Wednesday, December 11, 2019

Ksatria Pagaruyung - Bagian 5


Seperti yang sudah kukatakan, aku paling susah kalau disuruh menentukan arah. Jadi aku baru bertemu dengan pasukan itu di luhak Agam, yang pada waktu itu juga belum aku ketahui namanya. Secara kebetulan aku berpapasan dengan Jombang yang sedang berjalan berdua seorang gadis berpakaian prajurit. Dia kaget melihatku dan berhenti.

“Kurasa aku mengenalmu”, katanya dengan nada kurang suka.

“Kau pandai. Bisakah aku meminta bantuanmu?”

“Bantuan apa?”

“Aku perlu bertemu dengan Cinduamato.”

Jelas keduanya tidak senang aku menyebut nama Cinduamato tanpa embel-embel Tuan Mudo. Hanya karena alasan sopan santun mereka tidak memakiku.

“Kau carilah sendiri”, kata Jombang kasar.

Keduanya lalu pergi. Seorang tua memberitahu kalau aku sekarang berada di luhak Agam. Seketika aku teringat pada si raja pencuri lalu menanyakan tempat tinggalnya. Si orang tua menunjuk ke arah sebuah rumah besar yang berdiri tepat di tengah-tengah wilayah itu. Halamannya luas dan sekarang dipenuhi oleh kubu para prajurit. Betapa jengkelnya aku melihat Jombang sedang berjalan menaiki tangga. Dia rupanya menyadari aku juga sedang menuju rumah itu sehingga berdiri menghadang di tengah tangga bersama si gadis prajurit.

“Mau apa kau kemari?”, tanya gadis itu jengkel.

“Siapa kau bertanya tentang urusanku?", balasku tak kurang ramahnya.
“Kurang ajar! Pergi!”

Tiba-tiba Magek Tonjang muncul di puncak tangga bersama Cinduamato, empat lelaki muda dan beberapa orang tua. Si raja pencuri senang bukan kepalang melihatku. Dia menyingkirkan Jombang seolah pemuda itu cuma sepotong ranting.

“Buyung! Sudah disini kau rupanya!”

Aku menyeringai saat dipeluk erat si raja pencuri. Jombang dan si gadis melotot tak percaya melihat semua itu. Aku mencibir pada mereka dari balik punggung Magek Tonjang. Kuberikan tatapan makan pencarianmu pada keduanya dan dibalas dengan tak kalah sengit.

“Perkenalkan, tuan-tuan”, kata Magek Tonjang bangga. “Ini adik angkat saya. Kalau tuan-tuan tidak keberatan kami minta izin sebentar untuk berbicara berdua saja.”

“Sebentar”, kataku. “Aku kemari mencari Cinduamato.”

Cinduamato turun dua anak tangga. “Apakah kau bawa barang yang kuminta?”

Kulemparkan sebuah sikat kuda padanya. Cinduamato memeriksa benda itu lalu mengangguk puas. “Jombang, simpan benda ini. Jangan sampai hilang”, katanya tegas. “Kita akan mengalahkan Gampo Cino dengan senjata paling sakti di Minangkabau ini.”

Aku menyeringai sementara yang lain melongo. “Kalau sampai hilang, kau akan kusuruh merangkak sampai ke ranah Sikalawi”, ancamku sambil berharap tempat itu cukup jauh dari sini.

Kepongahan Jombang luntur sudah. Tapi tidak demikian dengan si gadis.

“Siapa orang ini, Tuan Mudo?”, tanyanya ketus. "Banyak lagak sekali!"

“Jangan bicara macam itu pada adikku”, sambar Magek Tonjang tak kalah pedas. “Kalau kau tak suka, kau boleh pergi dari rumahku.”

“Jaga bicaramu, Magek”, tukas seorang tua kurus tinggi di samping Cinduamato.

“Kau juga boleh pergi, Salamek”, balas si raja pencuri. “Juga siapa saja yang tidak suka. Kalian tidak kuundang datang kemari jadi jangan salah artikan keramahanku di rumahku sendiri.”

Tanpa memedulikan tamu-tamunya, Magek Tonjang membawaku masuk ke ruang dalam. Bahkan Cinduamato sampai tertegun tapi tidak ada yang berani menghalangi Magek Tonjang. Ini rumahnya, dia berhak melakukan apapun yang dia mau disini. Itu adalah hukum paling tua di muka bumi ini. Tamu mungkin adalah raja, tapi jangan lupa, tuan rumah adalah raja diraja.

“Mereka sepertinya segan pada tuan”, kataku.

“Harus. Aku menyediakan semua keperluan mereka selama berada disini dengan cuma-cuma. Tapi sejak awal sudah kutekankan pada Cinduamato bahwa semiang pun aku tidak mau ikut campur dengan urusan istana. Urusan mereka siapa yang mau mereka perangi. Kalau mereka mengacau lagi atau bersikap tidak manis padamu, kutarik semua dukunganku.”

Mantap juga orang ini. Pencuri tapi bisa berkuasa seperti penghulu negeri.

Aku dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil di balik pintu ruang makan. Ada banyak lukisan, patung, lampu hias dan perabotan bermutu bagus disana.

“Milik tuankah semua barang berharga ini?”

Dia merengut. “Tidak ada satupun yang berharga disini. Barang-barang yang kamu lihat sekarang hanya penghias semata, tipuan untuk mata yang tidak terlatih. Nah, sekarang perhatikan baik-baik. Kau adalah orang pertama yang kuperlihatkan cara menggerakkan peralatan rahasia disini. Akan kuperlihatkan perlahan-lahan jadi kalau lain waktu kamu kemari, lakukan seperti yang kutunjukkan.”

Magek Tonjang memutar kepala salah satu patung ke arah kanan sampai setengah putaran. Lalu ditekannya gambar matahari pada lukisan gunung berwarna kebiruan di dinding kanan. Kemudian kursi jati berukir dekat lampu hias warna merah digesernya pelan-pelan sampai keempat kaki kursi itu tepat berada di sudut ubin.

“Bisa kah kau ikuti?”

“Bisa. Tapi untuk apa?”

“Hehe. Keajaibannya ada disini, buyung.”

Magek Tonjang melangkah ke satu ubin kosong di depan kursi itu. Ubin yang diinjaknya melesak sedikit lalu dinding di seberang membuka menampakkan sebuah tangga turun. Aku menyeringai saat Magek Tonjang membungkuk anggun penuh gaya.

“Lakukan persis yang aku tunjukkan. Kalau kau salah mengurutkannya, dari keempat dinding ini akan keluar anak-anak panah beracun. Kalau kau mencoba membuka pintu dengan paksa, lantai ini akan terbuka dan puluhan batang tombak yang sudah kuolesi racun siap menyate tubuhmu. Tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti urutannya.”

Aku mengangguk saja. Sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku untuk masuk lagi ke tempat ini. Kami kemudian melangkah menuruni tangga dan kegelapan menyambut saat sampai di anak tangga terbawah.

“Tuas pelita ada di sebelah kiri”, kata Magek Tonjang yang semakin bersemangat membuka rahasia ruangannya. “Ada dua tuas disana, tuas yang atas untuk melepaskan kalajengking, laba-laba berbisa dan ular sendok dari atap di atas kepalamu. Tuas yang bawah untuk menggerakkan kunci pengaman sehingga kamu bisa menggunakan tuas atas untuk menyalakan pelita.”

Terdengar suara batu api dicetuskan dan pelita menyala. Cuma pelita kecil di sudut ruangan sebesar itu tapi Magek Tonjang memasang beberapa butir berlian besar di titik tertentu sehingga pantulan cahaya pada batu-batu mulia itu membuat ruangan jadi lebih terang. Harus diakui kalau si raja pencuri ini punya daya khayal dan ilmu pertukangan yang luar biasa sehingga mampu mewujudkan khayalannya itu.

Ruangan itu kosong tanpa perabotan. Hanya ada selembar tikar rotan usang yang tersandar di dinding. Suasananya dingin lembab dan sangat misterius karena tercium bau aneh di udaranya. Aku langsung merasa tidak betah.
“Salamek Panjang Gombak menolak saat kuajak duduk. Dia malah melongok kesana kemari mencari tuas-tuas rahasia untuk membuka pintu tak terlihat. Aku sudah tahu dia akan melakukan itu. Tempat ini memang kubuat agar tidak ada yang betah duduk disini.”

Magek Tonjang mengambil tikar itu lalu membentangkannya. Aku melihat ada empat tonjolan kecil di bagian tengah tikar.

“Tepat di tengah ruangan ini ada bagian ubin yang mempunyai empat lubang kecil. Coba kau cari”, suruh Magek Tonjang.

“Tuan cari saja sendiri.”

Magek Tonjang tertawa. Dia lalu mengepaskan posisi tonjolan pada keempat lubang yang dimaksud. “Tahan nafasmu, buyung. Sebentar lagi kau akan melihat keajaiban kubentangkan di depan matamu.” 

Pelan sekali dia menekan ubin tempat lubang itu berada. Dinding sebelah kanan terbuka lebar. Sampai detik ini aku masih ingat dengan jelas kalau waktu itu aku terkesima melihat apa yang ada di balik dinding itu. Magek Tonjang tersenyum lebar melihat aku seperti kemasukan setan pandir.

“Astaga…”, bisikku.

“Nah, itu baru pujian”, kata Magek Tonjang riang. “Mari, buyung.”

Ruangan itu sama luasnya dengan ruang kosong sekarang. Tapi isinya benar-benar menakjubkan. Jelas yang ada di dalamnya adalah benda-benda mustika ajaib yang mengandung kekuatan tak kasat mata. Bisa kurasakan dari kuatnya hawa gaib yang memancar keluar dari ruangan itu. Pedang, keris, pisau, tombak, busur dan panah menghiasi ketiga dindingnya. Ada juga cermin hias berbingkai perak, peti-peti berukir yang tepinya dilapis emas serta jubah-jubah bersulam indah. Magek Tonjang membawaku berkeliling dalam ruangan itu sambil menerangkan dari mana saja dia mendapatkan benda-benda itu.

“Ini adalah milik seorang saudagar bermata sipit”, katanya sambil mengangkat sebuah piala kristal. “Kucuri sewaktu dia datang ke Pasai.”

“Apa itu Pasai?”, tanyaku.

Magek Tonjang melongo lalu tergelak karena mengiraku bercanda.

Cahaya aneka warna terpantul dari benda itu. Jantungku nyaris putus saat piala itu dilemparkan ke arahku dengan asal-asalan. Tawa Magek Tonjang semakin keras karena aku memaki-maki.

“Banting piala itu”, suruhnya.

“Dengan senang hati!”

Piala itu pecah berkeping-keping sambil mengeluarkan denging tinggi. Detik berikutnya semua kepingan itu bergerak menyatu kembali membentuk piala utuh! Aku sampai bersiul melihatnya.
“Entah hawa gaib apa yang mengikatnya sehingga dia selalu kembali utuh”, ujar Magek Tonjang bangga. “Salah satu mustika yang kubanggakan. Tapi yang terhebat diantara semuanya ada disini.”

Dia berjalan ke tengah ruangan. Ada ruang kosong selebar satu depa kali satu depa. Magek Tonjang membanting piala kristal disana. Tepat seperti tadi mustika itu kembali mengutuhkan diri tapi lantai kosong itu langsung membuka. Dari bawah keluar sebuah peti kayu hitam buruk. Buatannya kasar sekali sehingga sangat tak sedap dipandang mata.

“Ada pertanyaan?”

“Bagaimana cara Tuan membuka pintu rahasia itu?”

“Sudah kuduga kau akan bertanya demikian. Kuncinya ada pada suara denging saat piala ini pecah, buyung. Aku menemukan bahwa suara yang sangat tinggi bisa menggetarkan beberapa benda jadi kupasang tali-tali dibawah lantai ini. Ketika tali-tali itu bergetar maka kunci pengaman akan lepas sesaat lalu menggerakkan tuas untuk membuka pintu dan mengangkat peti keluar. Semua yang ada dalam ruangan ini adalah puncak segala ilmu pertukangan, buyung.

“Mendekatlah kemari. Kau telah memuaskan keinginanku melihat keris pusaka Datuk Makhudum dan sebagai balasannya aku akan menunjukkan padamu mustika yang cuma ada dua tiruannya di muka bumi ini.”
Aku sudah pernah melihat Mahkota Agung beberapa kali tapi aku ingin tahu seperti apa tiruannya.

“Peti ini tidak bisa dibakar atau dirusak. Ini bukan peti biasa, buyung. Aku mencampurkan besi dengan pasir lalu meneteskan bubuk kayu untuk membuatnya. Kamu boleh coba memancungnya kalau tidak percaya.”

“Cepatlah”, desakku.

“Dan sekarang… Mahkota Agung Iskandar Zulkarnain…”

Magek Jombang mengangkat tutup peti pelan-pelan.

“Sengaja tidak kupasang alat rahasia karena tidak ada yang tahu kalau aku mempunyai mustika ini. Jangan kedipkan matamu, buyung.”

Di atas bantal kecil bersarung beludru mewah, terbaring tiruan Mahkota Agung.

Meski buatannya jelas berbeda ― tiruan ini lebih kasar dibanding aslinya ― tapi ukuran dan bentuknya persis sama. Sebagai pengganti mutiara besar di tengah mahkota asli, ada sebuah kaca putih yang bentuk dan ukurannya sama hanya kaca itu tidak mengeluarkan cahaya seperti mutiara aslinya.

“Buyung?”

“Eh… iya. Benar-benar menakjubkan.”
Magek Tonjang mengangguk-angguk bangga. “Aku pun kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya. Tiruan ini jauh lebih kasar dibanding tiruan yang ada di istana Pagaruyung. Aku membuatnya di Melaka. Tukang perkakas di Minangkabau akan membunuhku demi benda ini kalau aku menyuruh mereka membuat tiruannya. Ada 84 mustika tiruan disini dan semua kubuat di Melaka. Lainnya, 120 mustika yang kau lihat itu asli semua.”

Kami berdua diam beberapa lama memadangi mahkota tiruan itu.

“Sayang sekali kamu tidak bisa menyetuhnya. Aku sudah memasang alat-alat rahasia yang akan melepaskan kunci semua senjata rahasia dalam ruangan ini saat mahkota itu kuangkat dari tempatnya. Kamu harus puas dengan melihatnya saja.”

Magek Tonjang menutup peti pelan-pelan dengan gayanya yang khas. Saat peti tertutup benda itu langsung bergerak turun dan setelah berada di bawah permukaan, lantai kembali menutup. Benar-benar tempat penyimpanan yang penuh rahasia. Ruang bawah tanah dibawah ruang bawah tanah. Tidak terbayang betapa besar biaya yang sudah dikeluarkan oleh Magek Tonjang untuk membuat ini semua.

“Sudah terlalu lama kita disini. Sebaiknya kita segera kembali ke atas sebelum yang lain juga minta diizinkan melihat ruangan ini. Ayo, buyung.”

Sambil keluar ruangan Magek Tonjang mengajarkan cara mengunci semua pintu rahasia padaku. Tak berapa lama kami sudah berada lagi dalam ruangan di balik ruang makan.
“Kenapa tuan membukakan rahasia ini padaku? Aku bisa saja berbuat jahat dengan mencuri benda-benda itu?”

Magek Tonjang tergelak. “Kau? Berbuat jahat? Itu sama saja mungkinnya kalau aku jadi raja Minangkabau! Pertama, kau sama sekali tidak punya tampang seperti pencuri. Untuk menjadi pencuri dibutuhkan keinginan dan hati yang sudah kau batukan. Kau punya kesempatan melarikan keris pusaka Datuk Makhudum malam itu tetapi kau malah menjaganya. Tidak ada sedikit pun nyali pencuri dalam darahmu, buyung.
“Kedua, aku pun mendapatkan benda-benda ini dengan mencuri. Jadi kalau ada yang mencurinya dariku, aku tidak rugi apapun. Curi dibalas curi, impas. Lagipula siapa yang bisa mencurinya dariku?”

Aku menyeringai.

“Dan ketiga”, ujar Magek Tonjang tegas. “Berhenti memanggilku dengan sebutan tuan. Panggil aku uda. Tidak ada adik yang memanggil kakaknya tuan. Jadi ingat baik-baik, buyung, kau adik Magek Tonjang. Para raja pun merasa terhormat kalau bisa menjadi tamuku. Jadi bersikaplah seperti adikku. Paham?”

“Paham, uda.”

Rapat masih berlangsung saat kami kembali memasuki ruangan. Magek Tonjang menyuruh salah seorang pembantunya mengambilkan kursi untukku.
“Letakkan di samping kursiku”, perintahnya.

Dia tetap berdiri karena aku tidak langsung duduk. Kurasa ini adalah perbuatan yang sangat luar biasa untuk manusia sepongah Magek Tonjang. Ini membuat tamu-tamu lain jadi salah tingkah, kecuali Cinduamato yang sedang menatap lekat-lekat ke arahku.

“Alang, tuan-tuan ini adalah tamu-tamu terhormat kita”, kata kakak angkatku. “Yang duduk di sebelah kananmu adalah Tungku Tigo Sajarangan yang bijaksana, Datuk Bandaro Putiah, Datuk Indomo, dan Datuk Makhudum. Di sebelah Datuk Makhudum adalah Tuan Gadang, si Harimau Campo Koto Piliang, panglima perang utama Minangkabau.”

Aku menghormat ke arah orang-orang tua yang diperkenalkan. Mereka hanya mengangguk sekilas, tampak jelas kalau mereka tidak nyaman dengan kehadiranku.

“Di sebelah kirimu adalah Tuan Salamek Panjang Gombak, kepala pengawal istana dan pengawal pribadi Dang Tuanku. Lau berturut-turut dubalang Barakaik, Baruliah, Tambahi dan Bujang Salamaik. Dan yang ada di depanmu adalah yang mulia Tuan Mudo Cinduamato.”

Aku menghatur hormat pada hadirin lalu duduk diikuti Magek Tonjang.

“Sudah sampai dimana kita?”, tanya Magek Tonjang riang.

“Maaf, Rangkayo Magek. Rapat ini hanya untuk kalangan tertentu. Orang luar…”
“Aku paham”, kata Magek Tonjang memotong ucapan Salamek Panjang Gombak. “Dalam hal ini pun aku juga tidak termasuk kalangan tertentu itu. Jadi silakan tuan-tuan teruskan tanpa kehadiranku. Ayo, buyung, mari kuperkenalkan negeriku padamu…”

“Duduklah, Rangkayo”, kata Cinduamato tegas. “Kami rasa tidak ada salahnya kalau adik Rangkayo juga ikut mendengarkan. Lagipula, saya memang menunggu dia.”

Semakin nyata keterkejutan di wajah orang-orang terhormat itu. Tidak ada angin, tidak ada hujan, orang asing tak dikenal tiba-tiba bergabung dalam rapat penting.

"Sebenarnya Rangkayo Alang ini bukan orang lain buat saya", ujar Cinduamato. "Dia adalah salah seorang pengawal usaha dagang Rangkayo Bakaluang Ameh. Bahkan keluarganya seperti... keluarga jauh Bundo. Tempo hari sewaktu di Sungai Tarab, Dang Tuanku meminta bantuan Rangkayo Alang. Tapi mungkin ada baiknya kita tanyakan, apa keperluan Rangkayo Alang datang kemari, selain membawakan pesanan saya."
“Saya diperintahkan untuk membantu Tuan Mudo, dengan segala yang kemampuan yang saya miliki", jawabku.
"Kami sedang mempersiapkan pasukan untuk menyerbu tempat paling angker di muka bumi ini. Apakah itu termasuk dalam tugasmu?"
"Ya, itu termasuk dalam tugas saya."
Yang bereaksi paling awal ada Magek Tonjang. Dia sampai nyaris berdiri dari duduknya, Matanya melotot menatapku.
“Apa maksud kata-katamu itu, buyung?”
“Kata-kata yang mana?”

“Tentang kau bergabung dengan pasukan Pagaruyung? Kau mau ikut berperang?"
"Kecuali pasukan ini dibentuk untuk memperbaiki jalan dan bendungan, ya, uda, aku bergabung dengan pasukan perang Pagaruyung."
"Tidak boleh!”, ujar Magek Tonjang tegas. “Sebagai kakakmu, aku melarangmu ikut campur urusan istana. Paham kau?”

"Apakah yang uda lakukan saat ini bukan ikut campur urusan istana?"
"Yang kulakukan berbeda, tidak ada hubungannya. Dengar, selama kau ada disini, di rumahku, kau harus patuh pada kata-kataku."
Aku menyeringai. "Jangan repot-repot mengusirku, nanti aku tersinggung. Tuan Mudo, kalau andika berkenan, kita bisa bicarakan ini di tempat lain."
Aku hendak berdiri tapi Magek Tonjang menahan lenganku. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara karena kemarahan yang luar biasa. Tapi akhirnya dia berhasil menenangkan diri. Selama itu tidak ada seorang pun diantara tetamu yang berani bersuara.
“Nanti kita bicarakan ini berdua", desisnya. "Silakan diteruskan, Tuan Mudo.”

Tidak ada yang penting dalam pembicaraan itu. Aku sadar bahwa para tetua tidak mau bicara terlalu banyak karena kehadiranku yang masih asing. Cinduamato pun memahami keberatan mereka jadi dia hanya mengatakan beberapa hal umum lalu semua orang beranjak pergi ke ruangan masing-masing yang sudah disediakan.

“Ikut denganku”, kata Magek Tonjang. “Kita bicarakan sekarang.”

 __________________________________________________

Cinduamato membuka kembali catatan yang diberikan Anjuang padanya sebelum berangkat. Disana tertulis hasil laporan pencarian Anjuang


Mahkota yang dililit ular adalah tera diri Sang Sapurba yang dijadikan rajah olehnya dan untuk semua keturunannya. Tera itu bisa dikatakan sebagai penghormatan yang diberikan Sang Sapurba pada dua makhluk luar biasa yang pernah dijumpainya. Pertama, yang dilambangkan dengan mahkota, adalah raja agung Iskandar Zulkarnain yang beberapa kali datang dalam mimpinya. Sebagai panglima utama sang raja, Sang Sapurba hanya patuh dan taat pada perintah Iskandar Zulkarnain. Yang kedua adalah ular bidai yang menyembunyikan mahkota Iskandar Zulkarnain yang jatuh ke laut dalam pelayaran Maharajo Dirajo.

Kalau menilik catatan yang ada, Sang Sapurba memang pernah hidup beberapa ratus tahun yang silam. Dia pernah menjejakkan kaki di bukit Siguntang dekat Dharmasraya sebelum sampai di Minangkabau. Tetapi catatan tentang dirinya terhenti setelah dia kembali dari pencarian mahkota yang hilang. Tidak disebutkan apakah dia berhasil atau gagal tetapi ada keterangan bahwa Sang Sapurba pergi meninggalkan Minangkabau menuju satu tempat yang berada diantara langit dan bumi.


Catatan itu ditutup dengan pendapat pribadi Anjuang bahwa penulis berita dalam kitab adalah bermacam-macam orang sehingga dia menafsirkan bahwa berita itu mungkin sekali adalah rekaan banyak orang yang hidup pada masa Suri Dirajo. Kalau memang Sang Sapurba demikian sakti tentu dia yang menjadi raja di Minangkabau, bukan Suri Dirajo.

Cinduamato membuka lembaran lain yang baru datang pagi ini. Isinya catatan Anjuang tentang Suri Dirajo. Sebagian besar Cinduamato sudah tahu tapi ada catatan yang membuatnya tertarik. 


Tidak banyak diceritakan mengenai keturunan Suri Dirajo sehingga tidak ada catatan siapa yang meneruskan pemerintahan sepeninggalnya. Kitab-kitab lama cuma menyebutkan bahwa dua orang bijak yang juga merupakan terusan darah Suri Dirajo sempat berkuasa beberapa lama. Seluruh catatan tentang masa pemerintahan kedua orang bijak ini, menyangkut tata hukum dan pemerintahan, kini menjadi acuan di Minangkabau sampai hari ini.

Ada catatan yang hampir terlewatkan oleh saya karena ditulis dengan tulisan kecil-kecil di salah satu kitab. Isinya mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk Tuan Mudo. Disana disebutkan bahwa beberapa kali datang utusan dari seseorang yang dihormati oleh kedua orang bijak. Tidak jelas siapa utusan itu tetapi dia membantu kedua orang bijak mendirikan pagar di sekeliling istana. Kalimat ini ditulis terpisah sehingga saya yakin ada maksud tersembunyi di dalamnya.


Cinduamato tahu siapa kedua orang bijak itu. Mereka adalah Datuk Parpatiah Nan Sabatang dan Datuk Katumangguangan, dua leluhur yang menyusun asas hukum dan pemerintahan Minangkabau. Buah karya mereka menjadi panutan dewan adat dalam memutuskan dan mengatur kehidupan rakyat sampai hari ini. Cinduamato bahkan hapal isi kitab-kitab tulisan kedua datuk terhormat itu.

Lingkungan istana memang dipagari dengan bambu lapis tiga yang di dalam dan diantaranya diisi getah karet. Sepanjang ingatan Cinduamato pagar itu tidak pernah diganti karena tidak lapuk dimakan zaman. Yang dia tahu selama ini adalah fungsi getah itu sebagai perekat sehingga bambu-bambu itu tidak pernah kisut dan tetap rapat. Tapi pagar itu dibangun pada masa pemerintahan ayahnya, bukan pada masa pemerintahan kedua datuk. Berarti pagar yang dimaksud disini adalah pagar lain yang boleh jadi tidak dalam artian sebenarnya. Sangat mungkin yang dimaksud adalah pagar gaib dan ini sudah termasuk dalam perkiraan Cinduamato. Pagar gaib inilah yang sebenarnya menjadikan Bukit Gombak sebagai benteng yang tidak bisa ditembus.

Cinduamato ingat sewaktu dia kecil dulu mendiang ayahnya sering mengatakan bahwa rumah mereka adalah tempat teraman di dunia.

“Tentu saja”, ujar Romandung, nama kecil Dang Tuanku. “Kita dilingkungi pagar bambu tak tertembus.”

Bambu atau ruyung yang memagari istana itu menjadi asal muasal nama Pagaruyung. Tapi ayah mereka menanggapi kata-kata Romandung hanya dengan senyuman. Setelah dia besar dan lebih mengerti barulah Cinduamato paham kalau sebenarnya ada pagar tak terlihat yang melindungi istana. Pagar gaib ini yang membuat istana tidak bisa dicapai musuh yang sewaktu perang sudah mencapai kaki Bukit Gombak. Catatan yang dibuat ayahnya mengatakan bahwa pasukan Minangkabau mendapat bantuan dari pasukan tak terkalahkan yang dipimpin oleh panglima yang tak terkalahkan. 
Panglima yang tak terkalahkan adalah sebutan untuk Sang Sapurba.

Dalam peristiwa itu pasukan dari seberang yang datang hendak mengambil Romandung dan Cinduamato dipukul mundur sampai ke Dharmasraya. Nama besar Andika Rajo Alam Adityawarman semakin disegani oleh para raja sampai ke Melaka. Pasukan seberang yang tidak terkalahkan dalam berbagai pertempuran harus bertolak kembali ke negeri mereka dengan membawa kekalahan.

Ingatan Cinduamato kembali pada catatan pribadi ayahnya.


Angin kencang laksana badai tiba-tiba bertiup tanpa ada tanda-tanda yang mendahuluinya. Udara dingin terasa menusuk tulang sehingga kami menggigil. Kulihat Tuan Gadang pucat pasi sambil tangannya membentuk mudra perlindungan, Datuk Bandaro Putiah membisikkan mantra, Datuk Indomo menggenggam erat pedangnya dan keris Datuk Makhudum meredup sinarnya. Salamek Panjang Gombak bertumpu di tombaknya seakan ada yang menekan kedua bahunya.

Kami semua merasakan ada yang lewat di atas kepala kami. Makhluk-makhluk tak kasat mata yang kehadiran mereka hanya bisa dilihat dengan mata batin. Aku menebarkan pandang dan melihat prajuritku rebah tak bergerak. Tinggal kami berenam yang masih bisa membuka mata tapi tidak bisa menggerakkan ujung jari sekalipun. Panji pasukan seberang yang hendak merampas kedua putraku sudah terlihat ujungnya diatas pagar. Kekalahan kami hanya tinggal menunggu waktu.

Lalu aku mendengar bisikan itu di telingaku. Jangan takut, kata suara itu. Tidak ada yang bisa menjatuhkan tangan kotor mereka di tempat ini.

Samar-samar kulihat sosok seorang lelaki tinggi besar berbahu lebar. Tangan kanannya menggenggam sebilah keris bercahaya terang dan tangan kirinya menggenggam pedang yang matanya sumbing di berbagai tempat. Hawa gaib dan hawa sakti berbaur di sekeliling lelaki yang berdiri membelakangi kami itu.


Cuma ada satu pedang yang matanya sumbing di 99 tempat, batin Cinduamato.

Cinduamato sejak awal sudah menduga bahwa Alang Babega punya hubungan dengan Sang Sapurba. Semua yang dia ketahui tentang pemuda itu cocok: berasal dari pulau Siguntur, ilmunya tidak lazim dan yang paling nyata adalah rajah ular melilit mahkota di pangkal lengannya? Tapi pertanyaannya adalah hubungan macam apa? Keturunan langsungkah atau keturunan dari pengikutnya?

Aku dan Magek Tonjang terlibat perdebatan sengit di ruang rahasia bawah tanah. Tentang keinginanku untuk membantu Dang Tuanku. Dia berjalan bolak balik dari ujung ke ujung, sementara aku duduk bersandar menikmati nira manis kesukaanku.

“Apa kau pikir perang itu seperti pergi berbelanja ke pasar, tempat kau bisa kesana kemari melihat-lihat lalu pulang kalau tidak ada yang menarik hatimu?”, tanya Magek Tonjang ketus. “Aku pernah pergi berperang, buyung dan sekarang kukatakan padamu bahwa medan perang adalah neraka paling nyata."
“Aku sudah pernah mendatangi tempat-tempat yang dijaga dengan pengamanan paling hebat", lanjutnya. "Tapi tidak ada tempat yang lebih mengerikan dibanding bukit Tambun Tulang. Istana Pagaruyung memang mengerikan. Aku jatuh sakit sampai sebulan lamanya dan baru sembuh hanya setelah aku mengembalikan mahkota yang kupinjam. Tapi aku berani datang mencuri kesana. Aku berani bermain-main dengan legenda istana Pagaruyung. 
“Bukit Tambun Tulang itu istana iblis, buyung. Entah apa yang tinggal disana karena semua yang mencoba datang tidak pernah ada yang kembali untuk menceritakan apa yang mereka lihat. Kematian yang pasti sudah menunggumu kalau kau mendatangi tempat itu. Perang yang kau khayalkan ini adalah perang yang pasti tidak bisa kau menangkan.”

“Semua orang pasti mati, uda. Yang membedakan adalah caranya, terhormat atau tidak.”

“Puih! Tahu apa kamu tentang kehormatan? Aku merasa terhormat hidup sebagai raja pencuri meskipun sekarang tidak lagi. Aku membuktikan diri sebagai manusia yang tidak bisa disentuh oleh jaring-jaring hukum Minangkabau. Aku lebih memilih mati sebagai pencuri ketimbang sebagai pahlawan perang.”

“Nasibku memang malang, tidak punya bakat mencuri sehingga tidak mungkin mati terhormat sebagai raja sekalian pencuri."
“Apa yang kau cari dengan membela mereka, eh? Apa kau ingin diangkat menjadi bangsawan? Kalau cuma itu, aku akan membelinya untukmu. Kau tunjuklah satu negeri tempat kau ingin berkuasa disana dan besok pagi keinginanmu sudah jadi kenyataan. Malam ini pun bisa kalau kau ingin sekali.”
“Aku tidak tahu kalau penghormatan bisa dibeli.”

“Tentu saja bisa! Aku bisa membeli apa saja yang ada di dunia ini!”
Aku nyaris tak percaya kalau ada orang yang begini pandir sekaligus gila di dunia ini. “Kalau begitu belikan Puti Bungsu.”

Magek Tonjang melotot mendengarnya. Aku juga balas melotot.

“Apa maksudmu?”, tanya Magek Tonjang.

“Bawakan Puti Bungsu ke Pagaruyung maka aku tidak akan berangkat ke Bukit Tambun Tulang. Aku akan tinggal bersama uda disini selamanya.”

“Kau gila”, desis Magek Tonjang.

“Kenapa? Uda tidak sanggup membeli Puti Bungsu?”

Magek Tonjang menatapku berapi-api. Mendadak dia tertawa keras dan panjang.

“Kau memang gila, buyung! Belum pernah kutemui orang yang lebih gila dari pada dirimu! Baiklah, kalau memang itu maumu, akan kupenuhi. Tapi harus kuakui seleramu boleh juga. Aku pernah melihat Puti Bungsu sekali dan belum pernah kutemui perempuan yang lebih cantik darinya. Dia akan jadi pendamping yang cocok untukmu.”

Aku terkesiap. Rupanya dia menafsirkan kata-kataku terlalu jauh. “Uda salah menduga. Aku tidak menginginkan Puti Bungsu menjadi istriku. Puti Bungsu adalah jodoh Dang Tuanku dan itu tidak akan bisa dirubah.”

“Eh? Lalu untuk apa aku membelinya?”

“Untuk mencegah perang ini. Tuan Mudo akan menarik pasukannya kalau Puti Bungsu sudah kembali ke istana.”
Kemarahan kembali masuk ke kepala Magek Tonjang. “Aku tidak akan mengeluarkan sereceh pun untuk kepentingan Pagaruyung. Nasib Puti Bungsu adalah urusan mereka sendiri.”

“Kalau begitu aku akan tetap maju perang.”

“KAU PANDIR!”

Betul, aku yang mengajarinya bicara seperti itu,
“Biarlah begitu. Kurasa kita tidak akan mencapai titik temu, jadi mari kita sepakat untuk tidak sepakat. Kalau uda tidak keberatan, aku mau istirahat.”

“Aku belum selesai bicara.”


Pertemuan dengan Alang sudah mengubah cara pandang Magek Tonjang terhadap hidupnya. Dia sudah sebatang kara sejak muda. Keluarganya habis pada masa perang Padang Sibusuk. Dia sendiri sudah sekarat kalau saja tidak ditolong oleh seorang prajurit. Magek Tonjang lalu mengembara mengunjungi negeri-negeri luar untuk menimba ilmu. Di negeri seberang dia berguru pada seorang sakti yang mengajarinya segala macam kepandaian tak masuk akal. Gurunya mengatakan bahwa dengan kepandaiannya dia bisa memasuki istana raja seberang yang setiap jengkalnya dikawal prajurit terbaik. Magek Tonjang mencoba ilmunya dan membawakan sebilah pedang buat gurunya sebagai bukti bahwa dia murid yang berhasil.

Tapi gurunya malah murka dan mengusirnya. Magek Tonjang yang kecewa lalu kembali ke Minangkabau. Dia semakin kecewa karena orang-orang yang dulu dikenalnya sama sekali tidak memandang sebelah mata karena kemiskinannya. Hal ini yang membuat Magek Tonjang terobsesi untuk menjadi kaya raya. Dengan kemampuannya dia berhasil mewujudkan impiannya.

Tidak ada rasa peduli akan nasib orang-orang yang jadi korbannya. Semakin susah korbannya, semakin puas Magek Jombang. Bahkan untuk mencari istri pun dia tidak pernah berpikir. Perempuan bisa didapatnya dengan mudah. Dia tampan, kaya dan sakti. Buat apa membebani diri dengan perempuan yang hanya bisa merengek dan mencerewetinya. Lalu pertemuan dengan Alang merubah semuanya. Dia masih tidak peduli pada orang lain tapi pada diri Alang dia seolah menemukan bagian dirinya yang hilang. Akibatnya Magek Tonjang sangat kecewa mendengar Alang akan menerjunkan diri dalam perang nanti.


“Kau sudah lihat semua isi tempat ini, buyung. Ini milikku dan sekarang menjadi milikmu juga. Aku tidak punya keinginan lagi untuk menjadi pencuri. Bahkan aku sudah berpikir untuk mencari istri. Aku sudah letih mengikuti keinginanku. Kurencanakan kau pun akan tinggal disini bersama gadis yang kau pilih menjadi istrimu. Tapi impian terakhirku ternyata tidak akan pernah terwujud.”

Aku terharu mendengarnya. Benar-benar terharu, tapi tekadku sudah bulat: aku adalah prajurit Sang Sapurba dan saat ini aku berkewajiban menunaikan tugas yang kuemban. 

Aku masuk ke bilik yang disediakan untukku, meninggalkan Magek Tonjang yang kelihatan sangat merana.
Keesokan paginya pasukan diberangkatkan menuju Saruaso tempat mereka akan bermarkas. Magek Tonjang tidak mengatakan apa-apa saat aku turun dari rumah. Aku tidak menoleh lagi karena aku tahu air mukanya bisa membuatku lemah hati.
Aku sudah jatuh sayang pada si raja pencuri.


Bersambung ke Bagian 6.

Ksatria Pagaruyung - Bagian 4


Cinduamato menerima kedatangan para petarung di ruangannya, terkadang sampai tiga kali sehari. Ini adalah pekerjaan rutinnya sejak kembali dari Sungai Tarab. Para petarung mulai berdatangan ke Pagaruyung sejak tersebar kabar bahwa akan ada penyerbuan ke ranah Sikalawi, negerinya Tuanku Indodewa sebagai pembalasan istana atas penghinaan terhadap Dang Tuanku. Pihak istana paham betul bahwa kabar itu disebarkan oleh Kelompok Tujuh untuk mengadu domba kedua belah pihak. Segala usaha yang dikerahkan oleh Cinduamato untuk menangkis kabar palsu itu sia-sia belaka. Mungkin rakyat juga sudah marah karena perilaku keluarga Tuanku Indodewa. 
Para petarung itu datang dari berbagai perguruan silat di Minangkabau. Beberapa diantara mereka ada juga yang datang secara perorangan, tidak mewakili perguruan mereka. Satu persamaannya yaitu mereka semua siap menyerbu kapan pun diperintahkan.
“Saya tekankan sekali lagi pada dunsanak semua, tidak ada penyerbuan ke ranah Sikalawi atau kemana pun”, papar Cinduamato. “Mak uniang Indodewa adalah mamak kami, beliau saudara kandung kedua Bundo. Hubungan keluarga istana Pagaruyung dengan keluarga istana Sikalawi baik-baik saja.”
“Mohon ampun, Tuan Mudo, tapi kami mendengar langsung dari dubalang Barakaik bahwa pasukan sedang disiapkan untuk menuju ranah Sikalawi”, ujar salah satu petarung. “Apakah itu tidak berarti perang? Kami pun tidak punya silang sengketa dengan rakyat ranah Sikalawi tapi kalau mereka membangkang titah Dang Tuanku, biar pedang kami yang meluruskannya.”
Cinduamato tersenyum bijak pada yang bicara. Petarung itu namanya Datuk Kaliang, bekas seorang penyamun tunggal yang bermukim di sisi barat hutan Tilatang Kamang. Dulu pada suatu ketika, Cinduamato datang ke sarang penyamun itu dan menaklukkan kebuasannya dalam pertarungan sehari penuh. Di akhir pertarungan, Cinduamato melepaskan orang itu, bahkan menjanjikan pertarungan ulang kapan saja kalau Datuk Kaliang tidak puas.
Tapi bukan itu yang membuat sang penyamun takluk.
Pertarungan itu terjadi hampir sembilan tahun yang silam, saat Cinduamato masih berusia tiga belas tahun, masih sangat belia, sedangkan usia Datuk Kaliang lebih dari tiga kali usia Cinduamato. Dia datang ke daerah samunan Datuk Kaliang seorang diri menunggang kudanya, tanpa memperkenalkan dirinya sebagai pangeran Pagaruyung. Sikap ksatria Cinduamato yang membuat Datuk Kaliang takluk dan bersumpah setia pada Pagaruyung.
“Sama sekali bukan, Datuk. Kabar yang Datuk dan dunsanak semua dengar diluaran sesungguhnya adalah kabar palsu yang disebarkan oleh Kelompok Tujuh. Kami justru ingin meminta bantuan dunsanak semua untuk ikut meluruskan kepada peduduk negeri Minangkabau.
“Yang benar adalah Dang Tuanku sudah memerintahkan saya untuk membentuk rombongan sebagai perutusan untuk menyampaikan tanda putih hati istana Pagaruyung atas pertunangan sepupu kami Puti Bungsu dengan Tuan Mudo Imbang Jayo.”
Penjelasan itu tidak sepenuhnya dapat diterima oleh para petarung karena tidak ada satu pun anak negeri Minangkabau yang dapat menerima pertunangan Puti Bungsu dengan Tuan Mudo Imbang jayo. Dalam hati kecil mereka jodohnya Puti Bungsu tetap Dang Tuanku. 
“Dunsanak semua mungkin bertanya-tanya, apakah istana Pagaruyung tidak tersinggung karena pertunangan diputuskan secara sepihak? Disinilah bedanya kita dengan Dang Tuanku. Rajo Alam mengesampingkan alasan pribadinya dan lebih mendahulukan kepentingan keluarga. Buat Dang Tuangku putusnya pertunangan dengan Puti Bungsu berarti cuma masalah keduanya tidak berjodoh. Mungkin jodoh Puti Bungsu adalah Tuan Mudo Imbang Jayo.”
"Kami juga melihat latihan perang semakin digiatkan belakangan ini", kata seorang petarung separuh baya yang kepalanya diikat destar merah darah. "Apakah itu juga bagian dari persiapan perutusan ke ranah Sikalawi?"
"Ya, betul", jawab Cinduamato tegas. "Kami memang menyiapkan pasukan untuk mengawal rombongan pengantar tanda putih hati. Dunsanak semua tahu bahwa untuk sampai ke ranah Sikalawi, kami harus melewati bukit Tambun Tulang. Tak perlu saya ceritakan seperti apa tempat itu. Kalau tidak dengan bantuan kekuatan pasukan, bagaimana mungkin kami bisa mengantar titipan Bundo Kandung untuk Puti Bungsu.”
Para petarung terdiam karena paham betul apa yang dimaksud oleh Cinduamato. Tidak ada yang tahu persis seperti apa bukit Tambun Tulang. Semua yang datang ke tempat itu tidak ada yang pernah kembali. Datuk Gampo Cino yang berkuasa di sana konon adalah keturunan raja jin dari dasar laut. Dengan sombongnya dia menetapkan satu hukum di Tambun Tulang: binatang lalu, binatang mati, manusia lalu, manusia mati, raja lalu, raja mati.
“Kami siap ikut dalam pasukan”, ujar seorang petarung dari perguruan lain. “Murid-murid kami akan bergabung dengan pasukan Pagaruyung dalam waktu dekat.”
“Kami sangat berterima kasih atas kesediaan dunsanak semua membantu istana. Tetapi kami lebih membutuhkan tenaga dan kepandaian dunsanak untuk tetap tinggal dan menjaga keamanan negeri dunsanak masing-masing. Banyak pihak yang ingin mengail di air keruh dalam keadaan seperti ini. Tak perlulah saya sebutkan siapa mereka, dunsanak semua tentu sudah paham."
"Kalau saja dulu itu Lalek Tuah dan Silangkaneh tidak dalam jaminan perlindungan yang Tuan Mudo berikan, nama mereka pun mungkin tidak pulang lagi ke Batanghari", tukas seorang petarung muda.
"Dunsanak semua bebas melakukan apa saja kalau bertemu lagi dengan mereka. Mungkin saat itu saya sedang sibuk di ranah Sikalawi dan tidak mendengar apa-apa."
Para hadirin tertawa. 
Meski sudah disampaikan demikian, beberapa perguruan tetap mengirimkan murid-murid terbaik mereka ke Pagaruyung. Oleh Cinduamato mereka ditempatkan dalam satu kesatuan khusus yang terdiri dari para petarung. Orang-orang itu memang tidak rendah ilmu silatnya tetapi tidak bisa digabungkan dengan prajurit yang dilatih dengan dasar ilmu bertempur. Akan mengacaukan barisan kalau mereka dipadukan.
Tidak ada penduduk negeri yang tahu bahwa Tungku Tigo Sajarangan dan Tuan Gadang pun saling berbenturan pendapat dalam hal ini. Pendapat empat orang tetua itu terpecah menjadi dua. Datuk Bandaro Putiah dan Tuan Gadang menyetujui pasukan diberangkatkan karena sepak terjang Datuk Gampo Cino dan komplotannya sudah harus dihentikan. Ini seperti sekali tepuk dua lalat jatuh. Kejahatan dihapuskan, tanda putih hati pun sampai di tujuan. Tetapi Datuk Indomo dan Datuk Makhudum tidak setuju. Rombongan tidak harus melewati bukit Tambun Tulang tetapi bisa memutar ke arah barat. Kedua Datuk itu berpendapat tidak ada gunanya berperang dengan pihak Tambun Tulang karena akan membawa kerugian besar. Kalah jadi abu, menang jadi arang, sama-sama rugi.
Serangkaian sidang yang panjang harus ditempuh oleh Dang Tuanku untuk meyakinkan Datuk Indomo dan Datuk Makhudum bahwa penduduk negeri di wilayah sekitar bukit Tambun Tulang sudah mulai merasa mereka ditinggalkan oleh Rajo Alam. Bahkan ada dua dusun yang sudah ditinggalkan penghuninya lari mencari selamat.
“Kalau memang kita tidak akan mendengarkan keluhan mereka, sebaiknya kita tarik garis baru yang menandai batas wilayah Minangkabau. Biarlah mereka menjadi beban orang lain”, kata Dang Tuanku. “Dan kalau negeri-negeri lain tiba-tiba menghendaki hal serupa karena merasa tidak lagi mendapat perlindungan dari kita, ini berarti saya sudah gagal menjaga kepercayaan mendiang ayahanda. Tinggal satu hal yang dapat saya buat dalam keadaan demikian: mengembalikan tahta kepada rakyat dan pergi mengasingkan diri bersama kedua Bundo dan Cinduamato. Mungkin ini sudah menjadi jalan suratan bahwa kebesaran dan keagungan ayahanda berakhir di tangan putranya yang tidak pantas menjadi raja.”
Kenangan akan kebesaran Andika Adityawarman seketika membanjiri ingatan Datuk Indomo dan Datuk Makhudum. Betapa mereka dulu bersama-sama bersusah payah membangun negeri ini. Di masa pemerintahan Andika Adityawarman, para kepala negeri yang jauh datang menghadap ke bukit Gombak dan menyatakan diri sebagai bagian dari Minangkabau. Lalu saat pasukan dari seberang datang hendak mengambil Dang Tuanku dan Cinduamato, semua bahu membahu dalam pertempuran berdarah di Padang Sibusuk. Perang bukan barang baru untuk orang Minangkabau. 
Tapi Datuk Indomo dan Datuk Makhudum curiga pada niatan Dang Tuanku, karena melihat pada jumlah pasukan yang dihimpunnya. Istilah mengantarkan ‘tanda putih hati ke ranah Sikalawi’ sangat mudah diartikan sebagai niatan menghukum Tuanku Indodewa karena perbuatannya. Ini yang tidak diinginkan oleh Datuk Indomo dan Datuk Makhudum. Rajo Alam tidak berhak menggunakan kekuasaannya untuk memuaskan hasrat dan balas dendam pribadinya.
“Rajo Alam yang kami junjung tinggi”, ujar Datuk Indomo perlahan. “Dibuang kami jauh, digantung kami tinggi. Bukan maksud kami hendak mengingkari keberadaaan negeri-negeri yang berada dalam wilayah Minangkabau. Tetapi saya izinkanlah saya berterus terang kepada andika dan semua yang hadir di balairung ini. Pasukan yang Rajo Alam himpun rasanya agak berlebihan. Seribu orang bukan jumlah yang sedikit. Apakah memang perlu sebanyak itu?”
“Perlu, mamak Datuk”, jawab Dang Tuanku tegas. “Kita sama sekali buta akan kekuatan lawan. Yang akan kita lewati adalah tempat dimana angin pun enggan lewat disana. Mendatangi bukit Tambun Tulang sama saja dengan meloncat ke dalam sumur yang tidak kelihatan dasarnya. Hanya ada satu pilihan buat kita: menang. Karena kalau kita sampai kalah, maka selesai sudah Pagaruyung. Sejarah akan mencatat bahwa Rajo Alam takluk di tangan raja penyamun.
"Saya sangat paham apa yang mamak Datuk maksudkan. Izinkan juga saya untuk berterus terang bahwa tidak pernah terniat dalam hati saya untuk menyerang ranah Sikalawi karena urusan yang sifatnya sangat pribadi. Hutang piutang kami dengan mak uniang Tuanku Indodewa belum sepenuhnya tunai. Bara masa lalu itu belum sepenuhnya padam, tidak bijak kalau dikipasi lagi." 
Keempat tetua itu diam seribu bahasa. Tidak banyak yang tahu bagian gelap sejarah istana Pagaruyung karena kejadian itu disimpan rapat-rapat. Meski demikian mereka yang hidup pada waktu peristiwa itu terjadi tidak akan pernah melupakannya. Kejadian itu hampir memicu perang besar antara Minangkabau dengan Dharmasraya, sampai akhirnya memutuskan hubungan keluarga antara Bundo Kandung dan Bundo Kambang dengan Tuanku Indodewa.
Datuk Makhudum dan Datuk Indomo bicara berbisik-bisik untuk beberapa saat sebelum Datuk Indomo berdeham.
“Rajo Alam, kami dapat menerima penjelasan Rajo Alam. Kami pun mendukung niat Rajo Alam untuk menaklukkan bukit Tambun Tulang. Negeri saya, Saruaso, akan menjadi titik pusat pertahanan dan penyerangan. Saya akan menyediakan semua yang dibutuhkan oleh pasukan penakluk."
Dang Tuanku sudah dapat mengira pernyataan ini akan disampaikan oleh Datuk Indomo. Negeri Saruaso memang paling dekat letaknya dengan bukit Tambun Tulang, jadi sangat wajar kalau dijadikan sebagai titik pusat kekuatan. Selain itu, Datuk Indomo memang bertanggung jawab atas kesejahteraan lahiriah rakyat Minangkabau. 
"Agar semua jernih dan tidak ada salah kesan di belakang hari, apakah dapat saya katakan bahwa selesai bukit Tambun Tulang ditaklukkan, pasukan akan kembali pulang sementara rombongan pengantar tanda putih hati akan terus ke ranah Sikalawi”, lanjt Datuk Indomo. 
Ini sebenarnya tujuan Datuk Indomo. Dia harus memastikan bahwa tidak ada penyerbuan lanjutan ke ranah Sikalawi.
Dang Tuanku mengangguk tegas. "Demikianlah halnya, mak Datuk. Sebagian kecil pasukan akan tetap tinggal, cukup untuk sekadar menjaga keamanan perutusan. Saya serahkan kepada mak Datuk untuk menentukan berapa jumlahnya."
“Saya ada satu pertanyaan, Rajo Alam", kata Datuk Makhudum. "Siapa yang akan menjadi kepala perutusan?”
“Mamak semua tentu paham betapa besar keinginan saya untuk datang menemui mak uniang Tuanku Indodewa. Tetapi kalau saya sendiri yang datang, penduduk kedua negeri akan menafsirkan bahwa Pagaruyung datang untuk menaklukkan ranah Sikalawi. Meskipun saya datang sendirian, tanpa pasukan. Dengan perkenan Tungku Tigo Sajarangan dan Tuan Gadang, saya menunjuk Cinduamato sebagai kepala perutusan. Dia bukan orang asing di ranah Sikalawi. Sudah berulang kali dia mengunjungi mak uniang. Cinduamato yang nanti akan mewakili saya untuk menyerahkan tanda putih hati.”
“Apakah dapat saya katakan bahwa sebagai wakil Rajo Alam, Cinduamato memiliki kuasa untuk memutuskan atas nama andika?", tanya Tuan Gadang,
"Benar, mak Tuan. Untuk itu saya memohon kesediaan dari mamak berempat untuk menunjuk ajari Cinduamato agar tidak salah dalam melangkah dan berkata-kata sehingga tidak mempermalukan istana."
"Menunjuk Tuan Mudo Cinduamato adalah pilihan bijak", ujar Datuk Bandaro Putiah. "Saya mendukung keputusan Rajo Alam."
Datuk Indomo, Datuk Makhudum dan Tuan Gadang juga menyatakan dukungan mereka atas penunjukan Cinduamato sebagai kepala perutusan. Siapa lagi yang paling tepat untuk tugas itu selain Cinduamato?
Dang Tuanku tidak berbohong saat dia mengatakan tidak punya niatan untuk menaklukkan ranah Sikalawi. Yang tidak dia sampaikan adalah maksud lain dengan mengutus adik lelakinya. Sebuah tugas rahasia, hanya Cinduamto seorang sanggup melaksanakan.
______________________________________________________ 
Perguruan Batu Patah dan Perguruan Batang Tabik sama-sama mengaku bahwa mereka adalah pewaris ilmu silat paling murni di Minangkabau. Keduanya pun sama-sama mempunyai bukti yang mendukung untuk itu. Sejarah mencatat bahwa Maharajo Dirajo pertama kali mendarat di Batu Patah dan perkampungan pertama dibangun di daerah Batang Tabik. Entah mana yang benar tetapi yang jelas kedua perguruan itu adalah ukuran dan pusat pendidikan ilmu silat di Minangkabau. Salamek Panjang Gombak yang ternama pun termasuk yang pernah menuntut ilmu di kedua perguruan.
Perguruan Batu Patah dipimpin oleh sang guru besar Inyiak Putiah Hati. Sewaktu muda dia digelari Pandeka Langik karena berasal dari bukit Batu Patah. Saingannya adalah Inyiak Gadang Batuah yang digelari Pandeka Bumi karena berasal dari Batang Tabik yang berada di dataran rendah. Sebelum mengundurkan diri dari urusan keduniawian mereka berdua adalah petarung-petarung pilih tanding yang disegani sampai ke negeri-negeri di luar Minangkabau. Meski tidak diperlihatkan secara jelas tapi kedua petarung itu selalu bersaing memperebutkan gelar paling sakti di Minangkabau. Dan hal itu ditekankan pada semua murid perguruan masing-masing.
Semangat persaingan itu pula yang memicu terjadinya perselisihan kecil di negeri Batang Tajongkek. Masih pagi ketika tiga orang muda menghentikan kuda mereka di depan sebuah warung makan. Ketiganya saling tatap lama sebelum turun dari kuda masing-masing.
“Apakah kalian berdua tersasar? Sepemahamanku kalian berdua tidak pernah melangkah lebih jauh dari pintu bilik kalian”, sapa Jombang Nan Rancak.
“Kau sendiri, apakah kau hanyut, orang sungai? Tak perduli sekeras apa pun usahamu, kau tetap tidak pantas naik kuda. Pantasnya naik rakit", sahut salah satu dari dua pemuda berpakaian biru.
Batang memang berarti sungai. Dua pemuda berpakaian biru itu adalah putra kembar Inyiak Putiah Hati. Bau keributan segera tercium sehingga beberapa orang berlari melaporkan hal ini pada Datuk Marajo Basa, kepala negeri Batang Tajongkek. Ketiga pemuda itu berdiri berhadapan saling melontarkan senyum melecehkan.
“Aku heran melihat kalian kemana-mana selalu berduaan. Apakah kalian ini suami istri?”, ejek Jombang.
“Kau bisa pegang rahasia?", balas kembar kedua. "Aku tidak bisa menahan buang air saat kemarin melintas di batang Tabik. Jangan sampai ayahmu tahu, ya."
“Inilah akibatnya kalau laki-laki selalu berduan dengan sesama laki-laki. Atau jangan-jangan salah satu dari kalian sudah berubah jadi perempuan? Mari sini kuperiksa!"
Jombang menyerang dengan ganas. Si kembar menyambut serangan dengan sama ganasnya. Dalam sekejap mereka sudah terlibat pertarungan keras dan menegangkan. Meski demikian, keduanya tahu membatasi diri agar tidak sampai menghilangkan nyawa lawan. Cedera bisa terjadi, tapi tidak sampai parah. Ketiganya segera saja sudah memainkan jurus-jurus tingkat tinggi perguruan masing-masing.
Kemampuan ketiganya setingkat. Tapi Jombang tidak repot menghadapi kedua lawannya karena setiap kali dia didesak yang satu, yang lain mestilah berada dalam tekanannya. Hawa sakti mulai ikut bermain dalam pertarungan ini. Sabetan hawa panas dan dingin membelah udara, berdesis mengisyaratkan bahaya. Perhatian ketiganya benar-benar terpusat pada pertarungan sehingga tidak menyadari bahwa orang-orang sudah ramai berkerumun disana.
Datuk Marajo Basa bergegas datang ke tempat kejadian. Seorang tua kurus tinggi ikut menemaninya. Orang tua itu menggeleng-geleng melihat siapa yang bertempur. Percuma berteriak karena pada titik ini kata-kata tidak akan bisa melerai mereka.
Tepat saat ketiga pemuda itu siap mengadu tenaga, si orang tua meluncur masuk ke tengah pertempuran sambil menekuk lengannya menahan keenam telapak tangan. Ketiga pemuda itu kaget melihat siapa yang muncul tapi terlambat untuk menarik balik tenaga yang sudah tersalur.
“Kalian benar-benar suka mencari masalah”, gumam si orang tua datar.
Hebat!
Orang tua itu sama sekali tidak membentuk kuda-kuda atau menunjukkan gerakan memainkan hawa sakti. Aliran nafasnya juga tidak berubah, tapi hasilnya bukan main.
Hawa sakti bergolak di udara seakan serangan ketiga anak muda itu diserap sesuatu yang sangat kuat dan dibalikkan seketika. Tiga orang muda itu terseret dan nyaris terhempas karena hawa sakti mereka berbalik menghantam diri sendiri. Si kembar pucat pasi sementara Jombang terengah-engah tapi mereka segera bangkit menghaturkan hormat.
“Salam sejahtera, Tuan Salamek Panjang Gombak”, ucap ketiganya.
Pantas saja. Orang tua kurus tinggi itu ternyata Salamek Panjang Gombak, sang pengawal pribadi keluarga istana Pagaruyung yang disegani bahkan oleh Tuan Gadang sekalipun. Konon dia adalah petarung yang tidak pernah kalah dalam seribu pertarungan.
“Salam sejahtera. Siapa yang memulai semua ini?”
Ketiga pemuda itu bergeming. Salamek Panjang Gombak mau tak mau kagum juga. Anak-anak muda ini memang pendek akal tetapi bukan pengecut yang suka menimpakan kesalahan pada orang lain.
“Dimana rasa segan kalian pada Datuk Marajo Basa dan dunsanak-dunsanak Batang Tajongkek? Berani sekali kalian mengotori negeri orang lain dengan perangai kalian. Aku tidak akan menyuruh kalian minta maaf satu sama lain tetapi kalian harus minta maaf pada Datuk Marajo Basa dan semua yang ada disini.”
Tanpa membantah ketiga pemuda itu segera mendatangi Datuk Marajo Basa dan meminta maaf. Setelahnya mereka melakukan hal yang sama pada orang-orang yang berdiri menonton. Salamek Panjang Gombak mengangguk puas.
“Urusan kalian kuserahkan pada Datuk Marajo Basa”, ujarnya.
“Ah, tidak perlu dipanjangkan”, ujar Datuk Marajo Basa. “Anggap saja ini nakalnya anak muda. Silakan Tuan Salamek yang memutuskan.”
“Kalian beruntung Datuk Marajo Basa sedang bermurah hati”, ujar Salamek Panjang Gombak dingin. “Tapi aku tidak. Kalian bertiga ikut aku ke Pagaruyung.”
Ketiga pemuda itu jelas kaget. Dibawa ke Pagaruyung berarti dihadapkan ke depan Rajo Alam, atau setidaknya pada Dewan Adat. Rasanya mereka tidak melanggar larangan adat. Berkelahi adalah hal biasa buat anak muda dan lagi tidak ada yang sampai terluka.
“Kami tidak melanggar adat…”, ucap Jombang membela diri.
“Kau tahu apa soal adat? Kalau kalian tidak kulihat saat kepalaku menoleh, ayah kalian yang akan kupanggil ke Pagaruyung.”
Salamek Panjang Gombak menghatur hormat pada Datuk Marajo Basa lalu menaiki kudanya. Dia menghentak tali kekang sehingga kudanya langsung melesat. Buru-buru tiga anak muda sial itu meloncat ke punggung kuda masing-masing dan mengejar. Orang-orang tertawa melihat wajah mereka yang ketakutan setengah mati.
Sampai di Pagaruyung ketiganya semakin mengkeret saat melihat Cinduamato turun dari tangga istana bersama seorang pemuda hitam manis. Salamek Panjang Gombak melompat turun dan melangkah naik tanpa memedulikan ketiga tahanannya.
“Salam sejahtera, ayahanda”, sapa si pemuda hitam manis hormat.
“Salam sejahtera, mamak Salamek”, sapa Cinduamato.
“Salam sejahtera. Apakah Dang Tuanku sedang sibuk?”
“Mamak memang sudah ditunggu. Kenapa mereka itu?”
“Tuan Mudo tanyalah sendiri.”
Cinduamato tersenyum jahil lalu melangkah ke arah tiga pesakitan yang sudah turun dari kuda mereka. Ketiganya menunduk ketakutan. Lama tidak ada yang bersuara. Cinduamato menarik nafas dalam, membuat ketiga pemuda itu semakin kuncup.
“Siapa yang menang kali ini?”, tanya Cinduamato tiba-tiba.
Serentak ketiganya mengangkat kepala dan menyeringai lebar. Cinduamato menarik pelan kuping Jombang.
“Bagaimana kalau kau main-main dengan Anjuang sebentar?”, tantang Cinduamato.
Anjuang Pelalawan, putra Salamek Panjang Gombak, tertawa. Dia sastrawan, bukan petarung. Darah petarung ayahnya sama sekali tidak turun pada dirinya melainkan pada adik perempuannya. Anjuang lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis sehingga Dang Tuanku mengangkatnya sebagai penanggung jawab pemeliharaan kitab-kitab istana.
“Bagaimana kalau kalian bertiga maju sekaligus?”, tantang Anjuang. “Terlalu mudah kalau kau maju sendirian.”
“Laki-laki itu membawa pedang, kawan, bukan kitab”, ejek salah satu kembar.
“Begitukah? Kalau begitu mari kita uji siapa yang lebih lelaki diantara aku dan kalian bertiga. Kalian diam sementara aku membacakan tiga halaman dari kitab ini. Kalau kalian masih hidup selesai aku membaca, silakan kalian serang aku dengan tiga jurus. Bagaimana, berani?", tantang Anjuang sambil mengeluarkan sebuat kitab besar lagi tebal dari buntalan yang disandangnya.
Cinduamato tergelak sementara ketiga pemuda lain mencibir.
“Jombang, bagaimana kabar ayahmu?”
“Ayahanda sehat sentausa, Tuan Mudo”, jawab Jombang.
“Gilang, Palito, bagaimana kabar ayah kalian?”
“Ayahanda pun sehat sentausa, Tuan Mudo”, jawab Gilang.
Sulit membedakan si kembar tetapi Gilang selalu mengenakan lilitan kain sutra di lengan kanannya sementara Palito di lengan kiri. Palito seorang kidal sehingga perpaduan kedua bersaudara ini sangat istimewa.
Mereka berempat berjalan menuju bagian samping istana tempat para prajurit berlatih di sore hari. Istana Pagaruyung didirikan di atas hamparan luas bukit Gombak. Dari tempat itu orang bisa melihat negeri-negeri yang ada di sekelilingnya. Untuk mencapainya orang hanya bisa melewati satu-satunya jalan yang dibuat dari negeri Pinang Masak di kaki bukit Gombak. Istana ini memang benteng yang sulit untuk ditembus.
“Rupanya kalian tidak langsung pulang setelah pertemuan sebulan yang lalu”, kata Cinduamato. “Berarti kalian belum menyampaikan keputusan kami pada ayah kalian.”
“Sudah kami sampaikan melalui kawan-kawan, Tuan Mudo”, jawab Gilang. “Kami berdua tidak kembali ke Batu Patah karena dalam pekan ini ayahanda akan mengirim lima puluh orang murid perguruan untuk bergabung dalam pasukan istana.”
“Batang Tabik juga akan mengirimkan lima puluh orang, Tuan Mudo”, sambung Jombang tak mau kalah. “Dalam pekan ini.”
“Dimana kalian ditangkap ayahku?”, tanya Anjuang tiba-tiba.
“Aku tidak ditangkap”, bantah Jombang. “Buktinya aku tidak diadili.”
“Sedemikan bebalnya kah otakmu sampai kau tidak paham bahwa Tuan Mudo sedang menanyaimu? Bisa kunilai perbandingan otak dan ototmu adalah satu banding seribu. Untuk setiap seribu hal yang kau lakukan, hanya satu yang bisa dianggap berguna.”
Cinduamato, Gilang dan Palito terpingkal-pingkal mendengarnya.
“Kalian juga sama, kembar.”
Giliran Jombang yang terpingkal-pingkal sementara si kembar melotot.
“Kurasa tidak bijak mengumpulkan kalian berempat disini”, kata Cinduamato menengahi. “Mungkin kalian bertiga bisa melakukan sesuatu untukku sementara kita menunggu titah Dang Tuanku untuk berangkat.”
“Apa yang bisa kami lakukan untuk Tuan Mudo?”, tanya Gilang penuh ketertarikan.
“Mamak Salamek Panjang Gombak ada di Batang Tajongkek karena kami mendengar kabar kurang sedap akibat ulah Kelompok Tujuh. Mereka kembali menyebar kabar palsu yang meresahkan penduduk negeri. Empat Dubalang sudah berangkat sejak dua pekan lalu tapi tambahan tenaga muda bersemangat tentu akan sangat membantu.”
“Kami siap!”, jawab ketiga pemuda itu serentak.
“Jombang, kau pergi ke timur sedang kalian, kembar, pergilah ke barat. Kalian tentu akan mendengar kalau pasukan sudah diberangkatkan. Saat itu kita bertemu di Agam.”
Ketiga petarung muda itu menghormat lalu berjalan ke arah kuda mereka.
“Jangan anggap pemeriksaan kalian sudah selesai”, ujar Anjuang.
Ketiga pemuda petarung itu mengacungkan kepalannya ke arah Anjuang. Cinduamato dan Anjuang mengikuti dengan mata sampai ketiga pemuda itu lenyap di kejauhan. Lalu Cinduamato menatap Anjuang.
“Sudahkah kau temukan apa yang kusuruh cari?”, tanyanya.
“Saya tidak menemukannya di kitab-kitab yang ada di ruangan besar. Mungkin yang Tuan Mudo maksudkan umurnya jauh lebih tua lagi.”
“Maksudmu, kita harus membongkar timbunan kitab-kitab lama?”
“Bukan timbunan, Tuan Mudo”, jawab Anjuang geli. “Saya jamin semua kitab yang kita miliki terawat dengan baik. Hanya saja sebagian yang sudah terlalu tua tidak bisa ditempatkan di ruang besar karena akan semakin rusak. Saya akan mulai mencari disana.”
“Kau carilah. Berapa lama waktu yang kau butuhkan?”
“Saya tidak bisa menjanjikan mengingat Tuan Mudo meminta sesuatu yang sangat khusus.”
“Kita tidak punya banyak waktu, Anjuang. Kuharap sebelum pasukan diberangkatkan, aku sudah mendapat jawaban.”
“Akan saya usahakan, Tuan Mudo.”
 ______________________________________________

Tidak ada pencuri yang lebih hebat daripada Magek Tonjang di Minangkabau ini. Bukan karena dia selalu memberitahu calon korbannya sebelum beraksi tetapi karena tidak pernah bisa dibuktikan bahwa dia yang melakukan pencurian itu. Jelas tidak mungkin menangkap seseorang hanya berdasarkan selembar kertas bertuliskan: Aku akan mengambil piala emas milikmu malam ini. Rumah besarnya di luhak Agam selalu terbuka untuk dikunjungi tetapi orang tidak pernah melihat satu benda pun yang bukan milik Magek Tonjang disana. Konon dia menyimpan semua hasil curiannya di ruang bawah tanah rumahnya tetapi Salamek Panjang Gombak yang pernah dibawa ke ruang bawah tanah itu hanya menemukan sebuah ruangan luas tanpa sekat, tanpa perabotan.
  
Aku membaca sekali lagi pesan di atas kertas yang ditemukan di depan pintu kamar Rangkayo Bakaluang Ameh. Induk semangku menemukan kertas itu saat pertama kali keluar dari kamarnya di pagi hari.
Aku ingin meminjam keris titipan Datuk Makhudum malam ini.
Singkat tulisannya, tapi membuat gempar seisi rumah. Semalam aku sempat merasakan kehadiran hawa gaib halus tapi aku tidak menduga kalau itu adalah hawa gaib si raja pencuri. Memang selama ini induk semangku biasa merapalkan mantra pelindung untuk menjaga rumahnya. Antara geli dan kasihan aku melihatnya kemana-mana membawa peti berisi keris titipan itu. Setiap beberapa waktu dia akan membuka tutupnya untuk memastikan keris itu masih ada di dalam peti. Sejak kertas itu ditemukan, tidak ada seorang pun yang melakukan tugasnya selain duduk berjaga di sekeliling rumah.
Kami bertujuh duduk di halaman depan rumah, di bawah rindangnya pohon mangga untuk membicarakan masalah ini. 
“Mungkin sebaiknya dipinjamkan saja”, kata Busra Kalek. “Nanti juga dikembalikan. Dulu Tan Parmato juga begitu. Cermin hiasnya yang hilang tahu-tahu sudah ada lagi di tempatnya tiga hari kemudian.”
“Diam kau!”, bentak Tuo Balam. “Kalau sampai keris itu hilang, kepalamu yang jadi gantinya. Itu keris pusaka Datuk Makhudum.”
“Kenapa keris itu ada di tangan Rangkayo Tuan?”, tanya Madi Gapuak.
“Keris ini dipinjamkan pada Rangkayo Tuan untuk dibuat tiruannya.”
“Tiruan untuk apa?”
“Untuk mengelabui Magek Tonjang, pandir! Sudahlah, jangan bicara lagi.”
Sapar Cimuak senang sekali karena kemudian para pengawal diperintahkan berjaga di dalam rumah gadang. Keluarga induk semangku duduk mengelilingi peti itu sehingga dia bisa diam-diam melirik Rangkayo Gadih. Si mata besar itu baru berhenti setelah Bujang Kirai menendang kakinya. Meski demikian, sesekali dia mencuri-curi pandang ke arah Rangkayo Gadih yang tampak prihatin melihat ayahnya.
Seiring dengan berlalunya waktu, aku merasakan pengaruh hawa gaib semakin kuat di rumah ini. Semakin malam semakin terasa. Orang yang mengirimkan hawa ini pastilah tinggi ilmunya karena tepat tengah malam satu persatu orang-orang yang berjaga jatuh tertidur. Pelita yang menerangi ruangan satu persatu padam, tinggal yang paling kecil yang masih menyala. Aku bisa saja memutuskan pengaruh hawa gaib ini tetapi kalau begitu aku tidak bisa menangkap pelakunya.
Aku tidak mau kelihatan pandir karena tinggal aku sendiri yang masih bangun. Jadi kusembunyikan wajahku di sela lutut seolah aku juga tidur. Menjelang tengah malam, seseorang naik ke atas rumah gadang. Kudengar dendang lirih dari mulutnya, untaian mantra untuk memastikan bahwa seisi rumah sudah jatuh terlelap. Dengan langkah lebar dan mantap dia memasuki rumah. Dari cermin kecil yang kupegang aku bisa melihat pantulan sosoknya. Yang namanya Magek Tonjang ternyata tampangnya sangat ramah. Usianya mungkin akhir tiga puluhan. Gerakannya tanpa ragu-ragu ketika mengambil peti di pelukan induk semangku.
“Mau dibawa kemana?”, tanyaku tanpa mengangkat wajah.
Dia terperanjat bagai disengat kalajengking. Reaksi pertamanya adalah tidak percaya kalau masih ada yang bangun di tempat itu. Sambil tersenyum orang itu menyebarkan bubuk putih yang sudah dimantrai. Bau harum menyebar.
“Sudah malam, buyung. Tidurlah.”
Suaranya lembut dan enak didengar. Agar dia tidak terlalu kecewa aku merentangkan kedua tangan sambil menguap. Kemudian aku bangkit dan berjalan ke arahnya. Si raja pencuri melongo sehingga tidak melawan ketika aku mengambil peti itu. Kemudian aku kembali ke tempatku semula, bersandar dan memejamkan mata sambil memeluk peti.
Aku yakin dia masih bingung karena tidak juga bergerak. Akhirnya kuputuskan untuk menyapanya. “Kenapa tuan masih disini? Tidak pantas bertandang ke rumah orang selarut ini.”
Magek Tonjang seperti orang baru bangun dari mimpi. Wajahnya merah padam. Dia melangkah mendekatiku, berhenti sejarak tiga langkah saja. Tangannya bertolak pinggang, tatapannya lurus setentang mataku. Dia berusaha menekanku dengan hawa sakti. Kumaafkan dia untuk usaha yang sia-sia itu.
“Ilmumu boleh juga, buyung”, desisnya saat melihat aku tidak terpengaruh. “Tapi aku tidak akan kembali berhampa tangan. Sebaiknya segera kau serahkan peti itu agar tidak ada yang terluka.”
Aku sudah kenyang mendengar orang bicara seperti itu. Peti kupeluk lebih erat lalu aku meringkuk. Kudengar Magek Tonjang menggeram. “Belum pernah ada yang berani menyepelekanku! Kamu yang meminta, buyung. Jangan salahkan aku.”
Kakinya terayun deras mengincar pinggangku. Orang ini benar-benar pencuri sejati. Dia tidak bermaksud membunuh sehingga serangannya ditujukan pada bagian tubuh yang tidak berbahaya, meski cukup kuat untuk melumpuhkan. Sebagai balasan atas sikapnya, aku memalangkan peti itu dibagian yang akan ditendang. Kakinya tidak akan patah, paling bengkak terkilir.
Duk!
Magek Tonjang sampai menjerit. Dalam hitungan detik kaki itu langsung bengkak memar. Caci maki berhamburan dari mulutnya. Bukan main geliku melihat itu.
“Kalera! Berani kamu main-main denganku! Makan pencarianmu!”
Orang itu meloncat setengah depa lalu menjatuhkan tubuh sambil sikunya mengarah keningku. Kali ini dia ingin membunuhku. Tapi aku ingin tahu seperti apa reaksinya kalau sikunya juga kukerjai. Sekali lagi terdengar bunyi duk dan jerit bercampur cacian dari mulutnya. Kata-katanya jauh lebih kotor daripada jamban. Dia terhuyung kesakitan dan akhirnya terduduk. Aku yakin sambungan sikunya lepas karena beradu dengan sisi peti.
Magek Tonjang kini mengawasku sambil mengurut-urut sikunya. Sekarang dia kelihatan lebih kepada heran daripada marah. Ini baru petarung pintar. Dia tidak percaya pada kebetulan yang terjadi dua kali berturut-turut karena itu tidak menyerangku lagi.
“Siapa kau sebenarnya?”, tanyanya lirih.
“Aku cuma orang upahan Rangkayo Tuan. Apa hutang induk semangku pada tuan sampai tuan tega menyusahkannya?”
Magek Tonjang diam sesaat. “Kau tahu siapa aku, buyung?”
Aku menyeringai. ”Kalau tuan bukan keluarga istana Pagaruyung, nama tuan tidak penting buatku. Kalau tuan dari keluarga istana Pagaruyung, tentu penduduk negeri ini sudah tahu siapa tuan tanpa perlu menyebutkan nama.”
Magek Tonjang terbahak. “Betul juga. Siapa namamu, buyung?”
“Namaku Alang.”
“Untuk kau ketahui, aku orang yang mengirimkan surat pada induk semangmu."
“Kalau begitu tuan bukan keluarga istana Pagaruyung, melainkan raja sekalian pencuri.”
“Aku bukan raja sekalian pencuri!”, tukasnya marah, nyata sekali kalau dia tersinggung. “Aku raja pencuri! Nyata perbedaannya, paham kau? Dengar, buyung. Aku cuma bermaksud meminjam keris itu sebentar dan setelah selesai akan ku kembalikan.”
“Kenapa tidak tuan katakan saja pada induk semangku?”
Dia kelihatan putus asa, seolah dia habis akal untuk membuatku mengerti bahwa dia adalah pencuri. Magek Tonjang mau menggaruk kepalanya tapi dia lupa kalau tangan kanannya sudah lumpuh. Kembali dia menjerit kesakitan.
Kudekati dia. “Tahan sedikit.”
Wajahnya menegang saat sambungan tangannya kukembalikan. Sakit memang tapi karena cepat sekali, dia tidak sempat menjerit. Anehnya dia malah tertawa. Aku pun tertawa melihat selangkangan celana orang itu basah. Air seninya sampai keluar tanpa sadar. Kemudian kubantu meluruskan kakinya.
“Terima kasih”, katanya tulus.
"Beginilah”, kataku. “Kalau tuan meminjam langsung pada induk semangku, mungkin akan diberikan. Tidak perlu mengendap-endap seperti ini.”
“Buyung, bagian mana dari perkataanku yang tidak kau pahami? Aku ini raja pencuri. Aku tidak pernah meminjam tapi mengambil tanpa sepengetahuan pemiliknya. Kalau aku suka akan kusimpan tapi kalau tidak, akan kukembalikan. Aku tahu kalau keris itu milik Datuk Makhudum, aku tidak gila mau berurusan dengannya. Karena itu aku hanya berniat meminjam sebentar. Bisakah kamu berikan padaku?”
“Untuk apa?”
“Akan kubuat tiruannya.”
“Kenapa bukan tiruan yang sudah jadi saja tuan pinjam, lalu tuan buat tiruannya?”
Magek Jombang melongo lalu tertawa. “Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa, buyung. Raja pencuri tidak pernah mengambil barang tiruan. Habis nama besarku kalau orang-orang tahu bahwa aku bisa ditipu dengan barang tiruan.”
“Lebih baik habis nama besar daripada kaki terkilir dan tangan lumpuh.”
Dia terdiam cukup lama lalu menghela nafas. “Sebenarnya, nama besarku sudah habis malam ini. Bukan hanya aku tidak mendapat barang yang kuincar, celanaku pun basah karena terkena air kencingku sendiri. Mungkin ini adalah pertanda kalau aku sudah harus berhenti menjadi raja pencuri.
“Buyung, aku benar-benar kagum padamu. Entah siapa gurumu tetapi baru kau yang bisa membuatku tak berkutik. Salamek Panjang Gombak yang katanya sakti pun masih bisa kutipu. Hm… mungkin Cinduamato agak sulit. Aku pernah berpikir untuk mengujinya tapi sekarang sudah terlambat. Masih bisakah aku meminta satu hal padamu?”
“Dari tadi tuan meminta terus. Apa yang tuan kehendaki sekarang?”
“Aku ingin melihat bentuk keris pusaka Datuk Makhudum.”
Aku kasihan melihatnya. Jadi kubuka tutup peti itu. Bukan karena aku percaya bahwa dia jujur, tetapi kalau dia mau macam-macam, dia akan pulang dengan siku lepas dari sambungannya. 
Harus kuakui bahwa keris pusaka Datuk Makhudum memang indah. Seolah ada cahaya yang menyelimutinya. Ukiran rumit yang dipahatkan di sarungnya menjadi bukti bahwa pusaka itu adalah hasil kerja tukang ternama. Deretan intan pada pangkal sarung membentuk lambang bulan sabit. Batu-batu mulia inilah yang memantulkan cahaya lilin sehingga membuat keris menjadi bercahaya.
“Benar-benar indah…”, bisik Magek Tonjang.
Dia melongo ketika aku mengeluarkan keris itu dan mengulurkannya.
“A-apa maksudmu…?”
“Peganglah. Puaskanlah keinginan tuan untuk melihatnya.”
Gemetar tangan Magek Tonjang menyambut keris itu. Dielusnya permukaan sarung dan gagang keris sebelum perlahan-lahan ditariknya pusaka itu. Bilah keris lebih mengesankan lagi. Perak murni yang menjadi bahannya memantulkan cahaya pelita dengan sempurna sehingga kilau pelangi terbentuk di setiap puncak lekukan.
“Terima kasih”, katanya ketika mengembalikan pusaka itu. “Kalau kelak kau ada waktu, bertandanglah ke rumahku, buyung. Akan kutunjukkan benda-benda mustika yang tidak ada duanya di negeri ini. Kamu mungkin tidak percaya, tapi aku mempunyai tiruan Mahkota Agung.”
Aku kaget bukan main. Mahkota Agung adalah pusaka utama Sang Sapurba dan tidak pernah meninggalkan tempatnya, pulau tempat keluargaku berdiam. Bagaimana caranya orang ini bisa mempunyai tiruannya?
“Mahkota Agung? Bukankah mustika itu cuma ada dalam hikayat?”, pancingku
“Aku pun awalnya tidak percaya sampai kulihat dengan mata kepalaku sendiri.”
“Milik siapakah yang tuan pinjam?”
“Pinjam? Aku tidak meminjam tapi memilikinya, buyung.”
“Maksudku, milik siapakah mahkota asli yang tuan pinjam untuk dibuat tiruannya?”
Magek Tonjang menyeringai. “Kau ternyata cerdik, buyung. Biar kuberitahukan padamu sekarang kalau sebenarnya yang aku pinjam juga tiruan. Satu-satunya tiruan yang aku curi selama sepak terjangku. Barang yang paling susah aku ambil. Aku terpaksa melanggar dua aturanku sendiri demi benda itu.”
Magek Tonjang tersenyum penuh rahasia sehingga aku geli melihatnya. Dia mendekatkan kepalanya, seolah hendak membisikkan rahasia besar. Padahal, dia berteriak-teriak sekalipun tidak akan ada yang terbangun sampai mantra penidur ditarik.
“Tiruan mahkota itu disimpan di istana Pagaruyung”, bisik Magek Tonjang agar kedengaran semakin misterius. “Disimpan di dalam peti di bawah tempat tidur Dang Tuanku. Kau tahu, tidak ada mantra gaib yang mempan pada Dang Tuanku. Kau boleh menyuruh raja segala jin membantu menerobos Bukit Gombak tapi semua akan mentah saat mendekati istana. Hawa gaib pelindung istana sama sekali tidak bisa ditembus. Jadi yang kulakukan adalah pertama, aku mencurinya di siang hari ketika Dang Tuanku tidak sedang berada dalam kamarnya. Kedua, yang ini benar-benar memalukan… aku tidak mengirimkan pesan terlebih dahulu sebelum mengambilnya. Benar-benar seperti pencuri kampungan.”
Kami tertawa terbahak-bahak. Magek Tonjang karena merasa geli pada dirinya, aku karena geli melihat ekspresi wajah lelaki itu.
Rangkayo Tuan bergerak dari tidurnya. Induk semangku benar-benar terlelap dalam mimpi, terlihat dari tarikan wajahnya yang damai.
“Aku harus pergi sekarang. Jangan lupa, buyung. Kalau kau datang ke luhak Agam, kau harus singgah di rumahku.”
“Bisakah tuan kembalikan peti ini pada induk semangku?”
Magek Jombang tersenyum lebar. “Kebesaranku benar-benar habis malam ini.”
Peti diambilnya dan diletakkan kembali dalam pelukan Rangkayo Tuan. Dia bahkan masih sempat melipatkan tangan induk semangku sebelum melangkah keluar. Di pintu dia berbalik dan menghormat padaku lalu lenyap dalam kegelapan.
Besok paginya Rangkayo Bakaluang Ameh membingkai kertas berisi pesan itu dan memajangnya di atas pintu agar semua orang tahu bahwa dia satu-satunya orang yang selamat dari tangan si raja pencuri.
Selang dua pekan setelah kejadian itu aku dipanggil menghadap Rangkayo Tuan. Rupanya Dang Tuanku sudah menitahkan Cinduamato untuk berangkat mengantar tanda putih hati ke ranah Sikalawi. Sesuai janjiku, aku langsung meminta izin untuk berangkat hari itu juga.
Induk semangku memerintahkan para pembantu untuk mempersiapkan keberangkatanku. Dia memberiku seekor kuda paling bagus dan sebilah pedang buatan Melaka. Kudanya aku terima sedangkan pedangnya aku tolak dengan sopan karena aku tidak pernah membawa senjata. Rangkayo Puti, istri induk semangku, memberikan beberapa pasang pakaian tapi aku cuma mengambil yang berwarna hitam karena aku tidak cocok mengenakan warna lain. Semua diam ketika Rangkayo Gadih memberiku sehelai destar penutup kepala berwarna hitam.
“Terima kasih”, kataku.
“Semoga kau selamat”, katanya lalu masuk kembali ke kamarnya.
Aku tahu dia menangis, terlihat dari matanya yang merah dan basah. Rangkayo Tuan menepuk bahuku.
“Kudoakan kau selamat disana, Alang.”
“Terima kasih, Rangkayo. Budi baik Rangkayo tidak akan pernah saya lupakan.”
Aku kaget saat tiba-tiba dia memelukku. “Kalau kau bisa kembali dengan selamat”, bisiknya. “Kita akan bicarakan kelanjutan hubunganmu dengan Nilam.”
Ini lebih mengejutkan lagi. Tapi aku sedang tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak berhubungan dengan tugasku. Kusalami teman-temanku satu persatu. Mereka tidak ikut karena Cinduamato memerintahkan agar ada yang tetap tinggal untuk menjaga keamanan dalam negeri.
“Kau jagalah dirimu baik-baik, kawan”, bisik Bujang Kirai.
“Kau juga. Jaga induk semang kita, kawan. Sampai berjumpa lagi.”
Aku menghormat sekali lalu pergi.

Bersambung ke Bagian 5.

keterangan istilah:
dunsanak = sanak, lihat Bagian 1
dubalang = hulubalang