“Rangkayo Tuan menyuruhmu menghadap”, kata Tuo Balam yang tetiba muncul dari balik pintu.
Aku sedang merebahkan badan, berusaha meluruskan punggung di atas karung goni berisi kapas kasar. Kami sampai saat menjelang terbit matahari, setelah perjalanan tiga hari penuh. Tidak ada halangan lain selepas dari kelok Sikabu , kecuali dari seorang penyambun tunggal yang memperkenalkan dirinya sebagai Palimo Kundua. Orang ini rupanya kenalan lama para pengawal karena mereka beberapa kali terlibat pertarungan. Ilmu silatnya cukup lihai, tapi ilmu belutnya luar biasa. Itu barangkali yang membuat para pengawal kesulitan menangkapnya.
"Apakah masih lama?", tanyaku. "Sudah mulai panas disini..."
Aku dan Tiar Sunguik duduk saja menonton Palimo Kundua dikeroyok tiga orang.
"Orang ini licin sekali..."
Palimo Kundua mengeluarkan suara ngek yang sangat keras saat lehernya kujepit dengan lenganku. Kawan-kawanku masih belum terbiasa dengan gerakanku jadi mereka tertegun melihat lawan tarungnya tiba-tiba sudah tidak berdaya. Sapar Cimuak tidak meneruskan ucapannya, hanya melongo melihat Palimo Kundua menggeliat-geliat dalam jepitanku.
"Dia berak dalam celana", kataku.
Entah malu karena ditaklukkan dalam satu gerakan atau ketahuan berak dalam celana, penyamun tunggal ini tidak lagi berusaha melepaskan diri.
"Aku tidak mau membawanya, bisa bau cirik muatanku nanti", sambungku tegas.
Bujang Kirai terkekeh. "Kali ini kau kami lepaskan", ujarnya pada Palimo Kundua. "Tapi kalau jalan kita bersilang sekali lagi, bukan hanya cirik yang keluar dari badanmu."
Tidak perlu diulang ancaman itu karena Palimo Kundua langsung lari tunggang langgang meninggalkan bau tak sedap. Perjalanan selanjutnya lebih cepat karena jalanan menuju Bungus keadaannya lebih baik. Madi Gapuak, Tiar Sunguik dan Busra Kalek sudah berkeluarga jadi mereka langsung pulang. Aku dibawa Bujang Kirai dan Sapar Cimuak beristirahat di gudang tempat muatan biasa disimpan. Pembantu rumah baru saja mengantarkan makan pagi yang belum kami sentuh. Saat ini kami semua lebih membutuhkan istirahan ketimbang makan.
“Ada perlu apa?”
“Gilakah kau? Apa kau pikir Rangkayo Tuan akan melaporkan keperluannya padaku?”, tanya Tuo Balam jengkel. “Cepatlah!”
Yang pertama terlintas dalam benakku adalah Rangkayo Tuan akan bertanya-tanya mengenai asal-usulku. Teramat wajar kalau seorang induk semang harus tahu perihal orang upahannya. Masalahnya aku tidak mau ada orang lain tahu urusanku datang ke daratan besar ini.
“Cobalah kau tanyakan, Tuo. Bukankah kau orang kepercayaan Rangkayo Tuan", bujukku.
Tuo Balam menggaruk-garuk kepala tapi dia pergi juga. Bujang Kirai dan Sapar Cimuak tertawa kecil, lalu keduanya mengambil piring masing-masing. Isinya ketupat dalam sayur pakis, ditambah beberapa buah sala.
"Makanlah dulu, Alang", ajak Bujang Kirai. "Selagi masih hangat. Kalau kurang, boleh menambah."
Kami makan dengan cepat dan tanpa berbicara. Aku baru meletakkan piringku saat Tuo Balam muncul lagi.
"Makanlah dulu, Tuo", tawarku. "Selagi masih hangat. Kalau kurang, boleh menambah."
Tuo Balam kelihatan bingung, lain dengan kedua kawanku yang tersenyum geli. Sapar Cimuak menyepak pantatku pelan. Tuo Balam langsung paham kalau aku mengerjainya.
"Aku menyabung nyawa bertanya pada Rangkayo Tuan tapi masih saja kau mempermainkanku", rutuknya. Tapi kemudian dia ikut duduk dan mulai makan. "Rangkayo Tuan ingin bertanya sedikit tentang dirimu. Ini kesempatan bagus, buyung. Kalau kau bisa membuat Rangkayo terkesan, upahmu tentu dinaikkan.”
Sebaliknya, itu akan jadi bencana untukku.
“Kenapa bukan Tuo saja yang bercerita?”
“Aku? Aku tahu apa tentang dirimu?”
“Ceritakan saja apa yang Tuo ketahui. Aku dari Pulau Siguntur, namaku Alang Babega.”
“Rangkayo Tuan mungkin punya pertanyaan lain dan beliau ingin mendengar jawaban langsung dari mulutmu.”
“Sebaiknya kamu pergi menghadap, Alang”, kata Sapar Cimuak.
“Jangan salah paham”, ujarku. "Kita baru kenal sepekan lalu, tentu tidak mungkin aku menceritakan seluruhnya tentang diriku pada kalian..."
"Aku pikir kita berteman", kata Bujang Kirai, ada sedikit nada kecewa dalam suaranya.
"Aku juga tidak bertanya macam-macam tentang kalian, bukan? Dan ya, Bujang, kita berteman, karena itu aku tidak bertanya-tanya tentang kalian selain dari yang kalian sampaikan. Begitu caraku menghargai pertemanan kita."
Merah padam wajah Bujang Kirai mendengar sindiranku.
“Rangkayo Tuan berhak tahu tentang jati diri orang upahannya”, kata Tuo Balam.
“Kalau pendapat Tuo dan Bujang tidak cukup untuk meyakinkan Rangkayo Tuan, berarti aku tidak sesuai bekerja sebagai orang upahan disini.”
Teman-teman baruku terdiam.
"Kalian orang kepercayaan Rangkayo Tuan. Itulah alasan mengapa aku mau ikut bersama kalian. Tapi kalau ketidak jelasan jati diriku akan menjadi masalah besar untuk Rangkayo Tuan, sampai disini saja kita bersama-sama."
Aku meraih buntalanku dan berdiri.
“Kamu hendak pergi betulkah?”, tanya Bujang Kirai.
“Aku belum ada sehari disini. Daripada urusan ini menjadi lebih buruk di kemudian hari, kurasa jalan terbaiknya adalah aku pergi saja.”
“Aku tidak ingin kau pergi. Denganmu usaha dagang ini akan semakin maju karena akan semakin banyak pemilik usaha dagang yang memercayakan barang kepada kita karena jaminan keamanan yang bisa kita berikan”, kata Bujang Kirai. “Tuo, tidak adakah yang bisa kita lakukan supaya Rangkayo Tuan bisa menerima penilaian kita?”
Tuo Balam meletakkan piringnya yang baru dia makan beberapa suap. Orang tua kepala usaha dagang itu tampak bingung,
"Mari kita berdua pergi menghadap", ajaknya. "Kau ini menyusahkan sekali."
Aku menahan bahunya. “Aku sama sekali tidak ingin menyusahkan siapa pun. Aku juga tidak mau berhutang budi pada orang lain.”
Kutolak pelan tubuhnya ke samping lalu aku melangkah keluar.
"Alang, maksudku... aku tidak bermaksud...", geragap Tuo Balam.
Bujang Kirai menggerutu dan berusaha menahan langkahku tapi enteng kutolak tubuhnya ke pinggir. Aku menutup pintu dan tertegun! Pintu terbuka lagi, Bujang Kirai, Tuo Balam dan Sapar Cimuak berdiri berhimpitan disana, mereka juga tertegun.
Di hadapanku, berdirilah induk semang kami: Rangkayo Bakaluang Ameh.
“Kau yang bernama Alang Babega?”, tanya Rangkayo Tuan.
“Betul”, jawabku. “Terima kasih untuk makan paginya. Saya pamit.”
Rangkayo Tuan melangkah ke samping memberi jalan. Aku melangkah pergi.
“Kau hendak kemana?”, tanya Rangkayo Tuan lagi.
“Saya tidak punya tujuan tetap...”
Aku mengulang kebodohan yang sama. Seperti keledai, yang terperosok di lubang yang sama untuk kedua kalinya.
"Lalu kenapa kau pergi? Bukankah kau sedang bekerja?"
Sekarang giliranku yang tergeragap. "Saya... saya diberhentikan..."
Rangkayo Tuan mengernyit. "Siapa yang memberhentikanmu? Tuo Balam atau Bujang Kirai?"
Aku sekarang bisa membayangkan rasa malu yang diderita Palimo Kundua, bedanya aku tidak berak dalam celana.
"Bukan... maksud saya... sebelum saya diberhentikan karena... anu, maksud saya..."
Aku melirik ke arah ambang pintu. Bibir Tuo Balam bergerak tanpa suara mengatakan pandir.
“Aku memanggilmu untuk berkenalan. Kalau kau tidak ingin berkenalan denganku, tidak apa-apa. Aku percaya sepenuhnya pada penilaian Tuo Balam dan Bujang Kirai bahwa kau adalah orang baik. Nah, buyung, bekerjalah yang rajin disini.”
Rangkayo Bakaluang Ameh memutar tubuh lalu berjalan kembali ke rumah gadangnya. Aku masih terpaku di tempatku, tidak tahu harus berkata apa. Rasa malu menjalar sampai ke ujung kaki. Wajahku mungkin sama merahnya dengan udang direbus.
“Pandir”, gerutu Tuo Balam sambil menarikku kembali ke dalam gudang.
“Oh, diamlah”, tukasku. “Diam.”
“Pandir”, ulang Sapar Cimuak.
“Sebelum saya diberhentikan karena... karena.. anu...”, gumam Bujang Kirai. “Karena saya berak di celana.”
“Diam!”
Mereka bertiga terpingkal-pingkal. Aku merasakan wajahku semakin panas. Yang paling memalukan adalah aku sudah menduga yang bukan-bukan pada induk semangku. Rangkayo Bakaluang Ameh ternyata sangat murah hati dan bijak, tidak seperti yang kubayangkan.
Biarlah kuceritakan sedikit tentang induk semangku yang murah hati itu. Rangkayo Tuan mempunyai tiga orang putra dan dua orang putri. Rangkayo Gadih Nilam Cayo adalah si sulung. Adiknya-adiknya adalah Rangkayo Mudo Pitalo Bumi, Rangkayo Mudo Rimbun Pamenan, Rangkayo Gadih Intan Baiduri dan si bungsu Rangkayo Mudo Buyuang Putiah. Layaknya anak-anak hartawan, mereka mendapat pendidikan terbaik yang bisa didapat pada masa itu. Seorang guru surat, seorang guru silat dan seorang guru adat didatangkan setiap hari untuk mengajar para rangkayo belia itu. Sebuah saaran silat dibangunkan di depan gudang sebagai tempat berlatih para rangkayo mudo setiap sore. Terkadang kawan-kawanku bergabung bersama mereka sebagai lawan tanding. Beberapa kali Bujang Kirai mengajakku tapi aku tidak mau. Aku tidak punya waktu main-main dengan anak-anak. Bukannya aku tidak suka dengan mereka tetapi aku tidak ingin terlibat terlalu dalam dengan keluarga induk semangku. Aku punya tugas sendiri yang sedang kuemban dan aku tidak mau perhatianku teralih.
Sekali aku melihat Rangkayo Kijang Mudo yang memang datang setiap hari. Dia tampan tapi aku tidak suka melihat raut kelicikan di wajahnya. Hampir saja dia kupukul ketika menyindirku, mengatakan kalau orang tidak berpendidikan seperti aku memang harus bisa hidup dengan otot semata. Dia mengatakan itu saat melihatku membantu membongkar muatan sepulangnya kami dari... yah, kalian tahulah, aku payah dalam hal seperti ini. Bujang Kirai tampak seperti mendambakan aku menempeleng Rangkayo Kijang Mudo. Dia kecewa ketika aku tidak meladeni sindiran yang ditujukan padaku.
Sore itu aku sedang memandikan kuda coklat kesayangan Rangkayo Tuan. Di samping gudang ada pancuran kecil tempat kami biasa mencuci tangan dan perabotan, jadi disana aku mencuci kuda itu. Di sasaran putra-putra induk semangku sedang berlatih silat dengan penuh semangat. Bujang Kirai dan Sapar Cimuak duduk bersila di tanah memperhatikan mereka. Sesekali Sapar Cimuak memberi isyarat agar aku ikut bergabung tapi aku menggeleng.
Rangkayo Kijang Mudo muncul dari balik rangkiang di depan rumah. Dia tersenyum mengejek melihatku lalu mengambil tempat di pinggir gelanggang. Aku tidak memedulikannya karena aku sudah capai bekerja seharian. Selesai kuda ini kumandikan aku mau mandi lalu tidur. Sudah hampir tida pekan aku bekerja tapi belum kudengar ada rencana hendak mengantar barang ke negeri yang ingin kutuju. Mungkin sudah waktunya aku merubah rencana.
Dari sudut mataku kulihat ketiga remaja itu sudah selesai berlatih dan sedang bersiap-siap untuk berlatih sabung. Tiba-tiba Kijang Mudo berdiri.
“Kudengar ada salah satu pengawal punya kemampuan berlebih. Kamukah itu Bujang Kirai?”, tanyanya pongah.
“Saya tidak punya kemampuan apa-apa, Rangkayo”, jawab Bujang Kirai dingin.
“Tentu bukan kamu, Sapar. Aku tahu sampai dimana kemampuanmu. Lalu siapa pengawal itu? Apa mamak Rangkayo melebih-lebihkan cerita di depanku?”
“Pengawal itu uda Alang”, sahut Rangkayo Mudo Pitalo Bumi yang tidak senang ayahnya disebut begitu.
“O, kamu rupanya, tukang kuda. Turunlah kemari, biar kulihat sampai dimana kebenaran cerita mamak Rangkayo.”
“Rangkayo, saya rasa tidak bijak…”
“Diamlah, Bujang. Aku tidak bicara denganmu. Hei, tukang kuda, kemari! Apa kau takut? Atau sebenarnya kau cuma bonggeng tukang ganggu anak gadis? Aku lihat kau berdua-duaan dengan Nilam kemarin.”
Jadi itu masalahnya. Dia melihatku membantu Rangkayo Gadih memindahkan beberapa barang ke gudang dan mengira aku bonggeng seperti dirinya. Waktuku terlalu berharga untuk dibuang berurusan dengan orang pandir jadi tidak kupedulikan dia. Bujang Kirai dan Sapar Cimuak berdiri ketika Kijang Mudo melangkah lebar-lebar mendekatiku. Mereka tidak melakukan apa-apa tapi jelas siap untuk baku hantam kalau aku diganggu. Kijang Mudo menarik bahuku dengan kasar. Tatapan murkanya bertemu dengan mataku.
“Oi, apa kau tuli? Phuih! Dasar bonggeng! Turun ke gelanggang dan hadapi aku”, katanya sambil berjalan ke tengah gelanggang.
Aku benar-benar letih. Mungkin kepongahannya yang membuatku naik pitam tanpa dapat kutahan. Inilah jenis manusia yang menurutku tidak layak diberikan hak hidup di atas dunia ini. Mereka yang menganggap dirinya lebih dibanding orang lain sangat wajar untuk dimusnahkan.
Dia kudorong sampai mundur nyaris terjengkang lalu kulempar dengan sikat kayu yang kupakai untuk menyikat bulu kuda. Kijang Mudo terpelanting, roboh tak bergerak. Ada benjolan memar di keningnya. Aku melambai ringan, sikat kayu itu melenting balik ke tanganku.
“Pandir”, kataku lalu meneruskan kerja.
Pandeka Kilek, guru silat ketiga putra Rangkayo Bakaluang Ameh, Bujang Kirai, Sapar Cimuak serta putra-putra Rangkayo Bakaluang Ameh melongo melihat kejadian itu. Bukan terpelantingnya Kijang Mudo yang membuat mereka takjub tetapi caranya. Mereka tidak akan tahu kalau yang menghantam itu adalah sikat kayu sampai melihat benda itu melenting balik ke tangan si tukang kuda. Cepat sekali, bayangannya pun tak terlihat. Seumur hidupnya baru kali itu mereka melihat ada yang bisa melempar dan mengambil hanya dengan melambai sedikit.
Besok paginya Kijang Mudo membawa sepuluh orang pembantunya mendatangi rumah Rangkayo Bakaluang Ameh. Mereka ingin menuntut balas atas kejadian kemarin sore. Jadi kusambut mereka di sasaran silat. Kami masih bertengkar mulut (lebih tepatnya dia yang memaki-maki dan kami panggil dia pandir berulang kali) ketika Rangkayo Bakaluang Ameh muncul disana. Rangkayo Gadih Nilam Cayo ikut bersama ayahnya. Gadis itu kelihatan marah bukan kepalang pada Kijang Mudo.
“Kau mau buat perkara di rumahku, Kijang?”, tegur Rangkayo Tuan. "Apakah kau ingin mempermalukan ayahmu?"
“Saya datang untuk menagih hutang, mamak. Tukang kuda mamak kemarin mengganggu saya.”
“Jadi itu sebabnya keningmu agak maju, Kijang”, ejek Nilam.
Kijang Mudo memerah wajahnya, sedang Rangkayo Tuan tersenyum tipis.
“Bukan begitu yang kudengar, Kijang. Dan perlu kau ketahui kalau Alang bukan tukang kuda. Dia pengawalku. Dia dan semua yang bekerja padaku berada di bawah perlindunganku. Pergilah, urusan ini sampai disini.”
“Tidak bisa begitu, mamak”, tukas Kijang Mudo. “Ini masalah harga diri laki-laki…”
“Kalau begitu kenapa kamu membawa sepuluh orang bersamamu?”, ejek Nilam lagi. “Rupanya kau tidak berani menghadapi Alang sendirian.”
Tajam lidah Rangkayo Gadih. Kijang Mudo tidak bisa menjawab. Aku jadi tidak enak sendiri karena jadi begini. Seharusnya kemarin aku tidak melayani kata-kata si pandir itu.
“Dia mencurangiku dengan menyerang tiba-tiba”, elak Kijang Mudo kemudian. “Kalau kemarin aku tidak dicurangi, belum tentu dia bisa menang. Sepuluh orang ini kubawa sebagai saksi bahwa pertarungan antara dia dan aku akan berlangsung adil.”
Rangkayo Bakaluang Ameh lalu mengangguk.
“Baiklah kalau itu kemauanmu. Kebetulan kalian sudah di sasaran. Bujang, kau jadi saksi…”, perintahnya.
“Tidak perlu seperti itu, Rangkayo”, ujarku cepat. “Kalau Rangkayo Kijang Mudo merasa kemarin aku mencuranginya, dia bisa melempar kepalaku dengan sikat sekarang.”
Aku mengambil sikat kuda lalu melemparkannya ke depan kaki Kijang Mudo. “Lemparlah. Aku tidak akan mengelak”, kataku
“Jangan membual! Kau tentu mengelak”, katanya marah.
“Aku tidak akan mengelak, kau lempar saja. Kau mundur lagi. Aku kemarin melemparmu dari jarak dua puluh langkah.”
Aku tidak mau repot memanggilnya dengan rangkayo lagi. Manusia pandir bukan orang yang pantas dihormati. Lagipula, apa dia pikir darahnya lebih biru daripada keturunan Sang Sapurba?
“Lemparlah”, kata Rangkayo Bakaluang Ameh.
Kijang Mudo tidak punya pilihan. Dia mundur beberapa langkah, kurang empat atau lima langkah dari jarak yang seharusnya, tapi aku tidak peduli. Dia menimang-nimang sikat lalu melempar sekeras yang dia bisa. Benda itu mendesing menuju kepalaku. Nilam menggigit bibir sambil meremas sapu tangannya. Aku senang juga karena ada yang kuatir melihatku terluka.
Pletak!
Sikat itu tepat menghantam keningku. Perlindungan hawa gaibku terlalu kuat untuk bisa ditembus lemparan anak-anak seperti itu. Kalau aku mau, sikat itu bisa kubuat melenceng. Tapi itu akan dinilai curang oleh si pandir jadi kubiarkan sikat itu kena, toh tidak terasa apa-apa.
“Sekarang kita impas”, kataku.
“Belum!”, teriak Kijang Mudo meradang karena melihat aku tidak apa-apa. “Kau membuat keningku… jadi seperti ini. Aku harus melakukan hal yang sama padamu.”
“Jangan berlebihan, Kijang. Dia melemparmu sekali, kau melemparnya sekali”, kata Rangkayo Bakaluang Ameh. “Kalau keningnya tidak apa-apa, itu berarti lemparanmu kurang keras.”
“Kalau kau melemparnya sekali lagi, Alang juga boleh melemparmu sekali lagi”, sambung Nilam. “Bagaimana?”
Rangkayo Bakaluang Ameh mengernyit mendengar ucapan putrinya. Sekilas kulihat air muka puas di wajah Rangkayo Gadih. Seperti Bujang Kirai, aku juga melihat perasaan mendamba di wajahnya. Mereka tampak ingin sekali melihat Kijang Mudo dihajar dengan keras. Aku tahu ini mustahil, tapi aku berharap ada sedikit bagian dalam otak Kijang Mudo yang memberitahunya untuk mundur dan pulang.
Tentu saja bagian seperti itu (yang biasa disebut orang sebagai bagian kecerdasan) tidak pernah ada dalam otaknya.
“Boleh!”, sambut Kijang Mudo. “Tapi aku melempar duluan.”
Kutendang sikat itu ke depannya. Kijang Mudo mengambil ancang-ancang lalu melempar. Sikat menghantam keningku, mengeluarkan bunyi khas, lalu jatuh. Sebelum sampai ke tanah kakiku menendang.
Pletak!!
Kijang Mudo tumbang saat sikat kuda menghantam keningnya dengan suara nyaring yang mantap. Sedetik kemudian sepuluh tukang pukulnya menyerbu. Bujang Kirai dan Sapar Cimuak berbagi lawan dengan suka cita. Di akhir pertarungan, sepuluh orang itu pergi terseok-seok membawa induk semang mereka yang masih pingsan.
“Apakah Kijang tidak apa-apa, Alang?”, tanya Rangkayo Tuan.
“Kepalanya cukup keras, Rangkayo. Besok mungkin dia akan datang lagi.”
“Dia memang keras kepala”, kata Nilam geli.
Besoknya Kijang Mudo datang lagi tapi diusir mentah-mentah oleh induk semangku. Rangkayo Bakaluang Ameh mengatakan bahwa peristiwa ini sudah dilaporkan pada Rangkayo Carano Perak dan dalam beberapa hari ayah Kijang Mudo akan datang.
Aku dan teman-teman sedang disuruh mengantar muatan ke Tiku jadi kami tidak paham apa yang sedang berlangsung. Ketika kembali pun aku masih belum disuruh menghadap. Malahan Tuo Balam yang muncul dan mengatakan kalau urusannya sudah selesai. Hanya saja perkembangannya jadi agak tidak enak.
“Tidak enak bagaimana?”, tanyaku.
“Ternyata Tuan Mudo Cinduamato sendiri yang datang sebagai hakim. Singkat cerita, Tuan Mudo Cinduamato berkata ingin berkenalan denganmu”, kata Tuo Balam pelan.
Aku tahu maksudnya. Tuan Mudo Cinduamato ingin menjajal kemampuanku. Permasalahannya aku tidak ingin berkenalan dengan Tuan Mudo. Setidaknya belum sekarang. Dia adalah salah seorang dari dua orang yang harus kutemui. Kalian tentu berpikir tentu baik sekali kalau aku bertemu dengan Tuan Mudo Cinduamato karena itu berarti separuh tugasku sudah selesai.
Kuberitahu kalian bahwa kakakku jelas-jelas mengatakan bahwa Tuan Mudo Cinduamato adalah orang kedua yang harus kutemui. Jadi bertemu dengan dia sebelum aku bertemu dengan orang yang pertama berarti masalah besar. Lagipun dia akan datang sebagai hakim, mana mungkin aku bercerita tentang tugasku padanya. Yang jelas tidak ada yang betul kalau aku sampai harus berkenalan dengannya.
“Kenapa Tuan Mudo sampai ikut campur?”, tanya Bujang Kirai. “Urusan ini terlalu sepele untuk diselesaikan oleh Pagaruyung.”
“Tuan Mudo yang diminta menjadi penengah dalam masalah ini”, kata Tuo Balam. “Kedua belah pihak menerima keputusannya. Rangkayo Tuan akan mengobati Kijang Mudo dan setelah itu si pandir harus pergi meninggalkan Bungus. Adil kurasa.”
“Aku sepakat”, kata Bujang Kirai. “Tapi yang kutanyakan adalah kenapa Tuan Mudo sekarang malah menantang Alang?”
“Mungkin Tuan Mudo hanya hendak menguji”, kata Sapar Cimuak.
“Itu sudah jelas. Tapi kenapa?”
“Karena tidak pernah ada yang bisa membuat orang lain pingsan hanya dengan sikat kayu”, jawab Tuo Balam. “Pandeka Kilek juga mengatakan hal yang sama. Itu sebabnya Tuan Mudo jadi tertarik.”
Aku meneguk kopi di gelas Bujang Kirai. Inilah keadaan dimana kita hanya bisa pasrah menerima karena semua ini terjadi diluar kuasa kita. Pilihanku adalah tetap menjalankan tugasku seperti semula.
"Jadi Tuan Mudo ini dari Pagaruyung, begitukah? Dimana itu Pagaruyung?"
Bujang Kirai melotot saat mendengar pertanyaanku.
“Kau tidak tahu dimana Pagaruyung? Jangan-jangan kau tidak mengenal siapa itu Tuan Mudo Cinduamato?”, tanya Bujang Kirai padaku.
“Apakah aku harus kenal siapa dia?”
“Tentu saja, pandir! Tuan Mudo Cinduamato adalah adik Dang Tuanku. Kau tahu siapa Dang Tuanku?”
“Tentu saja, pandir! Sudah jelas dia adalah kakak Tuan Mudo Cinduamato”, jawabku mantap.
Sapar Cimuak dan Tuo Balam terpingkal-pingkal. Bujang Kirai meringis sambil meninju lenganku. Salahnya sendiri menanyakan pertanyaan bodoh.
“Dang Tuanku adalah Rajo Alam Minangkabau, orang yang menentukan hitam putihnya negeri ini”, katanya pelan. “Tidak ada orang yang berani berurusan dengan istana Pagaruyung.”
“Kau kenal siapa itu Nila Bunga Rindu?”, tanyaku.
Bujang Kirai mengernyit. “Tidak. Siapa dia?”
“Dia adalah kemenakan Nila Pahlawan Samudera. Kau kenal siapa itu Nila Pahlawan Samudera?”
Mereka tertawa berderai. Bujang Kirai mengangkat tangannya meminta perhatian. “Aku tidak sedang bermain-main, Alang. Maksudku menyampaikan ini adalah…”
“Aku juga tidak sedang bermain-main. Yang kumaksud adalah kau kenal dua orang beradik kakak, aku pun kenal dua orang mamak-kemenakan. Impas, selesai.”
“Pandir”, kata Sapar Cimuak geli.
“Alang”, kata Bujang Kirai tegas. “Tuan Mudo Cinduamato adalah petarungnya petarung seluruh Minangkabau. Ksatrianya ksatria Minangkabau. Aku sendiri belum pernah melihatnya langsung di gelanggang tapi semua yang kudengar tentang dirinya adalah keperkasaan yang tidak bisa ditandingi. Kau sebaiknya jangan main-main dengannya.”
“Bujang”, kataku tak kalah tegas. “Aku tidak peduli apakah dia itu petarung atau adik raja. Kalau dia hendak main-main disini, dia harus membawa sikat sendiri. Itu harta induk semang kita yang harus kita lindungi dengan jiwa dan raga. Paham kau?”
Dari kamarnya yang berseberangan dengan gudang, Nilam mendengar suara tawa empat orang itu. Dia tersenyum sendiri. Pasti pengawal gila itu yang bikin ulah sehingga Tuo Balam yang selama ini selalu memberengut sekarang jadi sering tersenyum lebar. Bujang Kirai yang selama ini datar jadi bisa tertawa lepas begitu. Dan dia juga menyadari bahwa akhir-akhir ini dia sudah tidak lagi marah-marah pada adik-adiknya atau pada siapa pun. Anak muda kurang ajar itu sudah membawa banyak perubahan bagus.
Tapi satu hal, Nilam tidak mau menyebut nama anak muda itu. Entah kenapa jantungnya bergetar setiap kali dia mendengar nama Alangbabega disebutkan. Karena itu dia lebih suka memanggilnya dengan sebutan pengawal gila atau anak muda kurang ajar.
Tentunya dalam hati saja.
keterangan istilah:
cirik = tahi
sala = penganan khas Pariaman, terbuat dari tepung yang dicampur ikan
rangkiang = lumbung padi yang letaknya di halaman rumah
mamak = panggilan untuk saudara laki-laki ibu, bisa juga sebagai panggilan akrab untuk orang yang seangkatan dengan ayah
No comments:
Post a Comment