohonan ketika kurasakan kehadiran dua puluh orang di depan rombongan, disusul puluhan lainnya muncul mengepung dalam kegelapan di balik pepohonan. Dari hawa tubuh mereka, aku bisa menentukan dimana orang-orang itu berada. Tapi orang yang memainkan hawa gaib ini masih bersembunyi.
"Berhenti!”, teriakku. “Ada yang menghadang di depan kita!”
Kelima kereta berhenti mendadak. Aku menyeringai mendengar Rangkayo Gadih marah-marah, mungkin kepalanya terantuk. Aku melompat turun dari kereta dan berjalan ke depan rombongan. Sambil lalu kuketuk pintu kereta Rangkayo Gadih.
“Diamlah”, kataku. “Sudah malam.”
Busra Kalek tertawa pelan. Anehnya Rangkayo Gadih langsung diam. Bagus juga karena semakin sedikit suara semakin baik. Para penyamun itu belum menyerang karena belum tahu pasti kekuatan kami. Panji dagang Rangkayo Bakaluang Ameh masih dapat dilihat dari jarak cukup jauh karena bulan bersinar cukup terang. Dari cerita Bujang Kirai aku dapat menerka bahwa saudagar dari Bungus ini cukup ternama, itu termasuk kemampuan para pengawalnya. Para penyamun tentu sedang menyusun siasat, mengira-ngira seberapa besar kekuatan kami. Malang buat mereka, aku tidak punya rencana untuk berlama-lama di tempat penuh nyamuk seperti ini.
Kegelapan tiba-tiba nyaris meliputi seluruh hutan saat bulan masuk di balik awan. Hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari kerlip bintang. Kulirik kawan-kawanku, mereka pucat pasi. Hawa gaib yang dikirimkan dari satu tempat di dalam hutan sudah memengaruhi batin para pengawal.
“Kuatkan batin kalian. Dia cuma menakut-nakuti jadi lebih baik kita tunggu saja sampai mantranya habis dibaca. Kurasa kalau orang itu tahu mantranya tidak mempan, dia akan segera menyerbu kemari. Lebih mudah kalau mereka yang datang daripada kita yang mencari-cari mereka di dalam hutan sana”, ujarku.
“Lebih mudah?”, jengit Sapar Cimuak. “Mereka itu mambang…”
“Nah, benar kan. Itu mereka datang.”
Hawa membunuh menyebar dari sebelah kananku. Tiga sosok tubuh berlari kencang membawa parang teracung ke arah kami. Busra Kalek meloncat turun dan bersiap menghadang dengan parang di tangan.
“Jangan tinggalkan kereta”, kataku. “Jaga saja sisi satunya. Beritahu kalau ada yang muncul dari sana.”
Tiga orang penyamun itu berseru kaget saat melihat aku tiba-tiba muncul di depan mereka. Dari hawanya, aku tahu ada sekitar seratusan orang di hutan itu, jadi aku tidak mau buang-buang waktu. Kutepuk dada mereka, ketiganya langsung rebah tak bergerak. Busra Kalek dan yang lain melongo ketika aku kembali ke samping mereka.
“Ada apa?”, tanyaku kuatir. “Kalian melihat mambang?”
“Eh…”, kata Busra Kalek seperti baru disadarkan. “Tidak, tidak apa-apa. Kau… cepat sekali gerakanmu tadi. Mataku sampai kabur tidak bisa melihatnya.”
Aku menyeringai. “Kau kurang darah sampai pandanganmu kabur. Ah, rupanya mereka sudah tidak sabar minta dipukuli.”
Bulan separo yang tiba-tiba muncul sudah cukup untuk menerangi tempat itu. Aku pindah ke tengah-tengah para penyamun lalu mulai membagikan pukulan dan tendangan. Sebelum mereka pulih dari terkejut, aku sudah pindah ke bagian lain dan mengobrak-abrik disana. Pindah lagi, lagi, lagi, sampai akhirnya mereka semua mengalihkan perhatian padaku. Rencanaku menjauhkan orang-orang gila ini dari kereta berjalan dengan baik. Mereka berteriak-teriak marah sambil menyerbu tempat dimana aku muncul. Aku geli sendiri melihat orang-orang ini mengekoriku seperti anak ayam mengekori induknya. Apalagi kalau ada yang tersungkur karena tersandung batu atau akar pohon.
Mendadak, ada hawa ganas menyerang dari atas. Rupanya si penebar mantra gaib memutuskan sudah terlalu lama buat dia bersembunyi di atas pohon. Sayang, silatnya tidak sebagus mantranya. Tanpa menengadah aku meraih lengan yang terulur hendak meninju kepalaku itu lalu kubanting. Jerit parau keluar dari mulut orang tua yang sekarang terkapar di tanah. Pinggangnya melengkung menahankan sakit yang dideritanya. Aku membantingnya tepat di atas tonjolan akar pohon.
“Kalera!”, teriaknya.
Hebat orang ini. Memaki adalah hal pertama yang terpikir olehnya ketika kesadaran menyentuh otaknya. Kalera adalah makian yang sedikit lebih sopan daripada makian paling kotor dalam bahasa Minang. Orang tua itu menatapku dengan matanya yang berair, tatapan yang merupakan campuran antara rasa sakit, terkejut dan kemarahan.
“Sopan sedikit”, tukasku. “Ada anak perempuan di dalam kereta.”
Kutendang rusuknya sehingga dia mencelat. Aku langsung paham kalau yang baru saja kusakiti adalah Parewa Mambang karena para penyamun lain sekarang diam tak bergerak di tempat mereka. Kuraih tubuhnya yang masih melayang diudara, lengan dan kakinya kukunci. Dia melolong ngeri ketika melihat permukaan tanah melaju semakin dekat tanpa bisa dicegah. Setelah bunyi ‘ngek’ keras saat mendarat dengan dada terlebih dahulu dan aku berada di punggungnya, kepala penyamun itu pingsan. Kuseret orang itu menuju kereta, tempat teman-temanku berdiri diam, masih melongo. Kedua belah pihak, para pengawal dan para penyamun, sama-sama diam tak bergerak melihatku menggenggam rambut Parewa Mambang yang masih pingsan.
“Buang senjata kalian”, perintahku pada penyamun- penyamun itu.
Karena mereka tidak segera melakukannya, aku tendang Parewa Mambang.
“Buang!”, teriakku. “Kalau tidak dia akan kutendang lagi.”
Serentak mereka membuang senjata. Suara berkelontangan memenuhi keheningan hutan.
“Berlutut!”
Aku menendang sekali lagi baru orang-orang itu berlutut. Kudengar Bujang Kirai tertawa di belakang. Ketegangan sudah pudar dari kawan-kawanku. Sikap mereka kini tenang sekali, menikmati pemandangan yang mungkin tidak pernah mereka lihat.
“Lepaskan pakaian kalian.”
Aku menendang kepala penyamun sial itu sampai dua kali untuk membuat mereka paham kalau aku tidak main-main. Gerombolan orang-orang liar itu membelakangi kami saat mulai melepaskan pakaian mereka satu persatu. Tiar Sunguik sampai terbahak melihatnya, sementara yang lain tersenyum-senyum.
“Kau gila!”, bisik Tuo Balam. “Kau suruh mereka melepas pakaian di depan Rangkayo Gadih?”
“Salahnya sendiri kalau ikut melihat. Hei, cepat! Kami tidak punya banyak waktu. Tinggalkan saja cawat itu di tubuh kalian. Sekarang kumpulkan semua pakaian itu di depanku.”
Tak berapa lama seluruh pakaian penyamun-penyamun itu sudah menumpuk tinggi di depanku. Mungkin ada barang berharga di dalam saku-saku pakaian itu tapi mana aku mau tahu. Madi Gapuak terkekeh saat kusuruh membakarnya.
“Urusan kita selesai sampai disini”, kataku pada penyamun-penyamun itu. “Tapi kalau kudengar ada orang yang kehilangan pakaian di dunia ini, aku akan kembali mencari kalian. Sekarang enyah dari sini! Kalian sama sekali tidak sedap dilihat.”
Serentak seluruh penyamun berhamburan susul-menyusul meninggalkan tempat itu. Tapi beberapa diantara mereka tidak kabur terlalu jauh. Mungkin berharap masih ada yang bisa diselamatkan dari pakaian-pakaian yang sedang terbakar. Kami semua menoleh saat mendengar tawa kecil di dalam kereta tengah. Tuo Balam tersenyum lebar mendengar tawa Rangkayo Gadih.
“Orang ini mau diapakan?”, tanyaku pada Tuo Balam.
Karena Tuo Balam tak segera menjawab, aku tendang lagi Parewa Mambang. Para pengawal yang lain terbahak-bahak melihatnya.
“Aku bukan anak buahnya”, gerutu Tuo Balam. “Kita bawa saja nanti kita serahkan pada Datuk Ambang Pasisia di Bugus.”
“Dia naik kereta mana?”
Madi Gapuak, Busra Kalek dan Sapar Cimuak bergegas naik ke kereta mereka lalu duduk mengangkang memenuhi bangku depan kereta.
“Masukkan saja dia di antara muatanmu”, kata Tuo Balam.
Jadi kunaikkan Parewa Mambang di keretaku, kuselipkan diantara goni berisi kelapa. Dia beruntung kereta kami tidak membawa durian. Urat suaranya sudah kumatikan agar kami tidak perlu mendengar makiannya sepanjang perjalanan. Sudah jelas itu yang akan dilakukannya pertama kali saat dia mendusin dari pingsannya.
“Berangkat!’, seru Tuo Balam. “Kita pulang!”
Aku melambai pada para penyamun yang mengintip-intip. Tiar Sunguik tertawa-tawa melihat keramahanku.
Didalam kereta, Nilam Cayo tersenyum geli. Anak baru itu rupanya agak gila. Tapi dia hebat bisa menaklukkan Parewa Mambang dengan mudah. Sebenarnya Nilam Cayo juga ketakutan dan menyesal karena sudah bersikap keras kepala. Untung semua berakhir baik-baik saja.
Anak baru itu juga kurang ajar, berani-beraninya dia menyebut Rangkayo Gadih anak perempuan.
Bersambung ke Bagian 2.
keterangan istilah:
sanak = saudara; sapaan akrab untuk orang yang diaggap sebaya
bonggeng = genit, ganjen, norak
kelok = belokan
keterangan istilah:
sanak = saudara; sapaan akrab untuk orang yang diaggap sebaya
bonggeng = genit, ganjen, norak
kelok = belokan
No comments:
Post a Comment