Seperti yang sudah kukatakan, aku paling susah kalau disuruh
menentukan arah. Jadi aku baru bertemu dengan pasukan itu di luhak Agam, yang
pada waktu itu juga belum aku ketahui namanya. Secara kebetulan aku berpapasan
dengan Jombang yang sedang berjalan berdua seorang gadis berpakaian prajurit.
Dia kaget melihatku dan berhenti.
“Kurasa aku mengenalmu”, katanya dengan nada kurang suka.
“Kau pandai. Bisakah aku meminta bantuanmu?”
“Bantuan apa?”
“Aku perlu bertemu dengan Cinduamato.”
Jelas keduanya tidak senang aku menyebut nama Cinduamato tanpa
embel-embel Tuan Mudo. Hanya karena alasan sopan santun mereka
tidak memakiku.
“Kau carilah sendiri”, kata Jombang kasar.
Keduanya lalu pergi. Seorang tua memberitahu kalau aku sekarang
berada di luhak Agam. Seketika aku teringat pada si raja pencuri lalu
menanyakan tempat tinggalnya. Si orang tua menunjuk ke arah sebuah rumah besar
yang berdiri tepat di tengah-tengah wilayah itu. Halamannya luas dan sekarang
dipenuhi oleh kubu para prajurit. Betapa jengkelnya aku melihat
Jombang sedang berjalan menaiki tangga. Dia rupanya menyadari aku juga sedang
menuju rumah itu sehingga berdiri menghadang di tengah tangga bersama si gadis prajurit.
“Mau apa kau kemari?”, tanya gadis itu jengkel.
“Siapa kau bertanya tentang urusanku?", balasku tak kurang
ramahnya.
“Kurang ajar! Pergi!”
Tiba-tiba Magek Tonjang muncul di puncak tangga bersama
Cinduamato, empat lelaki muda dan beberapa orang tua. Si raja pencuri senang
bukan kepalang melihatku. Dia menyingkirkan Jombang seolah pemuda itu cuma
sepotong ranting.
“Buyung! Sudah disini kau rupanya!”
Aku menyeringai saat dipeluk erat si raja pencuri. Jombang dan si
gadis melotot tak percaya melihat semua itu. Aku mencibir pada mereka dari
balik punggung Magek Tonjang. Kuberikan tatapan makan pencarianmu pada
keduanya dan dibalas dengan tak kalah sengit.
“Perkenalkan, tuan-tuan”, kata Magek Tonjang bangga. “Ini
adik angkat saya. Kalau tuan-tuan tidak keberatan kami minta izin sebentar
untuk berbicara berdua saja.”
“Sebentar”, kataku. “Aku kemari mencari Cinduamato.”
Cinduamato turun dua anak tangga. “Apakah kau bawa barang yang
kuminta?”
Kulemparkan sebuah sikat kuda padanya. Cinduamato memeriksa benda
itu lalu mengangguk puas. “Jombang, simpan benda ini. Jangan sampai hilang”,
katanya tegas. “Kita akan mengalahkan Gampo Cino dengan senjata paling
sakti di Minangkabau ini.”
Aku menyeringai sementara yang lain melongo. “Kalau sampai hilang,
kau akan kusuruh merangkak sampai ke ranah Sikalawi”, ancamku sambil berharap
tempat itu cukup jauh dari sini.
Kepongahan Jombang luntur sudah. Tapi tidak demikian dengan si
gadis.
“Siapa orang ini, Tuan Mudo?”, tanyanya ketus. "Banyak lagak sekali!"
“Jangan bicara macam itu pada adikku”, sambar Magek Tonjang tak
kalah pedas. “Kalau kau tak suka, kau boleh pergi dari rumahku.”
“Jaga bicaramu, Magek”, tukas seorang tua kurus tinggi di samping
Cinduamato.
“Kau juga boleh pergi, Salamek”, balas si raja pencuri. “Juga
siapa saja yang tidak suka. Kalian tidak kuundang datang kemari jadi
jangan salah artikan keramahanku di rumahku sendiri.”
Tanpa memedulikan tamu-tamunya, Magek Tonjang membawaku masuk ke
ruang dalam. Bahkan Cinduamato sampai tertegun tapi tidak ada yang berani
menghalangi Magek Tonjang. Ini rumahnya, dia berhak
melakukan apapun yang dia mau disini. Itu adalah hukum paling
tua di muka bumi ini. Tamu mungkin adalah raja, tapi jangan lupa, tuan rumah
adalah raja diraja.
“Mereka sepertinya segan pada tuan”, kataku.
“Harus. Aku menyediakan semua keperluan mereka selama berada
disini dengan cuma-cuma. Tapi sejak awal sudah kutekankan pada
Cinduamato bahwa semiang pun aku tidak mau ikut campur dengan urusan
istana. Urusan mereka siapa yang mau mereka perangi. Kalau mereka
mengacau lagi atau bersikap tidak manis padamu, kutarik semua
dukunganku.”
Mantap juga orang ini. Pencuri tapi bisa berkuasa seperti penghulu
negeri.
Aku dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil di balik pintu ruang
makan. Ada banyak lukisan, patung, lampu hias dan perabotan bermutu bagus
disana.
“Milik tuankah semua barang berharga ini?”
Dia merengut. “Tidak ada satupun yang berharga disini.
Barang-barang yang kamu lihat sekarang hanya penghias semata, tipuan untuk mata
yang tidak terlatih. Nah, sekarang perhatikan baik-baik. Kau adalah orang
pertama yang kuperlihatkan cara menggerakkan peralatan rahasia disini. Akan
kuperlihatkan perlahan-lahan jadi kalau lain waktu kamu kemari, lakukan
seperti yang kutunjukkan.”
Magek Tonjang memutar kepala salah satu patung ke arah kanan
sampai setengah putaran. Lalu ditekannya gambar matahari pada lukisan gunung
berwarna kebiruan di dinding kanan. Kemudian kursi jati berukir dekat lampu
hias warna merah digesernya pelan-pelan sampai keempat kaki kursi itu tepat
berada di sudut ubin.
“Bisa kah kau ikuti?”
“Bisa. Tapi untuk apa?”
“Hehe. Keajaibannya ada disini, buyung.”
Magek Tonjang melangkah ke satu ubin kosong di depan
kursi itu. Ubin yang diinjaknya melesak sedikit lalu dinding di seberang
membuka menampakkan sebuah tangga turun. Aku menyeringai saat Magek Tonjang
membungkuk anggun penuh gaya.
“Lakukan persis yang aku tunjukkan. Kalau kau salah
mengurutkannya, dari keempat dinding ini akan keluar anak-anak panah beracun.
Kalau kau mencoba membuka pintu dengan paksa, lantai ini akan terbuka dan
puluhan batang tombak yang sudah kuolesi racun siap menyate tubuhmu. Tidak ada
pilihan lain kecuali mengikuti urutannya.”
Aku mengangguk saja. Sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku
untuk masuk lagi ke tempat ini. Kami kemudian melangkah menuruni tangga dan
kegelapan menyambut saat sampai di anak tangga terbawah.
“Tuas pelita ada di sebelah kiri”, kata Magek Tonjang yang semakin
bersemangat membuka rahasia ruangannya. “Ada dua tuas disana, tuas yang atas
untuk melepaskan kalajengking, laba-laba berbisa dan ular sendok dari atap di
atas kepalamu. Tuas yang bawah untuk menggerakkan kunci pengaman sehingga kamu
bisa menggunakan tuas atas untuk menyalakan pelita.”
Terdengar suara batu api dicetuskan dan pelita menyala. Cuma
pelita kecil di sudut ruangan sebesar itu tapi Magek Tonjang memasang beberapa
butir berlian besar di titik tertentu sehingga pantulan cahaya pada batu-batu
mulia itu membuat ruangan jadi lebih terang. Harus diakui kalau si raja pencuri
ini punya daya khayal dan ilmu pertukangan yang luar biasa sehingga mampu
mewujudkan khayalannya itu.
Ruangan itu kosong tanpa perabotan. Hanya ada selembar tikar rotan
usang yang tersandar di dinding. Suasananya dingin lembab dan sangat misterius
karena tercium bau aneh di udaranya. Aku langsung merasa tidak betah.
“Salamek Panjang Gombak menolak saat kuajak duduk. Dia malah
melongok kesana kemari mencari tuas-tuas rahasia untuk membuka pintu tak
terlihat. Aku sudah tahu dia akan melakukan itu. Tempat ini memang kubuat agar
tidak ada yang betah duduk disini.”
Magek Tonjang mengambil tikar itu lalu membentangkannya. Aku
melihat ada empat tonjolan kecil di bagian tengah tikar.
“Tepat di tengah ruangan ini ada bagian ubin yang mempunyai empat
lubang kecil. Coba kau cari”, suruh Magek Tonjang.
“Tuan cari saja sendiri.”
Magek Tonjang tertawa. Dia lalu mengepaskan posisi tonjolan pada
keempat lubang yang dimaksud. “Tahan nafasmu, buyung. Sebentar lagi kau akan
melihat keajaiban kubentangkan di depan matamu.”
Pelan sekali dia menekan ubin tempat lubang itu berada. Dinding
sebelah kanan terbuka lebar. Sampai detik ini aku masih ingat dengan jelas
kalau waktu itu aku terkesima melihat apa yang ada di balik dinding itu. Magek
Tonjang tersenyum lebar melihat aku seperti kemasukan setan pandir.
“Astaga…”, bisikku.
“Nah, itu baru pujian”, kata Magek Tonjang riang. “Mari, buyung.”
Ruangan itu sama luasnya dengan ruang kosong sekarang. Tapi isinya
benar-benar menakjubkan. Jelas yang ada di dalamnya adalah benda-benda mustika
ajaib yang mengandung kekuatan tak kasat mata. Bisa kurasakan dari kuatnya hawa
gaib yang memancar keluar dari ruangan itu. Pedang, keris, pisau, tombak, busur
dan panah menghiasi ketiga dindingnya. Ada juga cermin hias berbingkai perak,
peti-peti berukir yang tepinya dilapis emas serta jubah-jubah bersulam indah.
Magek Tonjang membawaku berkeliling dalam ruangan itu sambil menerangkan dari
mana saja dia mendapatkan benda-benda itu.
“Ini adalah milik seorang saudagar bermata sipit”, katanya sambil
mengangkat sebuah piala kristal. “Kucuri sewaktu dia datang ke Pasai.”
“Apa itu Pasai?”, tanyaku.
Magek Tonjang melongo lalu tergelak karena mengiraku bercanda.
Cahaya aneka warna terpantul dari benda itu. Jantungku nyaris
putus saat piala itu dilemparkan ke arahku dengan asal-asalan. Tawa Magek
Tonjang semakin keras karena aku memaki-maki.
“Banting piala itu”, suruhnya.
“Dengan senang hati!”
Piala itu pecah berkeping-keping sambil mengeluarkan denging
tinggi. Detik berikutnya semua kepingan itu bergerak menyatu kembali membentuk
piala utuh! Aku sampai bersiul melihatnya.
“Entah hawa gaib apa yang mengikatnya sehingga dia selalu kembali
utuh”, ujar Magek Tonjang bangga. “Salah satu mustika yang kubanggakan. Tapi
yang terhebat diantara semuanya ada disini.”
Dia berjalan ke tengah ruangan. Ada ruang kosong selebar satu depa
kali satu depa. Magek Tonjang membanting piala kristal disana. Tepat seperti
tadi mustika itu kembali mengutuhkan diri tapi lantai kosong itu langsung
membuka. Dari bawah keluar sebuah peti kayu hitam buruk. Buatannya kasar sekali
sehingga sangat tak sedap dipandang mata.
“Ada pertanyaan?”
“Bagaimana cara Tuan membuka pintu rahasia itu?”
“Sudah kuduga kau akan bertanya demikian. Kuncinya ada pada suara
denging saat piala ini pecah, buyung. Aku menemukan bahwa suara yang sangat
tinggi bisa menggetarkan beberapa benda jadi kupasang tali-tali dibawah lantai
ini. Ketika tali-tali itu bergetar maka kunci pengaman akan lepas sesaat lalu
menggerakkan tuas untuk membuka pintu dan mengangkat peti keluar. Semua yang
ada dalam ruangan ini adalah puncak segala ilmu pertukangan, buyung.
“Mendekatlah kemari. Kau telah memuaskan keinginanku melihat keris
pusaka Datuk Makhudum dan sebagai balasannya aku akan menunjukkan padamu
mustika yang cuma ada dua tiruannya di muka bumi ini.”
Aku sudah pernah melihat Mahkota Agung beberapa kali tapi aku
ingin tahu seperti apa tiruannya.
“Peti ini tidak bisa dibakar atau dirusak. Ini bukan peti biasa,
buyung. Aku mencampurkan besi dengan pasir lalu meneteskan bubuk kayu untuk
membuatnya. Kamu boleh coba memancungnya kalau tidak percaya.”
“Cepatlah”, desakku.
“Dan sekarang… Mahkota Agung Iskandar Zulkarnain…”
Magek Jombang mengangkat tutup peti pelan-pelan.
“Sengaja tidak kupasang alat rahasia karena tidak ada yang tahu
kalau aku mempunyai mustika ini. Jangan kedipkan matamu, buyung.”
Di atas bantal kecil bersarung beludru mewah, terbaring tiruan
Mahkota Agung.
Meski buatannya jelas berbeda ― tiruan ini lebih kasar dibanding
aslinya ― tapi ukuran dan bentuknya persis sama. Sebagai pengganti mutiara
besar di tengah mahkota asli, ada sebuah kaca putih yang bentuk dan
ukurannya sama hanya kaca itu tidak mengeluarkan cahaya seperti mutiara aslinya.
“Buyung?”
“Eh… iya. Benar-benar menakjubkan.”
Magek Tonjang mengangguk-angguk bangga. “Aku pun kehabisan
kata-kata untuk mengungkapkannya. Tiruan ini jauh lebih kasar dibanding tiruan
yang ada di istana Pagaruyung. Aku membuatnya di Melaka. Tukang perkakas di
Minangkabau akan membunuhku demi benda ini kalau aku menyuruh mereka membuat
tiruannya. Ada 84 mustika tiruan disini dan semua kubuat di Melaka. Lainnya,
120 mustika yang kau lihat itu asli semua.”
Kami berdua diam beberapa lama memadangi mahkota tiruan itu.
“Sayang sekali kamu tidak bisa menyetuhnya. Aku sudah memasang
alat-alat rahasia yang akan melepaskan kunci semua senjata rahasia dalam
ruangan ini saat mahkota itu kuangkat dari tempatnya. Kamu harus puas dengan
melihatnya saja.”
Magek Tonjang menutup peti pelan-pelan dengan gayanya yang khas.
Saat peti tertutup benda itu langsung bergerak turun dan setelah berada di
bawah permukaan, lantai kembali menutup. Benar-benar tempat penyimpanan yang
penuh rahasia. Ruang bawah tanah dibawah ruang bawah tanah. Tidak terbayang
betapa besar biaya yang sudah dikeluarkan oleh Magek Tonjang untuk membuat ini
semua.
“Sudah terlalu lama kita disini. Sebaiknya kita segera kembali ke
atas sebelum yang lain juga minta diizinkan melihat ruangan ini. Ayo,
buyung.”
Sambil keluar ruangan Magek Tonjang mengajarkan cara mengunci
semua pintu rahasia padaku. Tak berapa lama kami sudah berada lagi dalam
ruangan di balik ruang makan.
“Kenapa tuan membukakan rahasia ini padaku? Aku bisa saja berbuat
jahat dengan mencuri benda-benda itu?”
Magek Tonjang tergelak. “Kau? Berbuat jahat? Itu sama saja
mungkinnya kalau aku jadi raja Minangkabau! Pertama, kau sama sekali tidak
punya tampang seperti pencuri. Untuk menjadi pencuri dibutuhkan keinginan dan
hati yang sudah kau batukan. Kau punya kesempatan melarikan keris pusaka Datuk
Makhudum malam itu tetapi kau malah menjaganya. Tidak ada sedikit pun nyali
pencuri dalam darahmu, buyung.
“Kedua, aku pun mendapatkan benda-benda ini dengan mencuri. Jadi
kalau ada yang mencurinya dariku, aku tidak rugi apapun. Curi dibalas curi,
impas. Lagipula siapa yang bisa mencurinya dariku?”
Aku menyeringai.
“Dan ketiga”, ujar Magek Tonjang tegas. “Berhenti memanggilku
dengan sebutan tuan. Panggil aku uda. Tidak ada adik yang memanggil
kakaknya tuan. Jadi ingat baik-baik, buyung, kau adik Magek Tonjang. Para
raja pun merasa terhormat kalau bisa menjadi tamuku. Jadi bersikaplah seperti
adikku. Paham?”
“Paham, uda.”
Rapat masih berlangsung saat kami kembali memasuki ruangan. Magek
Tonjang menyuruh salah seorang pembantunya mengambilkan kursi untukku.
“Letakkan di samping kursiku”, perintahnya.
Dia tetap berdiri karena aku tidak langsung duduk. Kurasa ini
adalah perbuatan yang sangat luar biasa untuk manusia sepongah Magek
Tonjang. Ini membuat tamu-tamu lain jadi salah tingkah, kecuali Cinduamato
yang sedang menatap lekat-lekat ke arahku.
“Alang, tuan-tuan ini adalah tamu-tamu terhormat kita”, kata
kakak angkatku. “Yang duduk di sebelah kananmu adalah Tungku Tigo
Sajarangan yang bijaksana, Datuk Bandaro Putiah, Datuk Indomo,
dan Datuk Makhudum. Di sebelah Datuk Makhudum adalah Tuan Gadang, si
Harimau Campo Koto Piliang, panglima perang utama Minangkabau.”
Aku menghormat ke arah orang-orang tua yang diperkenalkan. Mereka
hanya mengangguk sekilas, tampak jelas kalau mereka tidak nyaman dengan
kehadiranku.
“Di sebelah kirimu adalah Tuan Salamek Panjang Gombak, kepala
pengawal istana dan pengawal pribadi Dang Tuanku. Lau berturut-turut dubalang Barakaik,
Baruliah, Tambahi dan Bujang Salamaik. Dan yang ada di depanmu adalah yang
mulia Tuan Mudo Cinduamato.”
Aku menghatur hormat pada hadirin lalu duduk diikuti Magek Tonjang.
“Sudah sampai dimana kita?”, tanya Magek Tonjang riang.
“Maaf, Rangkayo Magek. Rapat ini hanya untuk kalangan
tertentu. Orang luar…”
“Aku paham”, kata Magek Tonjang memotong ucapan Salamek
Panjang Gombak. “Dalam hal ini pun aku juga tidak termasuk kalangan
tertentu itu. Jadi silakan tuan-tuan teruskan tanpa
kehadiranku. Ayo, buyung, mari kuperkenalkan negeriku padamu…”
“Duduklah, Rangkayo”, kata Cinduamato tegas. “Kami rasa tidak
ada salahnya kalau adik Rangkayo juga ikut mendengarkan. Lagipula,
saya memang menunggu dia.”
Semakin nyata keterkejutan di wajah orang-orang terhormat itu.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, orang asing tak dikenal tiba-tiba bergabung
dalam rapat penting.
"Sebenarnya Rangkayo Alang ini bukan orang lain buat
saya", ujar Cinduamato. "Dia adalah salah seorang pengawal usaha
dagang Rangkayo Bakaluang Ameh. Bahkan keluarganya seperti... keluarga jauh
Bundo. Tempo hari sewaktu di Sungai Tarab, Dang Tuanku meminta bantuan Rangkayo
Alang. Tapi mungkin ada baiknya kita tanyakan, apa keperluan Rangkayo Alang datang
kemari, selain membawakan pesanan saya."
“Saya diperintahkan untuk membantu Tuan Mudo, dengan segala yang
kemampuan yang saya miliki", jawabku.
"Kami sedang mempersiapkan pasukan untuk menyerbu tempat
paling angker di muka bumi ini. Apakah itu termasuk dalam tugasmu?"
"Ya, itu termasuk dalam tugas saya."
Yang bereaksi paling awal ada Magek Tonjang. Dia sampai nyaris
berdiri dari duduknya, Matanya melotot menatapku.
“Apa maksud kata-katamu itu, buyung?”
“Kata-kata yang mana?”
“Tentang kau bergabung dengan pasukan Pagaruyung? Kau mau ikut
berperang?"
"Kecuali pasukan ini dibentuk untuk memperbaiki jalan dan
bendungan, ya, uda, aku bergabung dengan pasukan perang Pagaruyung."
"Tidak boleh!”, ujar Magek Tonjang tegas. “Sebagai kakakmu,
aku melarangmu ikut campur urusan istana. Paham kau?”
"Apakah yang uda lakukan saat ini bukan ikut campur urusan
istana?"
"Yang kulakukan berbeda, tidak ada hubungannya. Dengar,
selama kau ada disini, di rumahku, kau harus patuh pada kata-kataku."
Aku menyeringai. "Jangan repot-repot mengusirku, nanti aku
tersinggung. Tuan Mudo, kalau andika berkenan, kita bisa bicarakan ini di
tempat lain."
Aku hendak berdiri tapi Magek Tonjang menahan
lenganku. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara karena kemarahan
yang luar biasa. Tapi akhirnya dia berhasil menenangkan diri. Selama itu
tidak ada seorang pun diantara tetamu yang berani bersuara.
“Nanti kita bicarakan ini berdua", desisnya. "Silakan
diteruskan, Tuan Mudo.”
Tidak ada yang penting dalam pembicaraan itu. Aku sadar bahwa para
tetua tidak mau bicara terlalu banyak karena kehadiranku yang masih asing.
Cinduamato pun memahami keberatan mereka jadi dia hanya mengatakan beberapa hal
umum lalu semua orang beranjak pergi ke ruangan masing-masing yang sudah
disediakan.
“Ikut denganku”, kata Magek Tonjang. “Kita bicarakan sekarang.”
Cinduamato membuka kembali catatan
yang diberikan Anjuang padanya sebelum berangkat. Disana tertulis hasil laporan
pencarian Anjuang
Mahkota yang dililit ular adalah tera
diri Sang Sapurba yang dijadikan rajah olehnya dan untuk semua
keturunannya. Tera itu bisa dikatakan sebagai penghormatan yang diberikan Sang
Sapurba pada dua makhluk luar biasa yang pernah dijumpainya. Pertama, yang
dilambangkan dengan mahkota, adalah raja agung Iskandar Zulkarnain yang
beberapa kali datang dalam mimpinya. Sebagai panglima utama sang raja,
Sang Sapurba hanya patuh dan taat pada perintah Iskandar Zulkarnain. Yang
kedua adalah ular bidai yang menyembunyikan mahkota Iskandar Zulkarnain yang
jatuh ke laut dalam pelayaran Maharajo Dirajo.
Kalau menilik catatan yang ada, Sang
Sapurba memang pernah hidup beberapa ratus tahun yang silam. Dia pernah
menjejakkan kaki di bukit Siguntang dekat Dharmasraya sebelum sampai di
Minangkabau. Tetapi catatan tentang dirinya terhenti setelah dia kembali dari
pencarian mahkota yang hilang. Tidak disebutkan apakah dia berhasil atau gagal
tetapi ada keterangan bahwa Sang Sapurba pergi meninggalkan Minangkabau menuju
satu tempat yang berada diantara langit dan bumi.
Catatan itu ditutup dengan pendapat
pribadi Anjuang bahwa penulis berita dalam kitab adalah bermacam-macam orang
sehingga dia menafsirkan bahwa berita itu mungkin sekali adalah rekaan banyak
orang yang hidup pada masa Suri Dirajo. Kalau memang Sang Sapurba demikian
sakti tentu dia yang menjadi raja di Minangkabau, bukan Suri Dirajo.
Cinduamato membuka lembaran lain yang
baru datang pagi ini. Isinya catatan Anjuang tentang Suri Dirajo. Sebagian
besar Cinduamato sudah tahu tapi ada catatan yang membuatnya tertarik.
Tidak banyak diceritakan mengenai
keturunan Suri Dirajo sehingga tidak ada catatan siapa yang meneruskan
pemerintahan sepeninggalnya. Kitab-kitab lama cuma menyebutkan bahwa
dua orang bijak yang juga merupakan terusan darah Suri Dirajo sempat
berkuasa beberapa lama. Seluruh catatan tentang masa pemerintahan
kedua orang bijak ini, menyangkut tata hukum dan
pemerintahan, kini menjadi acuan di Minangkabau sampai hari ini.
Ada catatan yang hampir terlewatkan
oleh saya karena ditulis dengan tulisan kecil-kecil di salah satu kitab. Isinya
mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk Tuan Mudo. Disana disebutkan bahwa
beberapa kali datang utusan dari seseorang yang dihormati oleh kedua orang
bijak. Tidak jelas siapa utusan itu tetapi dia membantu kedua orang bijak mendirikan
pagar di sekeliling istana. Kalimat ini ditulis terpisah sehingga saya yakin
ada maksud tersembunyi di dalamnya.
Cinduamato tahu siapa kedua orang
bijak itu. Mereka adalah Datuk Parpatiah Nan Sabatang dan Datuk
Katumangguangan, dua leluhur yang menyusun asas hukum dan pemerintahan
Minangkabau. Buah karya mereka menjadi panutan dewan adat dalam memutuskan dan
mengatur kehidupan rakyat sampai hari ini. Cinduamato bahkan hapal isi
kitab-kitab tulisan kedua datuk terhormat itu.
Lingkungan istana memang dipagari
dengan bambu lapis tiga yang di dalam dan diantaranya diisi getah karet.
Sepanjang ingatan Cinduamato pagar itu tidak pernah diganti karena tidak lapuk
dimakan zaman. Yang dia tahu selama ini adalah fungsi getah itu sebagai perekat
sehingga bambu-bambu itu tidak pernah kisut dan tetap rapat. Tapi pagar itu
dibangun pada masa pemerintahan ayahnya, bukan pada masa pemerintahan kedua
datuk. Berarti pagar yang dimaksud disini adalah pagar lain yang boleh jadi
tidak dalam artian sebenarnya. Sangat mungkin yang dimaksud adalah pagar gaib
dan ini sudah termasuk dalam perkiraan Cinduamato. Pagar gaib inilah yang
sebenarnya menjadikan Bukit Gombak sebagai benteng yang tidak bisa ditembus.
Cinduamato ingat sewaktu dia kecil
dulu mendiang ayahnya sering mengatakan bahwa rumah mereka adalah tempat
teraman di dunia.
“Tentu saja”, ujar Romandung, nama
kecil Dang Tuanku. “Kita dilingkungi pagar bambu tak tertembus.”
Bambu atau ruyung yang memagari istana
itu menjadi asal muasal nama Pagaruyung. Tapi ayah mereka menanggapi kata-kata
Romandung hanya dengan senyuman. Setelah dia besar dan lebih mengerti barulah
Cinduamato paham kalau sebenarnya ada pagar tak terlihat yang melindungi
istana. Pagar gaib ini yang membuat istana tidak bisa dicapai musuh yang
sewaktu perang sudah mencapai kaki Bukit Gombak. Catatan yang dibuat ayahnya
mengatakan bahwa pasukan Minangkabau mendapat bantuan dari pasukan tak
terkalahkan yang dipimpin oleh panglima yang tak terkalahkan.
Panglima yang tak terkalahkan adalah
sebutan untuk Sang Sapurba.
Dalam peristiwa itu pasukan dari
seberang yang datang hendak mengambil Romandung dan Cinduamato dipukul mundur
sampai ke Dharmasraya. Nama besar Andika Rajo Alam Adityawarman semakin
disegani oleh para raja sampai ke Melaka. Pasukan seberang yang tidak
terkalahkan dalam berbagai pertempuran harus bertolak kembali ke negeri mereka
dengan membawa kekalahan.
Ingatan Cinduamato kembali pada
catatan pribadi ayahnya.
Angin kencang laksana badai tiba-tiba
bertiup tanpa ada tanda-tanda yang mendahuluinya. Udara dingin terasa menusuk
tulang sehingga kami menggigil. Kulihat Tuan Gadang pucat pasi sambil tangannya
membentuk mudra perlindungan, Datuk Bandaro Putiah membisikkan
mantra, Datuk Indomo menggenggam erat pedangnya dan keris Datuk Makhudum meredup
sinarnya. Salamek Panjang Gombak bertumpu di tombaknya seakan ada yang menekan
kedua bahunya.
Kami semua merasakan ada yang lewat di
atas kepala kami. Makhluk-makhluk tak kasat mata yang kehadiran mereka hanya
bisa dilihat dengan mata batin. Aku menebarkan pandang dan melihat prajuritku
rebah tak bergerak. Tinggal kami berenam yang masih bisa membuka mata tapi
tidak bisa menggerakkan ujung jari sekalipun. Panji pasukan seberang yang
hendak merampas kedua putraku sudah terlihat ujungnya diatas pagar. Kekalahan
kami hanya tinggal menunggu waktu.
Lalu aku mendengar bisikan itu di
telingaku. Jangan takut, kata suara itu. Tidak ada yang bisa menjatuhkan tangan
kotor mereka di tempat ini.
Samar-samar kulihat sosok seorang
lelaki tinggi besar berbahu lebar. Tangan kanannya menggenggam sebilah
keris bercahaya terang dan tangan kirinya menggenggam pedang yang
matanya sumbing di berbagai tempat. Hawa gaib dan hawa sakti berbaur di
sekeliling lelaki yang berdiri membelakangi kami itu.
Cuma ada satu pedang yang matanya sumbing di 99 tempat,
batin Cinduamato.
Cinduamato sejak awal sudah menduga
bahwa Alang Babega punya hubungan dengan Sang Sapurba. Semua yang dia ketahui
tentang pemuda itu cocok: berasal dari pulau Siguntur, ilmunya tidak lazim dan
yang paling nyata adalah rajah ular melilit mahkota di pangkal lengannya? Tapi
pertanyaannya adalah hubungan macam apa? Keturunan langsungkah atau keturunan
dari pengikutnya?
Aku dan Magek Tonjang terlibat perdebatan sengit di ruang rahasia
bawah tanah. Tentang keinginanku untuk membantu Dang Tuanku. Dia berjalan bolak
balik dari ujung ke ujung, sementara aku duduk bersandar menikmati nira manis
kesukaanku.
“Apa kau pikir perang itu seperti pergi berbelanja ke pasar,
tempat kau bisa kesana kemari melihat-lihat lalu pulang kalau tidak ada yang
menarik hatimu?”, tanya Magek Tonjang ketus. “Aku pernah pergi berperang,
buyung dan sekarang kukatakan padamu bahwa medan perang adalah neraka paling
nyata."
“Aku sudah pernah mendatangi tempat-tempat yang
dijaga dengan pengamanan paling hebat", lanjutnya. "Tapi tidak ada
tempat yang lebih mengerikan dibanding bukit Tambun Tulang. Istana Pagaruyung
memang mengerikan. Aku jatuh sakit sampai sebulan lamanya dan baru sembuh hanya
setelah aku mengembalikan mahkota yang kupinjam. Tapi aku berani datang mencuri
kesana. Aku berani bermain-main dengan legenda istana Pagaruyung.
“Bukit Tambun Tulang itu istana iblis, buyung. Entah apa yang
tinggal disana karena semua yang mencoba datang tidak pernah ada yang kembali
untuk menceritakan apa yang mereka lihat. Kematian yang pasti sudah menunggumu
kalau kau mendatangi tempat itu. Perang yang kau khayalkan ini adalah perang
yang pasti tidak bisa kau menangkan.”
“Semua orang pasti mati, uda. Yang membedakan adalah caranya,
terhormat atau tidak.”
“Puih! Tahu apa kamu tentang kehormatan? Aku merasa terhormat
hidup sebagai raja pencuri meskipun sekarang tidak lagi. Aku membuktikan diri
sebagai manusia yang tidak bisa disentuh oleh jaring-jaring hukum Minangkabau.
Aku lebih memilih mati sebagai pencuri ketimbang sebagai pahlawan perang.”
“Nasibku memang malang, tidak punya bakat mencuri sehingga tidak
mungkin mati terhormat sebagai raja sekalian pencuri."
“Apa yang kau cari dengan membela mereka, eh? Apa kau ingin
diangkat menjadi bangsawan? Kalau cuma itu, aku akan membelinya untukmu. Kau
tunjuklah satu negeri tempat kau ingin berkuasa disana dan besok pagi
keinginanmu sudah jadi kenyataan. Malam ini pun bisa kalau kau ingin sekali.”
“Aku tidak tahu kalau penghormatan bisa dibeli.”
“Tentu saja bisa! Aku bisa membeli apa saja yang ada di dunia
ini!”
Aku nyaris tak percaya kalau ada orang yang begini pandir
sekaligus gila di dunia ini. “Kalau begitu belikan Puti Bungsu.”
Magek Tonjang melotot mendengarnya. Aku juga balas melotot.
“Apa maksudmu?”, tanya Magek Tonjang.
“Bawakan Puti Bungsu ke Pagaruyung maka aku tidak akan berangkat
ke Bukit Tambun Tulang. Aku akan tinggal bersama uda disini selamanya.”
“Kau gila”, desis Magek Tonjang.
“Kenapa? Uda tidak sanggup membeli Puti Bungsu?”
Magek Tonjang menatapku berapi-api. Mendadak dia tertawa keras dan
panjang.
“Kau memang gila, buyung! Belum pernah kutemui orang yang lebih
gila dari pada dirimu! Baiklah, kalau memang itu maumu, akan kupenuhi. Tapi
harus kuakui seleramu boleh juga. Aku pernah melihat Puti Bungsu sekali dan
belum pernah kutemui perempuan yang lebih cantik darinya. Dia akan jadi
pendamping yang cocok untukmu.”
Aku terkesiap. Rupanya dia menafsirkan kata-kataku terlalu jauh.
“Uda salah menduga. Aku tidak menginginkan Puti Bungsu menjadi istriku. Puti
Bungsu adalah jodoh Dang Tuanku dan itu tidak akan bisa dirubah.”
“Eh? Lalu untuk apa aku membelinya?”
“Untuk mencegah perang ini. Tuan Mudo akan menarik pasukannya
kalau Puti Bungsu sudah kembali ke istana.”
Kemarahan kembali masuk ke kepala Magek Tonjang. “Aku tidak akan
mengeluarkan sereceh pun untuk kepentingan Pagaruyung. Nasib Puti Bungsu adalah
urusan mereka sendiri.”
“Kalau begitu aku akan tetap maju perang.”
“KAU PANDIR!”
Betul, aku yang mengajarinya bicara seperti itu,
“Biarlah begitu. Kurasa kita tidak akan mencapai titik temu, jadi
mari kita sepakat untuk tidak sepakat. Kalau uda tidak keberatan, aku mau istirahat.”
“Aku belum selesai bicara.”
Pertemuan dengan Alang sudah mengubah cara pandang Magek Tonjang
terhadap hidupnya. Dia sudah sebatang kara sejak muda. Keluarganya habis pada
masa perang Padang Sibusuk. Dia sendiri sudah sekarat kalau saja tidak ditolong
oleh seorang prajurit. Magek Tonjang lalu mengembara mengunjungi negeri-negeri
luar untuk menimba ilmu. Di negeri seberang dia berguru pada seorang sakti yang
mengajarinya segala macam kepandaian tak masuk akal. Gurunya mengatakan bahwa
dengan kepandaiannya dia bisa memasuki istana raja seberang yang setiap
jengkalnya dikawal prajurit terbaik. Magek Tonjang mencoba ilmunya dan
membawakan sebilah pedang buat gurunya sebagai bukti bahwa dia murid yang
berhasil.
Tapi gurunya malah murka dan mengusirnya. Magek Tonjang yang
kecewa lalu kembali ke Minangkabau. Dia semakin kecewa karena orang-orang yang
dulu dikenalnya sama sekali tidak memandang sebelah mata karena kemiskinannya.
Hal ini yang membuat Magek Tonjang terobsesi untuk menjadi kaya raya. Dengan kemampuannya
dia berhasil mewujudkan impiannya.
Tidak ada rasa peduli akan nasib orang-orang yang jadi korbannya.
Semakin susah korbannya, semakin puas Magek Jombang. Bahkan untuk mencari istri
pun dia tidak pernah berpikir. Perempuan bisa didapatnya dengan mudah. Dia
tampan, kaya dan sakti. Buat apa membebani diri dengan perempuan yang hanya
bisa merengek dan mencerewetinya. Lalu pertemuan dengan Alang merubah
semuanya. Dia masih tidak peduli pada orang lain tapi pada diri Alang dia
seolah menemukan bagian dirinya yang hilang. Akibatnya Magek Tonjang sangat
kecewa mendengar Alang akan menerjunkan diri dalam perang nanti.
“Kau sudah lihat semua isi tempat ini, buyung. Ini milikku
dan sekarang menjadi milikmu juga. Aku tidak punya keinginan lagi untuk menjadi
pencuri. Bahkan aku sudah berpikir untuk mencari istri. Aku sudah letih
mengikuti keinginanku. Kurencanakan kau pun akan tinggal disini bersama gadis
yang kau pilih menjadi istrimu. Tapi impian terakhirku ternyata tidak akan
pernah terwujud.”
Aku terharu mendengarnya. Benar-benar terharu, tapi tekadku sudah
bulat: aku adalah prajurit Sang Sapurba dan saat ini aku berkewajiban
menunaikan tugas yang kuemban.
Aku masuk ke bilik yang disediakan untukku, meninggalkan Magek
Tonjang yang kelihatan sangat merana.
Keesokan paginya pasukan diberangkatkan menuju Saruaso tempat
mereka akan bermarkas. Magek Tonjang tidak mengatakan apa-apa saat aku turun
dari rumah. Aku tidak menoleh lagi karena aku tahu air mukanya bisa
membuatku lemah hati.
Aku sudah jatuh sayang pada si raja pencuri.
Bersambung ke Bagian 6.
No comments:
Post a Comment