Wednesday, December 11, 2019

Ksatria Pagaruyung - Bagian 5


Seperti yang sudah kukatakan, aku paling susah kalau disuruh menentukan arah. Jadi aku baru bertemu dengan pasukan itu di luhak Agam, yang pada waktu itu juga belum aku ketahui namanya. Secara kebetulan aku berpapasan dengan Jombang yang sedang berjalan berdua seorang gadis berpakaian prajurit. Dia kaget melihatku dan berhenti.

“Kurasa aku mengenalmu”, katanya dengan nada kurang suka.

“Kau pandai. Bisakah aku meminta bantuanmu?”

“Bantuan apa?”

“Aku perlu bertemu dengan Cinduamato.”

Jelas keduanya tidak senang aku menyebut nama Cinduamato tanpa embel-embel Tuan Mudo. Hanya karena alasan sopan santun mereka tidak memakiku.

“Kau carilah sendiri”, kata Jombang kasar.

Keduanya lalu pergi. Seorang tua memberitahu kalau aku sekarang berada di luhak Agam. Seketika aku teringat pada si raja pencuri lalu menanyakan tempat tinggalnya. Si orang tua menunjuk ke arah sebuah rumah besar yang berdiri tepat di tengah-tengah wilayah itu. Halamannya luas dan sekarang dipenuhi oleh kubu para prajurit. Betapa jengkelnya aku melihat Jombang sedang berjalan menaiki tangga. Dia rupanya menyadari aku juga sedang menuju rumah itu sehingga berdiri menghadang di tengah tangga bersama si gadis prajurit.

“Mau apa kau kemari?”, tanya gadis itu jengkel.

“Siapa kau bertanya tentang urusanku?", balasku tak kurang ramahnya.
“Kurang ajar! Pergi!”

Tiba-tiba Magek Tonjang muncul di puncak tangga bersama Cinduamato, empat lelaki muda dan beberapa orang tua. Si raja pencuri senang bukan kepalang melihatku. Dia menyingkirkan Jombang seolah pemuda itu cuma sepotong ranting.

“Buyung! Sudah disini kau rupanya!”

Aku menyeringai saat dipeluk erat si raja pencuri. Jombang dan si gadis melotot tak percaya melihat semua itu. Aku mencibir pada mereka dari balik punggung Magek Tonjang. Kuberikan tatapan makan pencarianmu pada keduanya dan dibalas dengan tak kalah sengit.

“Perkenalkan, tuan-tuan”, kata Magek Tonjang bangga. “Ini adik angkat saya. Kalau tuan-tuan tidak keberatan kami minta izin sebentar untuk berbicara berdua saja.”

“Sebentar”, kataku. “Aku kemari mencari Cinduamato.”

Cinduamato turun dua anak tangga. “Apakah kau bawa barang yang kuminta?”

Kulemparkan sebuah sikat kuda padanya. Cinduamato memeriksa benda itu lalu mengangguk puas. “Jombang, simpan benda ini. Jangan sampai hilang”, katanya tegas. “Kita akan mengalahkan Gampo Cino dengan senjata paling sakti di Minangkabau ini.”

Aku menyeringai sementara yang lain melongo. “Kalau sampai hilang, kau akan kusuruh merangkak sampai ke ranah Sikalawi”, ancamku sambil berharap tempat itu cukup jauh dari sini.

Kepongahan Jombang luntur sudah. Tapi tidak demikian dengan si gadis.

“Siapa orang ini, Tuan Mudo?”, tanyanya ketus. "Banyak lagak sekali!"

“Jangan bicara macam itu pada adikku”, sambar Magek Tonjang tak kalah pedas. “Kalau kau tak suka, kau boleh pergi dari rumahku.”

“Jaga bicaramu, Magek”, tukas seorang tua kurus tinggi di samping Cinduamato.

“Kau juga boleh pergi, Salamek”, balas si raja pencuri. “Juga siapa saja yang tidak suka. Kalian tidak kuundang datang kemari jadi jangan salah artikan keramahanku di rumahku sendiri.”

Tanpa memedulikan tamu-tamunya, Magek Tonjang membawaku masuk ke ruang dalam. Bahkan Cinduamato sampai tertegun tapi tidak ada yang berani menghalangi Magek Tonjang. Ini rumahnya, dia berhak melakukan apapun yang dia mau disini. Itu adalah hukum paling tua di muka bumi ini. Tamu mungkin adalah raja, tapi jangan lupa, tuan rumah adalah raja diraja.

“Mereka sepertinya segan pada tuan”, kataku.

“Harus. Aku menyediakan semua keperluan mereka selama berada disini dengan cuma-cuma. Tapi sejak awal sudah kutekankan pada Cinduamato bahwa semiang pun aku tidak mau ikut campur dengan urusan istana. Urusan mereka siapa yang mau mereka perangi. Kalau mereka mengacau lagi atau bersikap tidak manis padamu, kutarik semua dukunganku.”

Mantap juga orang ini. Pencuri tapi bisa berkuasa seperti penghulu negeri.

Aku dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil di balik pintu ruang makan. Ada banyak lukisan, patung, lampu hias dan perabotan bermutu bagus disana.

“Milik tuankah semua barang berharga ini?”

Dia merengut. “Tidak ada satupun yang berharga disini. Barang-barang yang kamu lihat sekarang hanya penghias semata, tipuan untuk mata yang tidak terlatih. Nah, sekarang perhatikan baik-baik. Kau adalah orang pertama yang kuperlihatkan cara menggerakkan peralatan rahasia disini. Akan kuperlihatkan perlahan-lahan jadi kalau lain waktu kamu kemari, lakukan seperti yang kutunjukkan.”

Magek Tonjang memutar kepala salah satu patung ke arah kanan sampai setengah putaran. Lalu ditekannya gambar matahari pada lukisan gunung berwarna kebiruan di dinding kanan. Kemudian kursi jati berukir dekat lampu hias warna merah digesernya pelan-pelan sampai keempat kaki kursi itu tepat berada di sudut ubin.

“Bisa kah kau ikuti?”

“Bisa. Tapi untuk apa?”

“Hehe. Keajaibannya ada disini, buyung.”

Magek Tonjang melangkah ke satu ubin kosong di depan kursi itu. Ubin yang diinjaknya melesak sedikit lalu dinding di seberang membuka menampakkan sebuah tangga turun. Aku menyeringai saat Magek Tonjang membungkuk anggun penuh gaya.

“Lakukan persis yang aku tunjukkan. Kalau kau salah mengurutkannya, dari keempat dinding ini akan keluar anak-anak panah beracun. Kalau kau mencoba membuka pintu dengan paksa, lantai ini akan terbuka dan puluhan batang tombak yang sudah kuolesi racun siap menyate tubuhmu. Tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti urutannya.”

Aku mengangguk saja. Sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku untuk masuk lagi ke tempat ini. Kami kemudian melangkah menuruni tangga dan kegelapan menyambut saat sampai di anak tangga terbawah.

“Tuas pelita ada di sebelah kiri”, kata Magek Tonjang yang semakin bersemangat membuka rahasia ruangannya. “Ada dua tuas disana, tuas yang atas untuk melepaskan kalajengking, laba-laba berbisa dan ular sendok dari atap di atas kepalamu. Tuas yang bawah untuk menggerakkan kunci pengaman sehingga kamu bisa menggunakan tuas atas untuk menyalakan pelita.”

Terdengar suara batu api dicetuskan dan pelita menyala. Cuma pelita kecil di sudut ruangan sebesar itu tapi Magek Tonjang memasang beberapa butir berlian besar di titik tertentu sehingga pantulan cahaya pada batu-batu mulia itu membuat ruangan jadi lebih terang. Harus diakui kalau si raja pencuri ini punya daya khayal dan ilmu pertukangan yang luar biasa sehingga mampu mewujudkan khayalannya itu.

Ruangan itu kosong tanpa perabotan. Hanya ada selembar tikar rotan usang yang tersandar di dinding. Suasananya dingin lembab dan sangat misterius karena tercium bau aneh di udaranya. Aku langsung merasa tidak betah.
“Salamek Panjang Gombak menolak saat kuajak duduk. Dia malah melongok kesana kemari mencari tuas-tuas rahasia untuk membuka pintu tak terlihat. Aku sudah tahu dia akan melakukan itu. Tempat ini memang kubuat agar tidak ada yang betah duduk disini.”

Magek Tonjang mengambil tikar itu lalu membentangkannya. Aku melihat ada empat tonjolan kecil di bagian tengah tikar.

“Tepat di tengah ruangan ini ada bagian ubin yang mempunyai empat lubang kecil. Coba kau cari”, suruh Magek Tonjang.

“Tuan cari saja sendiri.”

Magek Tonjang tertawa. Dia lalu mengepaskan posisi tonjolan pada keempat lubang yang dimaksud. “Tahan nafasmu, buyung. Sebentar lagi kau akan melihat keajaiban kubentangkan di depan matamu.” 

Pelan sekali dia menekan ubin tempat lubang itu berada. Dinding sebelah kanan terbuka lebar. Sampai detik ini aku masih ingat dengan jelas kalau waktu itu aku terkesima melihat apa yang ada di balik dinding itu. Magek Tonjang tersenyum lebar melihat aku seperti kemasukan setan pandir.

“Astaga…”, bisikku.

“Nah, itu baru pujian”, kata Magek Tonjang riang. “Mari, buyung.”

Ruangan itu sama luasnya dengan ruang kosong sekarang. Tapi isinya benar-benar menakjubkan. Jelas yang ada di dalamnya adalah benda-benda mustika ajaib yang mengandung kekuatan tak kasat mata. Bisa kurasakan dari kuatnya hawa gaib yang memancar keluar dari ruangan itu. Pedang, keris, pisau, tombak, busur dan panah menghiasi ketiga dindingnya. Ada juga cermin hias berbingkai perak, peti-peti berukir yang tepinya dilapis emas serta jubah-jubah bersulam indah. Magek Tonjang membawaku berkeliling dalam ruangan itu sambil menerangkan dari mana saja dia mendapatkan benda-benda itu.

“Ini adalah milik seorang saudagar bermata sipit”, katanya sambil mengangkat sebuah piala kristal. “Kucuri sewaktu dia datang ke Pasai.”

“Apa itu Pasai?”, tanyaku.

Magek Tonjang melongo lalu tergelak karena mengiraku bercanda.

Cahaya aneka warna terpantul dari benda itu. Jantungku nyaris putus saat piala itu dilemparkan ke arahku dengan asal-asalan. Tawa Magek Tonjang semakin keras karena aku memaki-maki.

“Banting piala itu”, suruhnya.

“Dengan senang hati!”

Piala itu pecah berkeping-keping sambil mengeluarkan denging tinggi. Detik berikutnya semua kepingan itu bergerak menyatu kembali membentuk piala utuh! Aku sampai bersiul melihatnya.
“Entah hawa gaib apa yang mengikatnya sehingga dia selalu kembali utuh”, ujar Magek Tonjang bangga. “Salah satu mustika yang kubanggakan. Tapi yang terhebat diantara semuanya ada disini.”

Dia berjalan ke tengah ruangan. Ada ruang kosong selebar satu depa kali satu depa. Magek Tonjang membanting piala kristal disana. Tepat seperti tadi mustika itu kembali mengutuhkan diri tapi lantai kosong itu langsung membuka. Dari bawah keluar sebuah peti kayu hitam buruk. Buatannya kasar sekali sehingga sangat tak sedap dipandang mata.

“Ada pertanyaan?”

“Bagaimana cara Tuan membuka pintu rahasia itu?”

“Sudah kuduga kau akan bertanya demikian. Kuncinya ada pada suara denging saat piala ini pecah, buyung. Aku menemukan bahwa suara yang sangat tinggi bisa menggetarkan beberapa benda jadi kupasang tali-tali dibawah lantai ini. Ketika tali-tali itu bergetar maka kunci pengaman akan lepas sesaat lalu menggerakkan tuas untuk membuka pintu dan mengangkat peti keluar. Semua yang ada dalam ruangan ini adalah puncak segala ilmu pertukangan, buyung.

“Mendekatlah kemari. Kau telah memuaskan keinginanku melihat keris pusaka Datuk Makhudum dan sebagai balasannya aku akan menunjukkan padamu mustika yang cuma ada dua tiruannya di muka bumi ini.”
Aku sudah pernah melihat Mahkota Agung beberapa kali tapi aku ingin tahu seperti apa tiruannya.

“Peti ini tidak bisa dibakar atau dirusak. Ini bukan peti biasa, buyung. Aku mencampurkan besi dengan pasir lalu meneteskan bubuk kayu untuk membuatnya. Kamu boleh coba memancungnya kalau tidak percaya.”

“Cepatlah”, desakku.

“Dan sekarang… Mahkota Agung Iskandar Zulkarnain…”

Magek Jombang mengangkat tutup peti pelan-pelan.

“Sengaja tidak kupasang alat rahasia karena tidak ada yang tahu kalau aku mempunyai mustika ini. Jangan kedipkan matamu, buyung.”

Di atas bantal kecil bersarung beludru mewah, terbaring tiruan Mahkota Agung.

Meski buatannya jelas berbeda ― tiruan ini lebih kasar dibanding aslinya ― tapi ukuran dan bentuknya persis sama. Sebagai pengganti mutiara besar di tengah mahkota asli, ada sebuah kaca putih yang bentuk dan ukurannya sama hanya kaca itu tidak mengeluarkan cahaya seperti mutiara aslinya.

“Buyung?”

“Eh… iya. Benar-benar menakjubkan.”
Magek Tonjang mengangguk-angguk bangga. “Aku pun kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya. Tiruan ini jauh lebih kasar dibanding tiruan yang ada di istana Pagaruyung. Aku membuatnya di Melaka. Tukang perkakas di Minangkabau akan membunuhku demi benda ini kalau aku menyuruh mereka membuat tiruannya. Ada 84 mustika tiruan disini dan semua kubuat di Melaka. Lainnya, 120 mustika yang kau lihat itu asli semua.”

Kami berdua diam beberapa lama memadangi mahkota tiruan itu.

“Sayang sekali kamu tidak bisa menyetuhnya. Aku sudah memasang alat-alat rahasia yang akan melepaskan kunci semua senjata rahasia dalam ruangan ini saat mahkota itu kuangkat dari tempatnya. Kamu harus puas dengan melihatnya saja.”

Magek Tonjang menutup peti pelan-pelan dengan gayanya yang khas. Saat peti tertutup benda itu langsung bergerak turun dan setelah berada di bawah permukaan, lantai kembali menutup. Benar-benar tempat penyimpanan yang penuh rahasia. Ruang bawah tanah dibawah ruang bawah tanah. Tidak terbayang betapa besar biaya yang sudah dikeluarkan oleh Magek Tonjang untuk membuat ini semua.

“Sudah terlalu lama kita disini. Sebaiknya kita segera kembali ke atas sebelum yang lain juga minta diizinkan melihat ruangan ini. Ayo, buyung.”

Sambil keluar ruangan Magek Tonjang mengajarkan cara mengunci semua pintu rahasia padaku. Tak berapa lama kami sudah berada lagi dalam ruangan di balik ruang makan.
“Kenapa tuan membukakan rahasia ini padaku? Aku bisa saja berbuat jahat dengan mencuri benda-benda itu?”

Magek Tonjang tergelak. “Kau? Berbuat jahat? Itu sama saja mungkinnya kalau aku jadi raja Minangkabau! Pertama, kau sama sekali tidak punya tampang seperti pencuri. Untuk menjadi pencuri dibutuhkan keinginan dan hati yang sudah kau batukan. Kau punya kesempatan melarikan keris pusaka Datuk Makhudum malam itu tetapi kau malah menjaganya. Tidak ada sedikit pun nyali pencuri dalam darahmu, buyung.
“Kedua, aku pun mendapatkan benda-benda ini dengan mencuri. Jadi kalau ada yang mencurinya dariku, aku tidak rugi apapun. Curi dibalas curi, impas. Lagipula siapa yang bisa mencurinya dariku?”

Aku menyeringai.

“Dan ketiga”, ujar Magek Tonjang tegas. “Berhenti memanggilku dengan sebutan tuan. Panggil aku uda. Tidak ada adik yang memanggil kakaknya tuan. Jadi ingat baik-baik, buyung, kau adik Magek Tonjang. Para raja pun merasa terhormat kalau bisa menjadi tamuku. Jadi bersikaplah seperti adikku. Paham?”

“Paham, uda.”

Rapat masih berlangsung saat kami kembali memasuki ruangan. Magek Tonjang menyuruh salah seorang pembantunya mengambilkan kursi untukku.
“Letakkan di samping kursiku”, perintahnya.

Dia tetap berdiri karena aku tidak langsung duduk. Kurasa ini adalah perbuatan yang sangat luar biasa untuk manusia sepongah Magek Tonjang. Ini membuat tamu-tamu lain jadi salah tingkah, kecuali Cinduamato yang sedang menatap lekat-lekat ke arahku.

“Alang, tuan-tuan ini adalah tamu-tamu terhormat kita”, kata kakak angkatku. “Yang duduk di sebelah kananmu adalah Tungku Tigo Sajarangan yang bijaksana, Datuk Bandaro Putiah, Datuk Indomo, dan Datuk Makhudum. Di sebelah Datuk Makhudum adalah Tuan Gadang, si Harimau Campo Koto Piliang, panglima perang utama Minangkabau.”

Aku menghormat ke arah orang-orang tua yang diperkenalkan. Mereka hanya mengangguk sekilas, tampak jelas kalau mereka tidak nyaman dengan kehadiranku.

“Di sebelah kirimu adalah Tuan Salamek Panjang Gombak, kepala pengawal istana dan pengawal pribadi Dang Tuanku. Lau berturut-turut dubalang Barakaik, Baruliah, Tambahi dan Bujang Salamaik. Dan yang ada di depanmu adalah yang mulia Tuan Mudo Cinduamato.”

Aku menghatur hormat pada hadirin lalu duduk diikuti Magek Tonjang.

“Sudah sampai dimana kita?”, tanya Magek Tonjang riang.

“Maaf, Rangkayo Magek. Rapat ini hanya untuk kalangan tertentu. Orang luar…”
“Aku paham”, kata Magek Tonjang memotong ucapan Salamek Panjang Gombak. “Dalam hal ini pun aku juga tidak termasuk kalangan tertentu itu. Jadi silakan tuan-tuan teruskan tanpa kehadiranku. Ayo, buyung, mari kuperkenalkan negeriku padamu…”

“Duduklah, Rangkayo”, kata Cinduamato tegas. “Kami rasa tidak ada salahnya kalau adik Rangkayo juga ikut mendengarkan. Lagipula, saya memang menunggu dia.”

Semakin nyata keterkejutan di wajah orang-orang terhormat itu. Tidak ada angin, tidak ada hujan, orang asing tak dikenal tiba-tiba bergabung dalam rapat penting.

"Sebenarnya Rangkayo Alang ini bukan orang lain buat saya", ujar Cinduamato. "Dia adalah salah seorang pengawal usaha dagang Rangkayo Bakaluang Ameh. Bahkan keluarganya seperti... keluarga jauh Bundo. Tempo hari sewaktu di Sungai Tarab, Dang Tuanku meminta bantuan Rangkayo Alang. Tapi mungkin ada baiknya kita tanyakan, apa keperluan Rangkayo Alang datang kemari, selain membawakan pesanan saya."
“Saya diperintahkan untuk membantu Tuan Mudo, dengan segala yang kemampuan yang saya miliki", jawabku.
"Kami sedang mempersiapkan pasukan untuk menyerbu tempat paling angker di muka bumi ini. Apakah itu termasuk dalam tugasmu?"
"Ya, itu termasuk dalam tugas saya."
Yang bereaksi paling awal ada Magek Tonjang. Dia sampai nyaris berdiri dari duduknya, Matanya melotot menatapku.
“Apa maksud kata-katamu itu, buyung?”
“Kata-kata yang mana?”

“Tentang kau bergabung dengan pasukan Pagaruyung? Kau mau ikut berperang?"
"Kecuali pasukan ini dibentuk untuk memperbaiki jalan dan bendungan, ya, uda, aku bergabung dengan pasukan perang Pagaruyung."
"Tidak boleh!”, ujar Magek Tonjang tegas. “Sebagai kakakmu, aku melarangmu ikut campur urusan istana. Paham kau?”

"Apakah yang uda lakukan saat ini bukan ikut campur urusan istana?"
"Yang kulakukan berbeda, tidak ada hubungannya. Dengar, selama kau ada disini, di rumahku, kau harus patuh pada kata-kataku."
Aku menyeringai. "Jangan repot-repot mengusirku, nanti aku tersinggung. Tuan Mudo, kalau andika berkenan, kita bisa bicarakan ini di tempat lain."
Aku hendak berdiri tapi Magek Tonjang menahan lenganku. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara karena kemarahan yang luar biasa. Tapi akhirnya dia berhasil menenangkan diri. Selama itu tidak ada seorang pun diantara tetamu yang berani bersuara.
“Nanti kita bicarakan ini berdua", desisnya. "Silakan diteruskan, Tuan Mudo.”

Tidak ada yang penting dalam pembicaraan itu. Aku sadar bahwa para tetua tidak mau bicara terlalu banyak karena kehadiranku yang masih asing. Cinduamato pun memahami keberatan mereka jadi dia hanya mengatakan beberapa hal umum lalu semua orang beranjak pergi ke ruangan masing-masing yang sudah disediakan.

“Ikut denganku”, kata Magek Tonjang. “Kita bicarakan sekarang.”

 __________________________________________________

Cinduamato membuka kembali catatan yang diberikan Anjuang padanya sebelum berangkat. Disana tertulis hasil laporan pencarian Anjuang


Mahkota yang dililit ular adalah tera diri Sang Sapurba yang dijadikan rajah olehnya dan untuk semua keturunannya. Tera itu bisa dikatakan sebagai penghormatan yang diberikan Sang Sapurba pada dua makhluk luar biasa yang pernah dijumpainya. Pertama, yang dilambangkan dengan mahkota, adalah raja agung Iskandar Zulkarnain yang beberapa kali datang dalam mimpinya. Sebagai panglima utama sang raja, Sang Sapurba hanya patuh dan taat pada perintah Iskandar Zulkarnain. Yang kedua adalah ular bidai yang menyembunyikan mahkota Iskandar Zulkarnain yang jatuh ke laut dalam pelayaran Maharajo Dirajo.

Kalau menilik catatan yang ada, Sang Sapurba memang pernah hidup beberapa ratus tahun yang silam. Dia pernah menjejakkan kaki di bukit Siguntang dekat Dharmasraya sebelum sampai di Minangkabau. Tetapi catatan tentang dirinya terhenti setelah dia kembali dari pencarian mahkota yang hilang. Tidak disebutkan apakah dia berhasil atau gagal tetapi ada keterangan bahwa Sang Sapurba pergi meninggalkan Minangkabau menuju satu tempat yang berada diantara langit dan bumi.


Catatan itu ditutup dengan pendapat pribadi Anjuang bahwa penulis berita dalam kitab adalah bermacam-macam orang sehingga dia menafsirkan bahwa berita itu mungkin sekali adalah rekaan banyak orang yang hidup pada masa Suri Dirajo. Kalau memang Sang Sapurba demikian sakti tentu dia yang menjadi raja di Minangkabau, bukan Suri Dirajo.

Cinduamato membuka lembaran lain yang baru datang pagi ini. Isinya catatan Anjuang tentang Suri Dirajo. Sebagian besar Cinduamato sudah tahu tapi ada catatan yang membuatnya tertarik. 


Tidak banyak diceritakan mengenai keturunan Suri Dirajo sehingga tidak ada catatan siapa yang meneruskan pemerintahan sepeninggalnya. Kitab-kitab lama cuma menyebutkan bahwa dua orang bijak yang juga merupakan terusan darah Suri Dirajo sempat berkuasa beberapa lama. Seluruh catatan tentang masa pemerintahan kedua orang bijak ini, menyangkut tata hukum dan pemerintahan, kini menjadi acuan di Minangkabau sampai hari ini.

Ada catatan yang hampir terlewatkan oleh saya karena ditulis dengan tulisan kecil-kecil di salah satu kitab. Isinya mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk Tuan Mudo. Disana disebutkan bahwa beberapa kali datang utusan dari seseorang yang dihormati oleh kedua orang bijak. Tidak jelas siapa utusan itu tetapi dia membantu kedua orang bijak mendirikan pagar di sekeliling istana. Kalimat ini ditulis terpisah sehingga saya yakin ada maksud tersembunyi di dalamnya.


Cinduamato tahu siapa kedua orang bijak itu. Mereka adalah Datuk Parpatiah Nan Sabatang dan Datuk Katumangguangan, dua leluhur yang menyusun asas hukum dan pemerintahan Minangkabau. Buah karya mereka menjadi panutan dewan adat dalam memutuskan dan mengatur kehidupan rakyat sampai hari ini. Cinduamato bahkan hapal isi kitab-kitab tulisan kedua datuk terhormat itu.

Lingkungan istana memang dipagari dengan bambu lapis tiga yang di dalam dan diantaranya diisi getah karet. Sepanjang ingatan Cinduamato pagar itu tidak pernah diganti karena tidak lapuk dimakan zaman. Yang dia tahu selama ini adalah fungsi getah itu sebagai perekat sehingga bambu-bambu itu tidak pernah kisut dan tetap rapat. Tapi pagar itu dibangun pada masa pemerintahan ayahnya, bukan pada masa pemerintahan kedua datuk. Berarti pagar yang dimaksud disini adalah pagar lain yang boleh jadi tidak dalam artian sebenarnya. Sangat mungkin yang dimaksud adalah pagar gaib dan ini sudah termasuk dalam perkiraan Cinduamato. Pagar gaib inilah yang sebenarnya menjadikan Bukit Gombak sebagai benteng yang tidak bisa ditembus.

Cinduamato ingat sewaktu dia kecil dulu mendiang ayahnya sering mengatakan bahwa rumah mereka adalah tempat teraman di dunia.

“Tentu saja”, ujar Romandung, nama kecil Dang Tuanku. “Kita dilingkungi pagar bambu tak tertembus.”

Bambu atau ruyung yang memagari istana itu menjadi asal muasal nama Pagaruyung. Tapi ayah mereka menanggapi kata-kata Romandung hanya dengan senyuman. Setelah dia besar dan lebih mengerti barulah Cinduamato paham kalau sebenarnya ada pagar tak terlihat yang melindungi istana. Pagar gaib ini yang membuat istana tidak bisa dicapai musuh yang sewaktu perang sudah mencapai kaki Bukit Gombak. Catatan yang dibuat ayahnya mengatakan bahwa pasukan Minangkabau mendapat bantuan dari pasukan tak terkalahkan yang dipimpin oleh panglima yang tak terkalahkan. 
Panglima yang tak terkalahkan adalah sebutan untuk Sang Sapurba.

Dalam peristiwa itu pasukan dari seberang yang datang hendak mengambil Romandung dan Cinduamato dipukul mundur sampai ke Dharmasraya. Nama besar Andika Rajo Alam Adityawarman semakin disegani oleh para raja sampai ke Melaka. Pasukan seberang yang tidak terkalahkan dalam berbagai pertempuran harus bertolak kembali ke negeri mereka dengan membawa kekalahan.

Ingatan Cinduamato kembali pada catatan pribadi ayahnya.


Angin kencang laksana badai tiba-tiba bertiup tanpa ada tanda-tanda yang mendahuluinya. Udara dingin terasa menusuk tulang sehingga kami menggigil. Kulihat Tuan Gadang pucat pasi sambil tangannya membentuk mudra perlindungan, Datuk Bandaro Putiah membisikkan mantra, Datuk Indomo menggenggam erat pedangnya dan keris Datuk Makhudum meredup sinarnya. Salamek Panjang Gombak bertumpu di tombaknya seakan ada yang menekan kedua bahunya.

Kami semua merasakan ada yang lewat di atas kepala kami. Makhluk-makhluk tak kasat mata yang kehadiran mereka hanya bisa dilihat dengan mata batin. Aku menebarkan pandang dan melihat prajuritku rebah tak bergerak. Tinggal kami berenam yang masih bisa membuka mata tapi tidak bisa menggerakkan ujung jari sekalipun. Panji pasukan seberang yang hendak merampas kedua putraku sudah terlihat ujungnya diatas pagar. Kekalahan kami hanya tinggal menunggu waktu.

Lalu aku mendengar bisikan itu di telingaku. Jangan takut, kata suara itu. Tidak ada yang bisa menjatuhkan tangan kotor mereka di tempat ini.

Samar-samar kulihat sosok seorang lelaki tinggi besar berbahu lebar. Tangan kanannya menggenggam sebilah keris bercahaya terang dan tangan kirinya menggenggam pedang yang matanya sumbing di berbagai tempat. Hawa gaib dan hawa sakti berbaur di sekeliling lelaki yang berdiri membelakangi kami itu.


Cuma ada satu pedang yang matanya sumbing di 99 tempat, batin Cinduamato.

Cinduamato sejak awal sudah menduga bahwa Alang Babega punya hubungan dengan Sang Sapurba. Semua yang dia ketahui tentang pemuda itu cocok: berasal dari pulau Siguntur, ilmunya tidak lazim dan yang paling nyata adalah rajah ular melilit mahkota di pangkal lengannya? Tapi pertanyaannya adalah hubungan macam apa? Keturunan langsungkah atau keturunan dari pengikutnya?

Aku dan Magek Tonjang terlibat perdebatan sengit di ruang rahasia bawah tanah. Tentang keinginanku untuk membantu Dang Tuanku. Dia berjalan bolak balik dari ujung ke ujung, sementara aku duduk bersandar menikmati nira manis kesukaanku.

“Apa kau pikir perang itu seperti pergi berbelanja ke pasar, tempat kau bisa kesana kemari melihat-lihat lalu pulang kalau tidak ada yang menarik hatimu?”, tanya Magek Tonjang ketus. “Aku pernah pergi berperang, buyung dan sekarang kukatakan padamu bahwa medan perang adalah neraka paling nyata."
“Aku sudah pernah mendatangi tempat-tempat yang dijaga dengan pengamanan paling hebat", lanjutnya. "Tapi tidak ada tempat yang lebih mengerikan dibanding bukit Tambun Tulang. Istana Pagaruyung memang mengerikan. Aku jatuh sakit sampai sebulan lamanya dan baru sembuh hanya setelah aku mengembalikan mahkota yang kupinjam. Tapi aku berani datang mencuri kesana. Aku berani bermain-main dengan legenda istana Pagaruyung. 
“Bukit Tambun Tulang itu istana iblis, buyung. Entah apa yang tinggal disana karena semua yang mencoba datang tidak pernah ada yang kembali untuk menceritakan apa yang mereka lihat. Kematian yang pasti sudah menunggumu kalau kau mendatangi tempat itu. Perang yang kau khayalkan ini adalah perang yang pasti tidak bisa kau menangkan.”

“Semua orang pasti mati, uda. Yang membedakan adalah caranya, terhormat atau tidak.”

“Puih! Tahu apa kamu tentang kehormatan? Aku merasa terhormat hidup sebagai raja pencuri meskipun sekarang tidak lagi. Aku membuktikan diri sebagai manusia yang tidak bisa disentuh oleh jaring-jaring hukum Minangkabau. Aku lebih memilih mati sebagai pencuri ketimbang sebagai pahlawan perang.”

“Nasibku memang malang, tidak punya bakat mencuri sehingga tidak mungkin mati terhormat sebagai raja sekalian pencuri."
“Apa yang kau cari dengan membela mereka, eh? Apa kau ingin diangkat menjadi bangsawan? Kalau cuma itu, aku akan membelinya untukmu. Kau tunjuklah satu negeri tempat kau ingin berkuasa disana dan besok pagi keinginanmu sudah jadi kenyataan. Malam ini pun bisa kalau kau ingin sekali.”
“Aku tidak tahu kalau penghormatan bisa dibeli.”

“Tentu saja bisa! Aku bisa membeli apa saja yang ada di dunia ini!”
Aku nyaris tak percaya kalau ada orang yang begini pandir sekaligus gila di dunia ini. “Kalau begitu belikan Puti Bungsu.”

Magek Tonjang melotot mendengarnya. Aku juga balas melotot.

“Apa maksudmu?”, tanya Magek Tonjang.

“Bawakan Puti Bungsu ke Pagaruyung maka aku tidak akan berangkat ke Bukit Tambun Tulang. Aku akan tinggal bersama uda disini selamanya.”

“Kau gila”, desis Magek Tonjang.

“Kenapa? Uda tidak sanggup membeli Puti Bungsu?”

Magek Tonjang menatapku berapi-api. Mendadak dia tertawa keras dan panjang.

“Kau memang gila, buyung! Belum pernah kutemui orang yang lebih gila dari pada dirimu! Baiklah, kalau memang itu maumu, akan kupenuhi. Tapi harus kuakui seleramu boleh juga. Aku pernah melihat Puti Bungsu sekali dan belum pernah kutemui perempuan yang lebih cantik darinya. Dia akan jadi pendamping yang cocok untukmu.”

Aku terkesiap. Rupanya dia menafsirkan kata-kataku terlalu jauh. “Uda salah menduga. Aku tidak menginginkan Puti Bungsu menjadi istriku. Puti Bungsu adalah jodoh Dang Tuanku dan itu tidak akan bisa dirubah.”

“Eh? Lalu untuk apa aku membelinya?”

“Untuk mencegah perang ini. Tuan Mudo akan menarik pasukannya kalau Puti Bungsu sudah kembali ke istana.”
Kemarahan kembali masuk ke kepala Magek Tonjang. “Aku tidak akan mengeluarkan sereceh pun untuk kepentingan Pagaruyung. Nasib Puti Bungsu adalah urusan mereka sendiri.”

“Kalau begitu aku akan tetap maju perang.”

“KAU PANDIR!”

Betul, aku yang mengajarinya bicara seperti itu,
“Biarlah begitu. Kurasa kita tidak akan mencapai titik temu, jadi mari kita sepakat untuk tidak sepakat. Kalau uda tidak keberatan, aku mau istirahat.”

“Aku belum selesai bicara.”


Pertemuan dengan Alang sudah mengubah cara pandang Magek Tonjang terhadap hidupnya. Dia sudah sebatang kara sejak muda. Keluarganya habis pada masa perang Padang Sibusuk. Dia sendiri sudah sekarat kalau saja tidak ditolong oleh seorang prajurit. Magek Tonjang lalu mengembara mengunjungi negeri-negeri luar untuk menimba ilmu. Di negeri seberang dia berguru pada seorang sakti yang mengajarinya segala macam kepandaian tak masuk akal. Gurunya mengatakan bahwa dengan kepandaiannya dia bisa memasuki istana raja seberang yang setiap jengkalnya dikawal prajurit terbaik. Magek Tonjang mencoba ilmunya dan membawakan sebilah pedang buat gurunya sebagai bukti bahwa dia murid yang berhasil.

Tapi gurunya malah murka dan mengusirnya. Magek Tonjang yang kecewa lalu kembali ke Minangkabau. Dia semakin kecewa karena orang-orang yang dulu dikenalnya sama sekali tidak memandang sebelah mata karena kemiskinannya. Hal ini yang membuat Magek Tonjang terobsesi untuk menjadi kaya raya. Dengan kemampuannya dia berhasil mewujudkan impiannya.

Tidak ada rasa peduli akan nasib orang-orang yang jadi korbannya. Semakin susah korbannya, semakin puas Magek Jombang. Bahkan untuk mencari istri pun dia tidak pernah berpikir. Perempuan bisa didapatnya dengan mudah. Dia tampan, kaya dan sakti. Buat apa membebani diri dengan perempuan yang hanya bisa merengek dan mencerewetinya. Lalu pertemuan dengan Alang merubah semuanya. Dia masih tidak peduli pada orang lain tapi pada diri Alang dia seolah menemukan bagian dirinya yang hilang. Akibatnya Magek Tonjang sangat kecewa mendengar Alang akan menerjunkan diri dalam perang nanti.


“Kau sudah lihat semua isi tempat ini, buyung. Ini milikku dan sekarang menjadi milikmu juga. Aku tidak punya keinginan lagi untuk menjadi pencuri. Bahkan aku sudah berpikir untuk mencari istri. Aku sudah letih mengikuti keinginanku. Kurencanakan kau pun akan tinggal disini bersama gadis yang kau pilih menjadi istrimu. Tapi impian terakhirku ternyata tidak akan pernah terwujud.”

Aku terharu mendengarnya. Benar-benar terharu, tapi tekadku sudah bulat: aku adalah prajurit Sang Sapurba dan saat ini aku berkewajiban menunaikan tugas yang kuemban. 

Aku masuk ke bilik yang disediakan untukku, meninggalkan Magek Tonjang yang kelihatan sangat merana.
Keesokan paginya pasukan diberangkatkan menuju Saruaso tempat mereka akan bermarkas. Magek Tonjang tidak mengatakan apa-apa saat aku turun dari rumah. Aku tidak menoleh lagi karena aku tahu air mukanya bisa membuatku lemah hati.
Aku sudah jatuh sayang pada si raja pencuri.


Bersambung ke Bagian 6.

No comments:

Post a Comment