Wednesday, December 11, 2019

Ksatria Pagaruyung - Bagian 3


Jadi akhirnya aku berdiri berhadapan dengan yang namanya Tuan Mudo Cinduamato. Baru kali ini aku melihat orang yang darah birunya begitu ketara. Wajahnya yang tampan benar-benar ningrat. Bahkan kakakku, Yang Dipertuan Nila Pahlawan Samudera, masih kalah ningrat penampilannya. Jangan bayangkan kakakku seperti seorang raja di pulau kami. Dia lelaki biasa, secara lahir tampak seperti nelayan. Tapi ada pancaran kebangsawanan yang membuat siapa pun orangnya akan langsung tahu dia adalah raja.
Kabar baik buatku, sepertinya Cinduamato ini tidak pongah. Bahkan aku merasa kalau dia agak jahil. Saat kami bertemu, dia sudah membawa sebuah sikat kuda. Kami berdua berdiri berhadapan di sasaran silat sejarak sepuluh langkah. Induk semang dan kawan-kawanku berdiri di sekeliling kami. Di jendela kulihat Rangkayo Gadih dan ibunya mengintip dari balik tirai. Putra-putra Rangkayo Bakaluang Ameh lainnya menonton dari tangga rumah gadang, tidak berani terlalu mendekat.
“Kau yang bernama Alang Babega?”, tanya Cinduamato sambil sedikit menyipitkan mata.
“Betul.”
Bangsawan itu tersenyum miring. Mungkin dia tidak seberapa senang melihat sikapku yang kurang menghormat. Justru ini adalah bagian dari rencanaku agar dia tetap memandangku sebagai orang asing sampai saatnya tiba aku memperkenalkan diriku. Dia kemungkinan akan segera mengenaliku kalau kami bertarung. Kakakku mengatakan bahwa keluarga kerajaan Pagaruyung memiliki salinan kitab ilmu silat Sang Sapurba, meski mereka tidak bisa mempelajarinya. Jadi main lempar-lemparan begini sebenarnya bagus buatku.
“Aku Cinduamato.”
“Itu juga betul.”
Kudengar cekikik lirih Rangkayo Gadih. Kusadari para lelaki menahan nafas melihat aku berlaku seenaknya di depan adik raja. Sebaliknya Cinduamato malah merengut jengkel. Sekadar jengkel, bukan marah.
“Aku sudah lihat makan tanganmu di kening Kijang Mudo. Boleh juga, tidak banyak petarung yang kutahu bisa melakukan itu. Untuk kau ketahui, semua urusan sudah selesai. Adapun hari ini kita berdua berdiri disini sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah lama itu. Katakan saja aku tertarik ingin berkenalan denganmu.”
“Kita sudah berkenalan. Saya bahkan sudah tahu nama kakak Tuan Mudo.”
Cinduamato tersenyum miring lagi. “Bukan salahmu. Keluargaku cukup dikenal orang di negeri ini.”
Sungguh, aku hampir tertawa mendengarnya. Orang ini bisa bercanda.
“Aku rasanya pernah mendengar nama pulau Siguntur. Apa betul kau dari sana?”
Perasaan dingin mengerikan menjalari tulang belakangku. Ini dia yang terlewat olehku: kemungkinan Cinduamato mengenaliku dari pulau tempat tinggalku. 
“Beginilah, kalau Tuan Mudo hendak beramah tamah, sebaiknya kita duduk di depan rangkiang saja. Nanti saya minta Bujang membuatkan kita kopi dan menggoreng pisang. Kurang nyaman duduk disini karena agak panas.”
Cinduamato tertawa. “Baiklah, kalau begitu mari kita berkelahi. Aku sudah membawa sikatku sendiri. Mana sikatmu?
“Dua tanduk di kening Kijang Mudo itu dibuat oleh satu sikat saja. Sikat yang seperti itu." 
Hening seketika saat kata-kataku meresap. Ya, aku sudah menantang dan menakar ksatrianya ksatria Minangkabau. Dan sekali lagi dia mengejutkanku.
"Jadi aku membawa sikat yang benar. Sebelumnya aku agak kuatir sikat ini agak sedikit besar untuk ukuran kepalamu."
Dan dia membalasku dengan telak!
Lalu dia menyerang. Tanpa peringatan.
Sikat kuda melayang ke arahku, cepat, tapi masih kurang cepat untuk ukuranku. Bukan bagian kayunya yang mengancamku tapi ijuknya yang tampak kaku seperti paku. Hawa pelindungku membuat sikat itu tertahan sedepa dari wajahku. Cinduamato mengernyit, tapi dia sudah bersiaga bersiap ketika sikat aku menyerang balik. 
“Luar biasa!”, seruku memuji.
Sikat itu juga tertahan sedepa dari wajahnya seolah dipegang sesuatu yang tak kasat mata. Rupanya pangeran muda ini juga menguasai hawa pelindung, tapi dia belum sepenuhnya bisa mengendalikan kemampuannya itu. Dia perlu waktu sedetik untuk mengatur sikat sebelum menendang balik ke arahku. Pada titik ini aku berani berkata bahwa peguasaan hawa saktinya belum seperti yang kumiliki.
“Sama sekali tidak terlihat…”, bisik Bujang Kirai seolah pada dirinya sendiri.
Salah besar kalau seorang petarung harus mencurahkan seluruh perhatiannya hanya pada lawan. Itu kata-kata dari orang yang tidak paham tentang hakikat pertarungan. Yang benar, seorang petarung harus memerhatikan semuanya. Lawan, orang-orang yang menonton, alam sekitar sampai kepada hal-hal yang kadang tidak terasakan kehadirannya. Itu sebabnya aku bisa mendengar bisikan Bujang Kirai. Aku juga menyadari bahwa Sapar Cimuak sekarang ini berdiri lurus tak berkedip, demikian pula halnya dengan Busra Kalek, Tiar Sunguik dan Madi Gapuak. Aku tahu Rangkayo Bakaluang Ameh melangkah mundur. Kurasa kepalanya pening.
Cindumato tentunya juga begitu. Sudah banyak kejadian seorang petarung yang sedang berada di atas angin bisa langsung kehilangan nyawa karena lawannya memanfaatkan sekeliling. Pengetahuan seperti ini diajarkan dalam latihan tetapi hanya bisa dimatangkan dalam pertarungan sebenarnya. 
Kuberitahu kalian bahwa sebenarnya sikat kuda itu sah hancur berantakan dalam gebrakan pertama saat aku diserang, Tapi aku mengikatnya dengan hawa sakti sehingga tampak utuh agar aku bisa menyerang balik. Mengapa aku melakukan itu? Mengapa tidak kubiarkan saja sikat itu hancur? Karena tadi aku yang mengatakan bahwa hanya perlu satu sikat saja, sikat yang itu. Jadi aku harus mengikatnya agar bisa membalas. 
Dan Cinduamato juga harus melakukan hal yang sama agar bisa melanjutkan serangan. Jadi pada dasarnya kami saling melemparkan hawa sakti untuk menembus pertahanan lawan. Perutku mulai terasa panas karena terus menerus mengeluarkan hawa sakti, sebaliknya kulihat Cinduamato sudah mulai berkeringat. Walaupun kemampuannya masih berada di bawahku, dia sangat tangguh! Kalau begini ceritanya, aku bisa berhari-hari main lempar tangkap dengan si Tuan Mudo ini.
Aku menyerang. Bersamaan dengan luncuran sikat kulepas pula serangkum hawa sakti untuk mengacaukan jalannya. Cinduamato menyipitkan matanya, menunggu sampai saat terakhir lalu balas menyerang. Hawa saktinya membekukan seranganku tetapi aku merasakan ada celah-celah yang tidak bisa ditutup seluruhnya oleh Cinduamato. Perbedaan tingkat penguasaan hawa sakti, bukan kadarnya, memang menentukan dalam pertarungan seperti ini. Cinduamato tentu menyadari bahwa ada celah dalam pertahanannya yang bisa kuterobos dan dia mesti mencari jalan untuk mementahkan usahaku itu.
Sekali lagi aku menyerang. Kali ini sikat bergerak lebih pelan saat kutendang. Meliuk-liuk lalu tiba-tiba meluncur naik kemudian melesat turun mengincar dada. Pertahanannya kutekan habis, seluruh celah kosong kuisi. Sikat tertahan di depan Cinduamato, terapung seolah diikat benang tak terlihat. Dia meloncat sedikit, berputar di udara lalu balas menendang sambil mengempos seluruh kekuatannya.
Disitu letak kesalahannya.
Aku menarik semua tekananku. Cinduamato kaget ketika dorongan hawa saktinya los begitu saja. Sikat meluncur dua kali lebih cepat, lewat sedikit di atas ubun-ubunku dan terus menghantam dinding gudang, menancap sampai setengahnya lalu mulai luruh. 
Nilam yang mengintip dari balik jendela kamarnya memekik lirih. Hening menyelinap ketika semua mata, selain aku dan Cinduamato, menatap ke arah potongan sikat yang menancap di dinding gudang sebelum akhirnya luruh habis jadi abu berikut ijuknya! Tidak ada yang tahu kalau saat itu sehelai ijuk kecil melayang turun diantara kami berdua.
“Kau kalah, Alang”, kata Bujang Kirai memecah keheningan. Nada suaranya riang, senang sekali dia melihat aku dikalahkan panutannya. “Kau gagal mengembalikan serangan Tuan Mudo.”
“Justru sebaliknya, aku yang kalah”, kata Cinduamato tanpa malu-malu. “Siasat yang luar biasa, Alang. Baru kali ini aku berhadapan dengan hawa sakti sekuat milikmu.”
Perasaanku mengatakan dia sudah tahu siapa aku. Dan aku sangat berterima kasih dalam hati karena dia tidak menunjukkannya. 
Cinduamato mengambil helai ijuk yang jatuh itu lalu memberikan pada Bujang Kirai.
“Sehelai ijuk ini lepas dari sikat dan hanya ijuk ini yang tidak berubah jadi debu. Kau akan memahami makna pertarungan tadi kalau kau bisa menjelaskan kenapa hanya ijuk ini yang tidak hancur."
Cinduamato mengulurkan tangan menyalamiku. "Kau menang di kandangmu tapi belum tentu kalau kita bertanding di kandangku. Apa kau berminat mencoba keangkeran Bukit Gombak?”
“Rasanya kita sudah terlalu tua untuk main lempar-lemparan sikat seperti ini. Tapi kalau Tuan Mudo memaksa, saya mengikut saja.”
Cinduamato terbahak. Tiba-tiba dia merangkul bahuku ringan. Entah mengapa, aku tidak mengerti sebabnya, aku merasa sangat kenal dengannya, seolah kami adalah kawan lama yang baru bertemu kembali. 
“Rangkayo", ujarnya pada induk semangku. "Rangkayo beruntung mendapatkan pengawal seperti ini. Jangan sampai dia lepas dari tangan Rangkayo. Kalau Rangkayo bosan padanya, saya bersedia membawanya ke Pagaruyung.”
Induk semangku menghatur hormat pada Cinduamato. “Pesan Tuan Mudo akan saya perhatikan. Tapi mohon dimaafkan, untuk saat sekarang saya masih membutuhkan tenaga Alang.”
Cinduamato menepuk bahuku sekali lagi lalu dia kembali ke rumah gadang bersama Rangkayo Bakaluang Ameh. Sekilas kulihat Nilam tersenyum padaku dari balik jendela.
Bujang Kirai masih memandangi ijuk di tangannya. Tatapannya tampak menerawang jauh pertanda otaknya sedang berpikir keras.
“Apakah kau akan berubah menjadi si pandir hanya karena kata-kata orang itu?”, godaku. 
“Jangan kurang ajar", tukasnya. "Dan jangan ganggu aku berpikir. Pergi sana."
“Baik, Pak Guru.”
Pantatku disepaknya.
Dua pekan berikutnya kami berangkat lagi. Negeri yang dituju kali ini adalah Sungai Tarab. Induk semangku diundang untuk menghadiri acara pertunangan Tuan Mudo Cinduamato dengan putri Datuk Bandaro Putiah yang bernama Puti Lenggogeni. Tuo Balam sibuk mengatur rombongan. Kami para pengawal berdiri agak jauh menonton orang tua itu berkelebat kesana kemari sambil berteriak-teriak menyuruh-nyuruh tukang angkat memasukkan dan menata barang-barang yang akan dijadikan hadiah. Suaranya sudah parau tapi semangatnya tidak kendur.
“Kau bantulah Tuo Balam, Bujang”, kataku. “Tidakkah kau kasihan melihatnya?”
“Kau saja. Aku sibuk”, katanya sambil terus memperhatikan ijuk.
“Kalau kau terus memikirkannya, lama-lama nanti kau jadi pandir betulan.”
Dia menatap jengkel padaku lalu pergi menjauh. Luar biasa pengaruh kata-kata Tuan Mudo Cinduamato pada kawanku itu. Sejak dari hari dia menerima ijuk itu sampai hari ini, Bujang Kirai hanya tidur beberapa jam saja dalam sehari. Saat sedang tidak bekerja, dia memikirkan dalam-dalam makna dari potongan ijuk kurang ajar itu. 
Dari lima kereta yang dipakai, tiga diantaranya akan dinaiki oleh induk semangku dan keluarganya. Kelima rangkayo belia itu sudah berdiri di puncak tangga rumah gadang, siap untuk berangkat. Mereka benar-benar kemilau dalam pakaian kebesaran tetapi karena induk semangku adalah hartawan, bukan bangsawan, pakaian anak-anaknya hanya sekadar indah. Sulaman yang menghias pakaian mereka hanya sekadar hiasan, tanpa ada makna tersembunyi seperti yang disulamkan pada pakaian kaum bangsawan.
“Rangkayo Gadih benar-benar cantik”, gumam Sapar Cimuak tiba-tiba. “Sayang kau cuma pengawal, buyung.”
Karena tidak ada yang menanggapi, dia jadi jengkel.
“Aku bicara padamu, Alang”, sentaknya.
“Kupikir kamu bicara pada dirimu sendiri. Akhir-akhir ini aku sering melihatmu begitu. Cobalah kau datangi Mak Ayang dukun urut terkilir untuk memeriksakan otakmu.”
Pantatku disepaknya, ini sekarang sudah menjadi kebiasaan mereka yang paling baru.
“Kalau saja kamu juga anak hartawan, induk semang kita tidak akan berpikir dua kali untuk mengangkatmu jadi menantu. Aku yakin Rangkayo Tuan pun suka padamu. Kamu gagah, tampan, berkepandaian. Sayang sekali kamu bukan orang terpandang dan berpendidikan.”
“Kalau aku orang terpandang dan berpendidikan, kalian tidak akan berani menyepak pantatku.”
Aku pura-pura terhuyung ke arah Bujang Kirai dan menepuk lengannya. Ijuk melayang, dengan sangat halus kutiup sampai hilang tidak kelihatan lagi.
Yang sama sekali tidak kuduga adalah sikapnya.
“Karambia!”, makinya tanpa peduli semua orang kini melihat ke arah kami. “Apa yang kau lakukan pada ijukku? Kau menghilangkannya! Kau pandir!”
"Si pandir itu menyepak pantatku", tudingku pada Sapar Cimuak. "Itu karena kau mengajarinya, jadi kau juga bersalah."
Bujang Kirai berkemak-kemik tanpa suara, berganti-ganti antara melihatku dan Sapar Cimuak. Luar biasa rasa hormat Bujang Kirai pada Tuan Mudo Cinduamato sampai-sampai ijuk kecil itu bisa membuat dia naik pitam seperti ini. Kelak aku akan mengerti kenapa rakyat Minangkabau sangat mencintai bangsawan muda itu, karena aku pun akhirnya merasakan hal yang sama.
Bujang Kirai rupanya benar-benar murka. Dia sama sekali tidak bicara denganku sepanjang perjalanan. Dia bahkan membuang muka ketika aku dengan suara keras bertanya pada Busra Kalek, apakah dia mencium bau tidak enak saat kami sampai di tempat Palimo Kundua berak di celana. Akibatnya suasana jadi agak tegang. Sesampainya di Sungai Tarab dia malah memisahkan diri dari rombongan, tidak ikut bergabung bersama yang lain menikmati keramaian.
“Kurasa kau harus minta maaf padanya”, kata Sapar Cimuak.
Kurasa juga begitu, jadi kudekati dia. Bujang Kirai berusaha menghindar tapi aku terus menempel sampai akhirnya dia terpojok dan kami berdiri berhadapan. Sungguh, matanya membarakan amarah yang membakar!
“Apa lagi maumu? Belum puas kau menggangguku?”, desisnya.
"Apakah kau hanya menilai persahabatan kita tidak lebih berharga dari sehelai ijuk?"
Seketika dia berubah, dari tegang karena amarah menjadi pucat karena malu. Kawanku ini memang sangat memuja Tuan Mudo Cinduamato, tapi dia juga orang yang sangat menghargai persahabatan.
"Maafkan aku... Aku tidak bermaksud..."
"Tidak ada yang istimewa dari ijuk itu, Bujang. Seperti yang sudah kukatakan, Tuan Mudo hanya main-main dengan kata-katanya."
Kami berdua duduk di potongan pohon kelapa yang dibuat menjadi bangku.
"Tapi kenapa hanya selembar, Alang? Aku tidak paham?"
Aku menyeringai. "Tentu saja kau pahan, kau hanya terlalu menilai tinggi Tuan Mudo Cinduamato. Tentu saja dia luar biasa, tapi yang terjadi pada ijuk ini hanya hal yang biasa."
Aku mencongkel bangku untuk mendapatkan sepotong kayu kelapa. Kayu kelapa lain dari kayu biasa karena seperti terbuat dari lidi yang menjadi satu.
"Akan kulaporkan kau pada Datuk Bandaro Putiah karena sudah merusak hartanya."
Aku lega karena kawanku yang suka merajuk ini sudah kembali menjadi dirinya yang asli.
"Lihat ini", kataku sambil menarik sepotong lidi sepanjang seruas jari dari potongan kayu lalu potongan tadi kuremas sampai jadi abu. Lidinya kuberikan pada Bujang Kirai.
"Paham sampai disini?"
Bujang Kirai menyeringai. "Ternyata begitu... ijuk itu terlepas sejak awal sehingga tidak terikut dalam ikatan hawa sakti. Aku sampai berhari-hari tidak tidur memikirkannya, padahal jawabannya mudah sekali."
Tiba-tiba dia tertawa, begitu keras, sehingga orang-orang melihat ke arah kami.
“Kenapa kau?”, tanyaku."Kau sudah menemukan jawaban teka-teki Tuan Mudo-mu, bukan? Agak terlambat kalau mau jadi gila."
“Aku belum tertawa mendengar leluconmu tentang Palimo Kundua.”
Aku jadinya ikut-ikutan tertawa. “Pandir.”
Pantatku disepaknya. Sambil tertawa-tawa kami berjalan menuju keramaian di halaman rumah gadang milik Datuk Bandaro Putiah. Tepat di tengah halaman sudah dibuka sebuah gelanggang sabung yang saat itu ramai dikerumuni orang yang menonton.
Sabung silat adalah bagian dari setiap perhelatan besar. Malah boleh dibilang sebagai pemancing tamu. Kadang kupikir aneh juga kami Minang ini. Kami pada dasarnya tidak suka dengan keributan tetapi mata kami tidak akan berkedip kalau menonton orang saling pukul dalam sabung silat. Semakin babak belur, semakin bersemangat kami dibuatnya.
Datuk Bandaro Putiah adalah orang salah satu dari tiga bangsawan tinggi, sehingga aku yakin sabung silatnya diramaikan oleh para petarung dari berbagai negeri. Inti dari setiap sabung silat adalah untuk saling bertukar ilmu sejurus dua jurus. Para petarung dari seluruh negeri berdatangan untuk menguji ilmu mereka sekaligus menerima petunjuk dari guru-guru silat lain. Aku sendiri belum pernah ikut serta dalam sabung silat manapun. Semua yang kuketahui berasal dari kitab yang kubaca dan penjelasan kakakku.
Pertarungan yang sedang berlangsung sama sekali tidak menarik dilihat. Di tengah gelanggang dua orang lelaki saling pukul saling tendang tanpa jurus yang jelas. Tapi para penonton menyemangati mereka sehingga dua orang itu semakin babak belur. Akhirnya yang berkumis menang setelah membuat lawannya terkapar dengan menghantam biji orang malang itu. Dia diberi peringatan keras oleh orang tua yang mengawasi pertarungan tetapi tetap disambut gemuruh oleh kawan-kawannya.
“Pandir”, kataku.
Semua mata langsung tertuju ke arahku. Bujang Kirai yang biasanya tidak pernah mau mengedepankan diri kini dengan dingin membalas tatapan orang-orang itu. Rupanya dia sedang senang karena berhasil memecahkan pesan tersirat dari Tuan Mudo panutannya. Empat kawan kami yang ada disekeliling langsung merapat dan bersiap dengan segala kemungkinan.
Aku menoleh saat merasakan hawa kehadiran Cinduamato yang datang mendekat dari belakang. Orang-orang membukakan jalan untuknya. Melihat sang pangeran langsung menghampiriku, orang-orang kini jadinya mengarahkan pandangan mereka hanya pada kami sehingga kami berenam jadi serba salah. Bikin malu saja orang ini.
Cinduamato tersenyum sambil menepuk bahuku. “Sangat tidak bijak karena membuat semua orang disini gusar dengan ucapan seperti tadi”, katanya. “Tapi kurasa yang lebih pandir adalah kawan-kawanmu. Mereka tetap berteman denganmu meskipun tahu kau pandir.”
Semua orang tertawa sehingga ketegangan mencair. Para hadirin menghaturkan hormat, Bujang Kirai paling dalam hormatnya.
“Saya sudah menemukan jawabannya, Tuan Mudo”, katanya bangga.
Cinduamato menyalami Bujang Kirai. “Selamat, Pak Guru.”
Bujang Kirai merah wajahnya.
“Seingatku waktu aku menyebutmu Pak Guru kau langsung menyepak pantatku. Kenapa sekarang kamu diam saja? Kau takut kah?”, tanyaku sepolos mungkin.
“Oh, diamlah”, jawab Bujang Kirai malu.
Cinduamato terkekeh. “Masuklah ke gelanggang, Bujang. Beri kami beberapa petunjuk.”
Tangkas Bujang Kirai masuk ke gelanggang. Dia menunggu siapa yang kira-kira akan menjadi lawannya. Cinduamato menatapku sekilas lalu menggeleng.
“Kami orang dewasa, tidak main lempar-lemparan sikat. Ah, kurasa Jombang adalah lawan yang seimbang. Masuklah, Jombang.”
Yang bernama Jombang ini gagah bukan main. Wajahnya jantan dan tubuhnya tinggi kekar. Kulitnya agak gelap, langkahnya lebar ketika masuk gelanggang. Kedua petarung itu saling memberi hormat lalu menghormat pada hadirin.
“Maaf kalau aku mengambil alih sebentar, Mak Muncak”, kata Cinduamato pada orang tua yang sebelumnya memimpin jalannya pertarungan.
“Silakan, Tuan Mudo.”
Cinduamato merentangkan tangan.
“Baiklah, hadirin semua. Sebentar lagi kita akan menyaksikan pertarungan antara Bujang Kirai, kepala pengawal usaha dagang Rangkayo Bakaluang Ameh dari Bungus, melawan Rangkayo Jombang Nan Rancak, putra Inyiak Gadang Batuah dari perguruan Batang Tabik. Para petarung siap?”
“Kami siap!”, jawab kedua petarung itu serentak.
“Mulai sabung!”, seru Cinduamato.
Bujang Kirai kalah tinggi satu kepala dibanding lawannya. Dia langsung terseret dua langkah ketika menahan tendangan Jombang, pertanda tenaga lawannya lebih besar. Satu hal yang selalu kulihat di wajah Bujang Kirai dalam bertarung adalah keyakinan. Sekali kakinya masuk ke gelanggang, semua keraguan lenyap dari wajahnya.
Jombang mendesak dengan rangkaian tendangan. Ini sudah lazim karena dia unggul dari segi tinggi badan, jangkauan dan tenaga. Bujang Kirai mengelak-elak lincah tapi dia sama sekali tidak bisa balas menyerang. Serangan lawan tidak memberinya celah untuk masuk. Dia mencari-cari celah tetapi semua mentah dihadang benteng tendangan tak tertembus.
“Membosankan sekalil”, kataku. “Kalau cuma mengelak, lebih baik aku menonton sabung ayam.” 
“Kau perhatikan baik-baik!", sahut Bujang Kirai. “Aku tidak akan mengulang gerakanku dua kali.”
Ini bukan Bujang Kirai yang biasanya. Baru kali ini kudengar dia bicara sambil bertarung dan kata-katanya sekaligus isyarat buat lawan kalau dia dari tadi belum serius. Terang saja Jombang geram mendengarnya. Kakinya menyabet deras ke arah pinggang. Bujang Kirai meloncat naik, menjejak di atas kaki itu lalu balas menendang. Itu adalah gerakan yang luar biasa, gabungan kecepatan dan kemampuan membaca serangan lawan, sehingga mengundang decak kagum para penonton. Jombang yang tidak menyangka terpaksa menggunakan tangannya untuk menangkis karena tendangan itu sama sekali tidak bisa dielakkan.
“Boleh juga”, kataku. “Sayangnya tidak kena.”
Jombang melirik ke arahku, dia jengkel rupanya. Akibatnya nyaris pahanya kena hantam. Aku tertawa mengejek sehingga dia panas.
“Diamlah”, tukas Cinduamato. “Kamu mengganggu mereka.”
“Kalau begitu aku pergi saja.”
“Jangan kemana-mana. Habis ini aku lawanmu.”
Kembali semua orang menatapku. Dari air muka mereka aku yakin orang-orang ini senang mendengar aku akan dipukuli oleh Tuan Mudo tersayang. Kubuat mereka semakin jengkel dengan menguap lebar-lebar.
Bujang Kirai menyusup diantara cecaran tendangan Jombang. Kenekatan adalah ciri khasnya. Kalau dalam perhitungannya dia bisa, maka dia akan lakukan itu meski nyawanya cuma berada serambut lagi dari maut. Jombang kaget melihat lawannya begitu nekat. Dia tidak bisa lagi mengandalkan kaki semata, tinjunya kini ikut beraksi. Bujang Kirai memapak semua serangan dan balas menyerang dengan menggunakan tenaga lawan. Kalau saja jalan berpikirnya tidak selambat itu, sudah dari tadi dia bisa mengungguli lawannya.
Siasat baru dari Bujang Kirai membuat Jombang tidak lagi terus menerus menggunakan tenaga kasarnya. Sesekali dia menyerang dengan hawa sakti sehingga Bujang Kirai terpaksa harus menyusun langkah lagi sembari mengamati. Pertarungan jadi seperti mundur maju dan buatku itu membosankan. Kurasa Cinduamato pun sependapat karena air mukanya tidak lagi menunjukkan perasaan tertarik seperti sebelumnya. Hanya, dia terlalu sopan untuk menguap.
Mendadak terdengar suara teriakan keras. Pertarungan terhenti seketika. Tampak orang-orang berlarian ke sisi barat lapangan. Cinduamato melesat diatas kepala orang-orang menuju asal teriakan ketika para prajurit Sungai Tarab juga berlari menuju kerumunan orang. Kesempatan untukku mencari tempat duduk. Letih juga kalau kau memaksa dirimu menonton sesuatu yang tidak enak dilihat.

Semua menyibak memberi jalan pada Cinduamato. Tampak dua orang tua meringkuk ketakutan melindungi kepala mereka dari tangan-tangan orang yang geram. Pakaian indah mereka kotor terkena tanah.
“Lalek Tuah dan Silangkaneh dari Kelompok Tujuh”, desis Cinduamato. “Aku ingin tahu fitnah apa yang kalian sebar kali ini. Bawa mereka.”
Empat Dubalang meringkus kedua pialang itu dan menggiring mereka mengikuti Cinduamato. Orang-orang berteriak minta keduanya dilepaskan sebentar sehingga Lalek Tuah dan Silangkaneh semakin pucat pasi. Khalayak menunggu di luar ruangan sambil menjulurkan kepala untuk melihat dari jendela. Empat Dubalang tidak melarang mereka melakukannya tetapi sikap tubuh mereka menunjukkan bahwa orang-orang itu tidak diperbolehkan berbuat lebih jauh.
Kelompok Tujuh adalah persekutuan tujuh orang pialang besar yang bermukim di pinggir sungai Batanghari. Nama mereka terkenal sampai ke Pasai karena harta kekayaan mereka yang melimpah ruah. Meski cara berdagang mereka sedikit licik, para pialang Kelompok Tujuh sangat murah hati pada para pemimpin negeri sehingga diberikan beberapa hak istimewa. Tetapi sejak Sutan Romandung ditabalkan sebagai Rajo Alam dengan gelar Dang Tuanku, sebagian hak mereka di Minangkabau dicabut oleh raja baru ini. Dang Tuanku bahkan mengurangi jenis barang yang boleh mereka perjual belikan karena barang-barang tersebut sebenarnya bisa dibuat oleh rakyatnya. Kelompok Tujuh tidak senang menerima ini dan mulai melakukan serangkaian perlawanan secara halus. Tetapi perlawanan mereka tidak berhasil, bahkan tidak ditanggapi karena rakyat Minangkabau berdiri di belakang rajanya.
Belakangan ini terdengar beberapa berita tak sedap yang tidak diketahui asal-usulnya. Beberapa diantaranya membuat merah telinga keluarga istana Pagaruyung. Tuan Mudo Cinduamato yang diperintahkan menyelidiki kebenaran berita itu menemukan hubungan samar antara sumber berita dengan Kelompok Tujuh. Tetapi hubungan ini tidak pernah bisa dibuktikan.
Kecuali mungkin hari ini.
Kedua orang pialang itu bersila ketakutan di hadapan Tuan Mudo Cinduamato yang duduk di atas kursi. Tidak ada orang lain di ruangan itu selain mereka bertiga tetapi sedikitpun tidak terlintas di benak Lalek Tuah dan Silangkaneh untuk macam-macam. Mereka sangat kenal dengan lelaki yang duduk di hadapan mereka. Atau setidaknya mereka dengar cerita-cerita tentang sang pangeran.
“Aku tidak akan berbasa-basi dengan kalian”, kata Cinduamato tegas. “Silakan pilih, kalian bercerita sendiri atau aku tanya pada orang-orang di luar sana. Kalau aku sampai melakukan yang kedua, jangan berharap aku akan mendengar pembelaan diri kalian.”
Kedua pialang itu tahu bahwa sebagai wakil raja, Cinduamato lebih keras daripada Dang Tuanku. Mereka sudah lama mendengar sepak terjangnya yang menggiriskan. Kesenangan pangeran muda itu adalah menangkapi para pelanggar hukum dan memeriksa mereka terlebih dahulu sebelum diserahkan ke sidang Dewan Adat. Tidak ada gunanya menyembunyikan rahasia di depan Cinduamato karena dia selalu punya cara untuk mengetahuinya.
“Beribu ampun…”, sembah Silangkaneh. “Kami tidak menyebarkan cerita apapun. Yang kami kabarkan cuma kejadian yang kami ketahui benar-benar terjadi.”
“Kejadian macam apa itu?”
“Kejadian… putusnya pertunangan antara Puti Bungsu dengan Dang Tuanku…”
“Ceritakan.”
Kedua pialang itu kecewa mendengar nada Cinduamato yang tetap datar. Semula mereka mengira akan dibentak dan ditampar. Kalau itu terjadi mereka akan menuntut istana karena perlakuan kasar tanpa alasan.
“Beribu ampun. Semua orang sudah tahu kalau Puti Bungsu sudah tidak lagi bertunangan dengan Dang Tuanku. Hal ini dipertegas dengan diterimanya sirih pinang yang diantarkan keluarga Tuanku Tiang Bungkuk kepada keluarga Rajo Mudo Tuanku Indodewa bulan lalu. Bahkan kami mendengar bahwa perhelatan pernikahan antara Tuan Mudo Imbang Jayo dengan Puti Bungsu akan dilangsungkan dalam tujuh bulan di muka.”
“Dari mana kalian dengar berita itu?”
“Dari… Tuan Mudo Imbang Jayo sendiri.”
Kali ini Lalek Tuah yang menjawab. Dia jauh lebih licik dibanding kakaknya. Dia yang menyusun rencana memanas-manasi Tuanku Indodewa untuk memutuskan tali pertunangan itu dengan berbagai alasan yang memang masuk akal. Meski pihak Tuanku Indodewa tidak pernah mengeluarkan berita resmi tetapi dengan diterimanya pinangan Tuanku Tiang Bungkuk itu berarti pertunangan itu memang sudah putus. Mengurus Imbang Jayo jauh lebih mudah. Kelompok Tujuh tahu kalau bangsawan muda itu sudah lama menyukai Puti Bungsu tetapi dia tidak berani menyampaikannya karena takut pada Dang Tuanku. Namun sekarang Imbang Jayo seperti harimau tumbuh sayap. Dia siap melabrak siapa saja yang berani menggugat pinangannya.
Lalek Tuah sudah hendak menambahkan dengan kabar burung tentang Dang Tuanku yang terkena penyakit kulit tak tersembuhkan sehingga dikucilkan oleh keluarganya. Berita ini dia yang menyebarkannya di ranah Sikalawi dan Sungaingiang, negerinya Rajo Mudo Tuanku Indodewa dan Tuanku Tiang Bungkuk. Tapi saat menyadari sikap Cinduamato semakin datar, dia tahu nyawanya benar-benar bisa lepas kalau nekat menyampaikan kabar itu.
“Kalian tentunya tamu kehormatan dalam perhelatan itu nanti.”
Kedua pialang itu menatap sang pangeran dengan bingung karena tidak mengerti kemana arah kalimat barusan. Akhirnya mereka mengangguk samar karena takut terjebak.
“Begini saja. Kalian berdua kuanggap sebagai utusan Imbang Jayo…”
“Kami bukan utusan siapa pun”, potong Silangkaneh. “Kami tidak bekerja untuk siapa pun.”
“Aku berniat baik dengan menganggap kalian utusan. Kami selalu menerima dan melindungi utusan meskipun mereka membawa kabar buruk. Tapi karena kalian tidak mau kubaiki, uruslah keselamatan diri kalian sendiri.”
Cinduamato berdiri sambil memberi isyarat agar kedua orang itu keluar dari ruangan. Silangkaneh dan Lalek Tuah saling pandang. Mereka bingung harus berbuat apa. Kalau diiyakan, mereka akan dilindungi dari tangan-tangan marah di luar sana, tapi ini juga berarti mereka sudah menyatakan berpihak pada Imbang Jayo. Pagaruyung tentunya akan menyikapi dengan tegas perkembangan baru ini. Usaha dagang Kelompok Tujuh yang agak terkendala akan semakin bermasalah di Minangkabau. Tetapi kalau ditidakkan, mungkin mereka tidak akan sampai ke Batanghari dengan selamat. Di Sungai Tarab mereka tidak akan dipukuli, tetapi kejadian aneh bisa terjadi sekeluarnya mereka dari negeri itu.
Akhirnya keinginan untuk tetap hidup yang menang. Keduanya punya keyakinan kalau nyawa masih di badan pasti ada cara untuk kembali berkuasa atas jalur perdagangan di Minangkabau.
“Apa lagi yang kalian tunggu? Aku masih banyak urusan.”
“Beribu ampun, Tuan Mudo… Kami mengaku kalau kami memang utusan Tuan Mudo Imbang Jayo…”, sembah Silangkaneh.
Cinduamato menyeringai jijik mendengarnya. “Aku tidak akan mengatakan ini dua kali. Sampaikan pada kelompok kalian bahwa mereka harus menghadap Dang Tuanku di istana untuk meluruskan masalah ini. Sebelum ada utusan resmi, Kelompok Tujuh tidak boleh meneruskan perniagaan di Minangkabau. Kalian berdua kuberi waktu sampai besok pagi untuk keluar dari negeri ini. Kalau sampai batas waktu itu kalian masih berada dalam wilayah kekuasaan Rajo Alam, aku tidak bertanggung jawab atas nasib kalian berdua. Sekarang pergilah.”
Meski secara lahir mereka menghaturkan hormat, dalam hati keduanya memaki-maki Cinduamato dan Dang Tuanku dengan segala caci maki yang pernah dikenal manusia. Sang pangeran bisa mengira kalau kedua orang itu melecehkannya dari sorot mata mereka. Kalau saja berita yang mereka bawa tadi tidak sebegitu berharga, kedua orang itu tidak akan pulang sebelum memar-memar.
Cinduamato merenung di jendela. Keadaan berkembang jauh lebih cepat daripada yang dia dan kakaknya duga, meski masih dalam perkiraan. Waktu mereka tidak banyak sementara yang harus dikerjakan justru sebaliknya. Dang Tuanku malah belum memberikan perintah yang jelas tentang langkah apa yang harus diambil selain terus mencari berita. Mereka tidak bisa menunggu lagi. Istana Pagaruyung akan runtuh kalau Puti Bungsu diambil istri oleh Imbang Jayo.
Barakaik, salah satu dari Empat Dubalang, masuk ke dalam ruangan saat Cinduamato memanggilnya dengan isyarat.
“Sampaikan pada Dang Tuanku kalau aku perlu bicara.”
“Baik, Tuan Mudo.”
“Beritahu pula pada yang lain kalau kita akan kembali ke Pagaruyung, paling lambat besok pagi.”
“Siap, Tuan Mudo.”

Aku menatap dari kejauhan ketika rombongan Pagaruyung mulai bergerak. Jelas saja berita kepulangan mereka menimbulkan tanda tanya di hati masyarakat Sungai Tarab. Bukankah pesta besar ini diselenggarakan untuk menghormati Cinduamato, si anak emas Pagaruyung? Tapi kenapa rombongan istana malah pulang lebih dulu?
Cinduamato berkuda di belakang seorang lelaki yang wajahnya mirip dengannya. Dialah orang yang harus kutemui dan hendak meminta bantuanku. Seluruh usahaku akan ditentukan disini. Harus dia yang meminta bantuanku, bukan aku yang menawarkan bantuan padanya. Begitu pesan kakakku. 
Apa yang terjadi kalau lelaki itu tidak meminta bantuan? Artinya cuma satu: aku belum memiliki kemampuan yang dapat meyakinkannya bahwa aku dapat membantunya. Kalau itu yang terjadi, aku harus pulang ke pulau dan berlatih lebih keras lagi. Masalahnya, itu sama saja gagal menjalankan tugas. Aib besar untuk seorang prajurit Sang Sapurba!
Mendadak keduanya membelokkan kuda tunggangan mereka menuju ke arahku. Rombongan pun berhenti menunggu, sementara aku merasakan ketidaknyamanan karena seketika menjadi pusat perhatian semua orang. Kurasakan keringat dingin mengalir di punggungku saat Dang Tuanku turun dari kudanya lalu menghampiriku.
Sesaat dia menatapku lalu meletakkan tangannya di bahuku.
“Bersediakah kau membantuku?”, tanyanya pelan tapi tegas.
Kelegaan luar biasa memenuhi diriku dari ujung ke ujung. Bagian pertama tugasku sudah selesai saat dia bertanya. Tentu saja aku mengangguk sambil menelan ludah untuk melonggarkan lidahku yang terasa kelu.
“Dengan segenap kemampuanku, Dang Tuanku", jawabku , sambil kutempelkan kepalanku di dada sebagai isyarat kerelaan hati
“Bergabunglah saat kau mendengar pasukanku sudah diberangkatkan.”
“Aku akan segera bergabung setelah mendapat izin dari induk semangku.”
Rajo Alam mengangguk. “Waktu kita sangat sempit. Setiap saat yang berlalu akan semakin memperumit urusan ini.”
Dia meloncat naik ke punggung kudanya lalu bergabung kembali dengan rombongan istana. Seumur hidup baru kali ini aku merasakan dorongan untuk memberikan penghormatan saat Dang Tuanku melintas di depanku. Aku membungkuk sambil merangkap tangan di depan dada. Dia mengangguk membalas penghormatanku. 
Kuberitahu kalian, siapa itu Sutan Romandung. Dia adalah putra sulung Tuanku Adityawarman, Ayahnya wafat saat ia berusia tepat delapan belas tahun, yaitu enam tahun yang silam. Tiga tahun lalu dia diangkat menjadi raja dengan gelar Dang Tuanku, Rajo Alam Rajo Disambah, Rajo Daulat Alam Minangkabau. Barangkali cuma dia satu-satunya manusia di muka bumi ini yang sudah menjadi raja sejak masih berada dalam kandungan.

Bersambung ke Bagian 4.

No comments:

Post a Comment